Pertama-tama saya mau minta maaf sama pasangan saya, saya sudah sangat sering membuatnya jengkel, karena baginya saya ini bebal, tegar tengkuk, ngeyel dsb. Berkali-kali saya bertanya dalam hati, salah saya dimana, menyampaikan reason atas apa yang dilakukan kan wajar, semua pasti ada latar belakangnya.
Sekali lagi saya mohon maaf untuk pasangan saya, saya tidak ingin bermusuhan, saya hanya ingin didengar.
Tapi ternyata Tuhan memang baik pada saya, Dia selalu memberikan kesempatan pada saya untuk menyadari, Tuhan lebih tahu siapa dan bagaimana pribadi saya ini terbentuk, Dia lebih mengenal saya daripada saya mengenal diri saya sendiri.
Dia ingin saya hidup dijalan yang benar. Dia kenalkan saya pada sosok yang memang sudah terbiasa hidup benar, tanpa excuses, just correct no wrong. Itu kenapa saya dihadapkan pada situasi seperti ini, nampak seperti seseorang yang kehilangan arah, dia seperti berdiri tanpa pegangan dan melangkah tanpa arah.
Saya diingatkan, ditegur dan diberi refleksi² sederhana, supaya saya lebih memahami. Dia lebih mengenal saya bagaimana saya selalu diajak berpikir. Walaupun terkadang karena ketidakfokusan, selalu saja kembali kehilangan arah.
Baca juga: Definisi Yesus Kristus Adalah Senjata
Jadi kali ini, melalui refleksi yang akan saya bagikan ini, saya seperti ditegur lagi, bahwa saya itu salah, saya itu harus ikut jalan yang benar. Pasanganmu itu benar melakukan itu semua padamu.
Walaupun ada sisi ego di sana, tetapi jika mau hidup menjadi keluarga kudus itu harus berada di jalur yang benar, tidak abu-abu dan tidak menyimpang, jadi kenapa pasanganmu begitu strange untuk meluruskan saya.
"Yesus yang Mengutuk Pohon Ara"
Pasti tahu lah ya perumpamaan yang Yesus utarakan soal pohon ara. Ini seperti tertulis dalam Injil, Markus 11: 13 - 21 dan Matius 21: 19 - 21.
Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun. Kata-Nya pada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi untuk selama-lamanya." Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. (Matius 21: 19)
Yesus menjawab mereka, Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Hal itu akan terjadi. (Matius 21: 21)
Serupa dengan apa yang tertulis dalam Injil Matius, dalam Markus pun tercatat demikian.
Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. (Markus 11: 13)
Maka kata-Nya kepada pohon itu: "Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!" Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya. (Markus 11: 14)
Dari dua Injil di atas, ada kesamaan bagaimana Yesus mengutuki pohon ara. Di sana tertulis 'sebab memang bukan musim buah ara'. Jika dibaca mentah, terkesan bahwa Yesus koq menjudge sesuatu yang belum waktunya, seperti koq ya tidak adil.
Terkadang saya sering dihadapkan pada situasi ini oleh pasangan saya. Pasangan saya sering menjudge lebih dulu atas apa yang saya lakukan, memang ada yang pas saya lakukan salah, ada yang pas saya sudah lakukan benar, ada juga yang saya ini adalah imbasnya tapi disalahkan. Mendapati situasi seperti itu saya sering berontak, kesal, marah, emosi, koq ya tidak adil.
Ternyata dari refleksi di atas itu saya seperti ditunjukan, ini lho yang Tuhan Yesus maksudkan, pasanganmu itu tidaklah jahat, pasangan mu itu bukan tidak adil.
Sama seperti Yesus, Yesus bukannya tidak adil. Tetapi kamu harus tahu apa maksud dari itu semua. Coba simak lebih lanjut apa maksud Yesus sebenarnya 'mengutuki pohon ara' itu.
Jadi ada hal yang perlu diketahui soal sifat sesungguhnya dari pohon ara. Yesus maha mengetahui apa yang tersembunyi dan yang kelihatan, baik manusia atau semua makluk hidup lainnya, Dia tahu semuanya.
Pohon ara itu tumbuh di Israel biasanya memunculkan kuncup buah awal (yang bisa dimakan). Kuncup buah ini tumbuh bersamaan dengan daun-daun muda. Jadi logikanya ketika ada pohon ara tumbuh lebat dengan daun-daun mudanya, maka seharusnya ada kuncup² buah awal di sana. Rimbun daun itu sebenarnya adalah tanda alami bahwa pasti akan ada buah di sana.
Sedangkan yang terjadi ketika Yesus menemui pohon ara itu, pohon itu memberikan ciri daun-daun yang rimbun, namun ketika didapati dari dekat tidak ada buahnya.
Daun di sini diumpamakan sebagai 'janji' untuk pohon itu memiliki buah.
Masalah pada pohon ara itu bukanlah soal berbuah atau tidak pada musim panennya tapi kepada penipuan. Pohon itu menampilkan look yang rimbun dengan daun-daun muda, tapi ternyata tidak ada buahnya di sana, (bakal buah yang bisa dikonsumsi). Menampilkan seolah-olah subur, bertumbuh.
Pada peristiwa itu Yesus bukan mengutuki tanaman, bukan, namun itu memberikan perumpamaan yang nyata kenyataan spiritual masyarakat Israel kala itu. Pohon itu merupakan cerminan masyarakat yang terlihat sangat religuus, namun kosong di dalamnya.
Jika direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari kita ini sering menampilkan sesuatu atau look yang nampak baik, benar, agamis, rohaniah, hal-hal yang orang liat sekilas pastinya baik, tetapi setelah didekati, dikenali ternyata ada kekosongan atau kehampaan.
Dalam diri saya sendiri ini merefleksikan apa yang terjadi dalam keluarga saya, nampak harmonis, baik² saja, utuh, ayah ibu dan anak, tetapi kenyataannya setelah didekati nampak kekosongan yang, dimana diantara anggota keluarga tidak ada komunikasi sama sekali, masing² berbicara hanya seperlunya dan tidak ada kesatuan antara anggota keluarga. Meski tinggal satu atap tetapi relasi di dalamnya seperti penghuni kos-kosan.
Inilah yang pasangan saya lihat, ini pula yang tercermin seperti kisah perumpamaan pohon ara ini.
Begitupun yang pasangan lihat dari diri saya, saya seperti menampilkan sesuatu yang nampak baik² saja, sebetulnya rapuh di dalam dan tidak punya arah tujuan.
Seperti yang tadi disampaikan di atas, daun-daun yang nampak rimbun sebenarnya adalah sebuah janji untuk menghasilkan buah.
Sama seperti saya, keluarga saya, yang ditampilkan dari luar itu adalah sebuah keharmonisan tapi nyatanya kosong, semua keluarga itu janjinya adalah menciptakan keluarga kudus, pribadi saya menampilkan seseorang yang harusnya sudah mapan, matang secara mental dan spiritual, tapi ternyata setelah didekati ada kehampaan dan kerapuhan, bahkan tak tahu arah.
Di sini perumpamaan Yesus itu sangat keras untuk mengingatkan agar kembali kepada kodrat alami, bertumbuh, berkembang, dan berbuah.
Sebuah refleksi yang sangat² menohok sekali. Saya sengaja menuliskannya di sini sebagai refleksi karena saya menyadari kebodohan dan kelemahan saya jika tidak mencatatnya di sini.
Semoga saya bisa segera berbenah, memperbaiki diri di sisa waktu yang ara, agar lekas berrumbuh, berkembang dan berbuah.
Teruntuk pasangan saya, saya minta maaf, saya sadar saya salah, Yesus telah menegur saya melalui kamu, bahkan gak cuma itu melalui sharing dan sharing media sosial saya kembali disadarkan soal ini. Saya minta maaf, saya berharap kamu bisa memaafkan saya dan mendukung saya untuk jadi sesuai porsinya, menjadi seorang laki-laki dan kepala keluarga yang sesuai kehendak Yesus Kristus.
Ya Yesus, terima kasih atas kebaikanmu, terima kasih karena terus menyertai dalam kehidupan saya. Tuntun saya dan jadikan saya orang yang tidak bebal dan tidak tegar tengkuk, agar bisa dibentuk seturut kehendak-Mu. Amin. -cpr
#onedayonepost
#refleksi
#iman
#pohonara

0 komentar: