Jumat, 15 Mei 2026

Istilah Armageddon, Asal-usulnya

Sering kita mendengar kata 'armagedon', biasanya kata ini digunakan untuk merujuk pada hari kiamat. Oh iya, ada juga film dengan menggunakan kata ini sebagai judulnya. 

Hari ini bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Yesus ke Surga, ketika firman Allah disebutkan sebuah kata yang sama, 'armageddon', karena berkenan dengan janji Yesus Kristus akan kedatangannya kedua kalinya nanti. 

Sebenarnya dari mana sih kata armageddon ini? 

Ilustrasi perang akhir jaman disiapkan by Gemini

Jadi dari yang saya ketahui ketika mencari kisah² apokaliptik religius, saya menemukan asal-usul kata armagedon ini berasal. 

Ternyata kata armageddon ini berasal dari bahasa Ibrani, "Har Megiddo", yang berarti Gunung Megiddo. 

Lalu apakah Gunung Megiddo itu nyata atau hanya hayalan, fiksi, imajinasi seperti kisah dongeng saduran yang dinyatakan sebagai wahyu dari langit? 

Tentunya tidak ya, dalam Kekristenan hampir mayoritas bisa dibuktikan dengan fakta sejarah, atau setidaknya itu ada nyata di dunia ini. Dan berasal dari sumber primer, bukan main asal klaim, yang mengaku-aku dari jazirah Arab tapi mengaku-aku apa yang ada di tanah orang Ibrani. 

Megiddo adalah sebuah lembah di Israel utara yang secara historis menjadi lokasi pertempuran besar di masa purbakala, seperti pertempuran tahun 609 SM yang melibatkan Raja Yosia.

Saat ini daerah Megiddo masih ada namanya, dikenal dengan nama daerah Tel Megiddo atau Megiddo, merupakan lembah di Israel di dekat kota modern Megiddo. Tempat ini punya terjemahan dalam bahasa Arab yaitu Tell al-Mutesellim. 

Di lembah Megiddo ini ditemukan 26 reruntuhan kota kuno di depan pintu masuk Gunung Karmel. Dahulu tempat ini merupakan jalur rute perdagangan yang menghubungkan Mesir dan Siria. Situs ini telah berdiri sejak 7000 SM sampai 500 SM.

Bukti lain yang menyebutkan bahwa tempat ini nyata sudah ada sejak jaman kuno, adalah dari catatan Mesir kuno dimana salah satu Raja Mesir atau Fir'aun Thutmose III mengadakan perang ke kota Megiddo tahun 1478 SM. Informasi ini dideskripsikan secara detail pada tulisan hieroglyph yang ditemukan di sebuah kuil di Mesir. 

Saat ini di jaman modern, Megiddo merupakan persimpangan jalan utama yang menghubungkan Israel pusat dengan Galilea dan wilayah bagian utara. 


Sejak jaman kuno hingga modern, Megiddo memang kerap jadi tempat berperang, mungkin jika di babat Hindu, tanah ini adalah medan Kurusetra lokasi perang antara Pandawa dan Korawa. 

Berikut ini beberapa perang yang pernah terjadi di Megiddo ini:
⚔️ Abad ke-15 SM : Peperangan antara pasukan Firaun Mesir, yaitu Thutmose III dengan Rakyat Kanaan yang dipimpin oleh penguasa Megiddo dan Kadesh. 

⚔️ Tahun 609 SM : Peperangan antara Firaun Nekho dari Kerajaan Mesir dengan Kerajaan Yehuda, di mana raja Yosia terluka dan kemudian wafat.

⚔️ Tahun 1918 : Peperangan selama Perang Dunia I antara sekutu, dipimpin oleh Jenderal Edmund Henry Hynman Allenby, dengan pasukan Ottoman. 


Di daerah Megiddo ini ditemukan gereja kuno saat dilakukan penggalia pada tahun 2005, Arkeolog Israel, Yotam Tepper, dari Universitas Tel Aviv menemukan reruntuhan gereja ini yang diyakini berasal dari abad ke-3, ketika Kekristenan masih disiksa oleh Kekaisaran Romawi. 

Di reruntuhun  gereja kuno ini terdapat "Mosaik" berukuran kira-kira 54 meter persegi dengan bahasa Yunani yang menjelaskan status bahwa gereja itu berkonsentrasi pada Yesus Kristus.


Kita kembali lagi ke Armageddon tadi. Kata ini diambil dari bahasa Ibrani. Alkitab dalam Kitab Wahyu yang ditulis oleh Rasul Yohanes yang adalah murid Yesus, menyebutkan pada nubuatan apokaliptik ini bahwa pada akhir jaman akan ada perang besar antara kekuatan surgawi dengan kekuatan antikristus yang didukung sekutunya iblis. 

Jika merujuk pada terjemahan Alkitab pada Kitab Wahyu, armageddon ditulis dengan kata 'harmagedon'. 

Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon. (Wahyu 16: 16) 

Kitab Wahyu berisikan mengenai nubuatan akhir jaman, dimana di sini ditulis kiasan² dengan gaya bahasa yang metafora, yang seperti tidak mungkin terjadi di dunia nyata, yakni soal 'naga merah berkepala tujuh' dan lain sebagainya. Yohanes menuliskannya juga berdasarkan apa yang dia ketahui dan pahami, lokasi tempat 'harmagedon' ini dipilih karena memang punya keterkaitan dengan perang² besar pada masa sebelumnya, sehingga tempat inilah yang dipilih dalam tulisan² nya. 

Untuk sementara itu dulu yang bisa saya bagikan, sembari saya menyelesaikan membaca Kitab Wahyu agar menjadi satu kesatuan yang utuh, memahami nubuat Rasul Yohanes. Akan saya lanjutkan pada postingan berikutnya. -cpr

#onedayonepost
#informasi
#sejarah
#kitabwahyu
#armagedon

Jumat, 08 Mei 2026

Refleksi dari Seorang Yudas Iskariot

Pernahkah ada yang mengetahui seseorang yang bernama Yudas Iskariot dijaman saat ini? Atau ada orang tua yang memberikan nama untuk anaknya 'Yudas Iskariot'?
Rasanya ya tidak ada ya, kalau kalian mengetahui ada, mohon dishare di kolom komentar ya. 

Nama itu sudah sangat melekat dengan kata 'pengkhianatan', bukan sekedar pengkhianatan biasa tapi ini benar² mengkhianati guru dan Tuhannya sendiri. 

Ilustrasi, ketika Yesus ditangkap di Taman Getsemani, gambar disiapkan by Gemini

Selama ini kita menyadari dan mengetahui bahwa Yudas menjual Yesus kepada ahli² Taurat Yahudi dengan harga 30 keping perak. Kita menganggapnya selama ini itu hanya motif ekonomi, jika tidak memahami nilai 30 keping perak itu senilai apa? Bagi yang orang awam Kristen atau bahkan mayoritas yang non Kristen pasti menilai motif itu hanya soal uang. 

Tapi ternyata ada refleksi lain yang bisa kita reflektifkan dari peristiwa Yudas mengkhianati Yesus ini. 

Jika menonton serial The Chosen, kisah tentang Yesus yang dibuat lebih panjang, kita bisa mengenal karakter² dari murid-murid Yesus, termasuk Yudas Iskariot. 


Nilai 30 keping perak itu dalam Alkitab, menurut sosial masyarkat Yahudi saat itu, bernilai atau senilai dengan harga seorang budak yang mati ditanduk sapi, iya itu harga tukar guling (baca: ganti rugi) seorang budak itu. 

Nominal yang sangat rendah dan menghina ketika ditimpakan kepada Yesus yang adalah seorang guru, diserupakan dengan seorang budak. 

Seharusnya jika motifnya itu soal uang, finansial, harga yang harusnya ditukar minimal adalah harga seorang guru atau rabi, karena Yesus adalah seorang guru dan rabi, setidaknya itu yang diketahui banyak orang, bahkan ahli² Taurat mengetahui bahwa Yesus kerap disapa guru dan rabi oleh banyak orang 

Nominal yang diperoleh sebagai 'ganti rugi' itu harusnya lebih besar dari yang harga seorang budak yang mati tertusuk tanduk sapi. 


Kita kembali ke film series The Chosen lagi. Kalau kita menonton serial itu, dikisahkan Yudas menjabat sebagai bendahara dari kelompok Yesus. Dimana itu jabatan yang cukup elit, dia mengatur arus kas dan keuangan komunitas. 

Yudas didapuk diposisi itu karena memang dia mampu, itu keahliannya. Namun cara dia (baca: Yudas) mengatur keuangan ini berbeda visi dan misi dengan pelayanan komunitas yang Yesus ciptakan. 

Yudas melihat segala sesuatu ada muatan ekonominya. Karena dalam pelayanan butuh dana, dana ini harus diperoleh dari memutarkan apa yang ada. Sedangkan Yesus tidak ke arah sana, sehingga muncul kekecewaan dalam diri Yudas. Ada konflik perbedaan pandangan ini yang akhirnya membuat munculnya 'kepahitan' dalam diri Yudas. 

Hingga pada akhirnya, Yudas rela menjual Yesis dengan harga 'seadanya'. Karena jika Yudas ingin mengambil keuntungan finansial dari transaksi ini, tentunya harga yang dibayar tidak semurah itu. 


Terkadang kita pun berlaku seperti Yudas, pelayanan selalu diukur atau dibenturkan dengan finansial, bahkan yang lebih parah mencari keuntungan dari hal itu. Ini sebuah kesalahan dan Yesus tidak menginginkan demikian, jika kita tetap memaksakan diri maka kita inilah Yudas² jaman modern, ditambah lagi ketika ada rasa kepahitan yang secara gak sadar menyalahkan Tuhan. 

Bahkan ada pula yang meninggalkan iman, menggadaikan imannya demi keuntungan finansial. Kita bisa amati ini dalam kehidupan sehari-hari, berefleksi dari influencer yang berkecimpung di dunia skincare yang baru² ini terkena kasus 'penipuan' produk skincare yang dia jual. Dulu dia adalah seorang penganut Kristen, tapi kita melihat demi keuntungan finansial tertentu rela menjual imannya untuk dikonversi guna menarik banyak pengikut karena status dia yang pindah agama. Agar bisnisnya makin meroket. Tapi pada akhirnya dia menerima ganjarannya, usaha apa yang dia lakukan ternyata tidak jujur.

Tapi dari sini Tuhan lebih tahu, karena Dia yang memilih kita menjadi pengikut-Nya, jika kita memang tak layak pasti kita akan dilepaskan-Nya. Jika kita memang pantas Dia pilih, sebagaimana sulitnya kita akan terus Dia jaga, terus dibentuk dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi seiring masalah yang dihadapi. 

Percayalah bahwa kita ada hingga saat ini, itu adalah Tuhan yang pilih, bukan kita yang memilih-Nya. Sama halnya Yudas juga awalnya Tuhan pilih, namun pada akhirnya Yudas malah memilih untuk mengingkari dan menyerahkan Tuhannya demi 'membayar' rasa kepahitanya tersebut. 

Kita bisa belajar dari tokoh Alkitab Yudas Iskariot, bukan mencontoh yang buruk tapi memahami hal yang Yudas lakukan itu salah, dan jangan mengulangi kesalahan itu lagi. Entah siapa pun nama yang kamu sandang, hendaklah jangan meniru perilaku Yudas Iskariot. -cpr

#onedayonepost
#refleksi
#yudasiskariot

Jumat, 17 April 2026

Dasar Istilah 'Perjanjian Baru' Digunakan Oleh Murid-murid Yesus

Orang Kristen pasti tidak asing dengan kata "Perjanjian Baru", juga " Perjanjian Lama", itu adalah nama atau penyebutan untuk kumpulan kitab-kitab yang ada dalam Alkitab Kristen atau umat Kristiani secara umum. Walaupun untuk Kristen Protestan dan Kristen Katolik atau Ortodoks pun ada sedikit saja perbedaan dari sisi pengakuan atas kitab-kitab tertentu. 

Namun dua istilah tersebut di atas pasti tidak asing ditelinga. Dimana "Perjanjian Baru" merujuk pada kitab-kitab yang memuat kisah tentang Yesus Kristus dan setelahnya, sedangkan "Perjanjian Lama" merujuk pada kitab-kitab yang memuat kisah perjanjian Allah dengan Bangsa Israel. 

Ilustrasi dibantu disiapkan chatgpt

Sekarang pada postingan ini mau membahas begini, kenapa murid-murid Yesus menggunakan istilah "Perjanjian Baru" pada kitab-kitab yang ditulis untuk mewartakan kabar sukacita ini? Inilah yang mau saya catat, why -nya itu apa. 

Jadi menurut sejarah kitab-kitab yang ada dalam Perjanjian Baru, kitab tertua adalah kitab-kitab yang dituliskan oleh Rasul Paulus, bukan kitab-kitab Injil. Itu sekedar fakta yang perlu diketahui, karena bisa saja digunakan oleh orang non Kristen untuk menyerang keyakinan orang yang sedikit pehamanannya tentang Kekristenan. 

Kitab Injil yang paling tua adalah Injil Markus, ditulis sekitar tahun 70 M, ditulis setelah kitab-kitab atau surat-surat Paulus. 

Lalu selanjutnya kenapa digunakan frasa kata 'perjanjian'? Kata perjanjian itu diambil dari bahasa Yunani, 'diatheke' yang mempunyai arti 'kesepakatan'. 

Pada kitab-kitab Perjanjian Lama, secara umum berisi kesepakatan yang dijalin Allah dengan umat Israel. Dalam kitab-kitab ini pulalah Allah memilih umat Israel sebagai umat pilihan-Nya. Kesepakatan ini secara umum terangkum dalam Hukum Taurat. 

Sekitar 600 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus, kita tahu soal nubuat Nabi Yeremia, dimana ada 'perjanjian baru', dimana didasarkan pada hubungan batin antara manusia dan Allah. 

Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian Baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.  Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yeremia 31: 31 - 34) 

Tulisan yang saya beri cetak tebal itu menunjukan bahwa karena nubuatan Nabi Yeremia inilah dasar frasa kata 'Perjanjian Baru' digunakan untuk kitab-kitab yang ada setelahnya (baca: Perjanjian Lama) yaitu kitab-kitab Injil dan surat-surat murid-murid Yesus lainnya. 

Kemudian dari nubuatan itu pula dituliskan bahwa perjanjian sebelumnya sebenarnya telah berakhir oleh karena pengingkaran umat Allah pada ketetapan Allah. 

Berdasarkan nubuatan itu, para penulis kitab-kitab yang tergabung dalam 'perjanjian baru' terinspirasi menggambarkan karya-karya Allah dalam diri Yesus Kristus. 

Secara umum kitab-kitab dalam perjanjian Baru itu ditulis 100 tahun setelah masa Yesus. Ini adalah catatan yang paling primer dekat dengan asal muasal waktu kejadian. 

Jadi apabila ada catatan atau kitab yang secara waktu ditulis atau ditemukan tidak lebih dekat dari masa ini tidak sulit untuk menganggap catatan itu valid atau bisa dipercaya, apalagi ketika menciptakan ceritanya sendiri (mengarang bebas), apalagi disesuaikan dengan teologi baru. 

Cetak hitam adalah klaim dan opini saya sebagai penulis yang mengkritisi para pengkritik non Kristen yang sering mengganggu keimanan Kristen, apalagi pernyataan² yang digunakan para mualaf yang sok tahu. 

Kita kembali lagi ke pembahasan.  Jadi secara umum kitab-kitab yang ditulis ini mengarahkan kepada pribadi Yesus Kristus. Kitab-kitab Injil baik Markus, Matius, Lukas dan Yohanes menuliskan tentang Yesus Kristus dari sudut pandang dan gaya penulisan mereka masing-masing, dimana secara umum isinya adalah tentang perjalanan hidup Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. 

Sedangkan kitab-kitab atau surat-surat yang dituliskan oleh para rasul (Kisah Para Rasul), menceritakan tentang kebangkitan Yesus Kristus. Selain itu juga mengabarkan pemberitaan karya Yesus Kristus, serta penafsiran dari ajaran Yesus yang terjadi pada masa jemaat perdana. 

Dari surat-surat itu pula kita yang hidup di jaman sekarang bisa mengetahui gambaran kehidupan jemaat perdana dan pengalaman iman mereka. 


Meskipun pada keseharian Yesus dan para rasul-Nya menggunakan bahasa Aram, kitab-kitab perjanjian baru sejak awal ditulis dalam bahasa Yunani sehari-hari. 

Para penulis dari kitab-kitab perjanjian baru ini pun mendapatkan kitab-kitab perjanjian lama dalam tulisan terjemahan berbahasa Yunani (Septuaginta). Umumnya kitab yang terjemahan berbahasa Yunani itu diterjemahkan dari tulisan berbahasa Ibrani. 

Kondisi saat ini naskah² kitab-kitab perjanjian baru yang asli saat ini tinggal kepingan, malah sudah ada yang musnah karena termakan usia. 

Meski begitu salinan² teks dari kitab-kitab perjanjian baru yang ditulis tangan masih tersedia karena dilakukan secara turun-temurun. Salinan yang paling tua berbahasa Yunani berasal dari abad ke-4. Ada pula kepingan tulisan paling tua berasal dari tahun 125.

Selain itu juga terdapat salinan lain dari terjemahan bahasa Koptik,  Siria, dan Latin yang juga masih ada. 

Semua itu membutuhkan proses yang panjang hingga menjadi kitab yang bisa kita baca saat ini, butuh waktu hingga 300 tahun untuk menyusunnya dalam bentuk buku baku yang kita kenal sebagai Alkitab. Jadi bukan ujug² jatuh dari langit dalam bentuk buku melainkan melalui proses yang panjang dan penetapan yang tidak sembarangan, namun berdasarkan dasar yang valid dan prinsip sumber primer, bukan dari dongeng, comot, atau bahkan hasil modifikasi dari juru tulisnya. 


Segitu saja informasi menarik mengenai Alkitab, semoga bisa menambah pengetahuan seputar katekisasi Kekristenan, agar makin paham dunia Kristen. Agar mampu menepis keraguan dari mereka non Kristen yang mencoba mengusik. -cpr

#onedayonepost
#informasi
#sejarah
#perjanjianbaru

Jumat, 10 April 2026

Perbedaan GKJW dan GKJ

Sering sekali orang non Kristen Protestan salah memahami soal GKJW dan GKJ. Dikiranya sama dan serupa, sering dianggap gerejanya orang Jawa. Kemudian gaya gereja beraliran presbiterian sinodal. Gereja ini berakar dari tradisi Reformed (Calvinis). 


Nah, pada postingan kali ini kita akan membahas serba-serbi keduanya supaya memahami perbedaannya dan persamaanya.

Ilustrasi, gambar disiapkan oleh chatgpt

GKJ (Gereja Kristen Jawa)
Secara eklesiologi, GKJ menganut teologi Calvinis dan menerapkan sistem pemerintahan gereja Presbiterian. Pengelolaan jemaat dilakukan oleh penatua dan pendeta secara bersama-sama.

*eklesiologi adalah sub-disiplin ilmu teologi Kristen yang mempelajari hakikat, fungsi, struktur dan misi gereja. Eklesiologi membahas gereja bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebagai tubuh Kristus dan komunitas orang beriman. 

Wilayah persebaran gereja ini mayoritas di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Meski begitu, GKJ tersebar di beberapa wilayah Provinsi di Indonesia diantaranya di Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Terdapat 344–346 gereja (jemaat). 

Dalam perkembangan gereja mula-mula dimula-mula dari Zending Belanda yang ada di wilayah Jawa Tengah, yang akhirnya berkembang dengan identitas sendiri (Jawa). Terikat dengan budaya Jawa namun lebih formal dibandingkan dengan GKJW. 

Liturgi lebih tertata dan seragam. Pengelolaan gereja dengan sistem sinodal. GKJ tidak berdiri sendiri-sendiri sesuai dengan daerah dimana gereja itu berdiri, tapi mempunyai pusat Sinode yang mengatur dan mempersatukan seluruh jemaat.

Pusat Sinode GKJ berada di Salatiga, Jawa Tengah. 


GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan)
Dari nama saja ini jelas jadi pembeda, 'Jawi Wetan' artinya adalah Jawa Timur. Hal ini menjadi penunjuk bahwa komunitas gereja ini berkembang mayoritas di wilayah Jawa Timur, ini yang jadi pembeda dengan GKJ. 

Akar sejarahnya gereja mula-mula dari Zending Belanda yang berkembang di wilayah Jawa Timur. Dengan gaya reformed (Calvinis). 

GKJW lebih kental dalam hal budaya Jawa dari sisi penggunaan Jawa, tembang, hingga simbol² lokal. Liturginya lebih kental dengan unsur-unsur budaya Jawa, lebih kontekstual. 


GKJW sering disebut gereja pribumi Jawa Timur karena sangat menyatu dengan budaya lokal. Terdapat sekitar ±180–181 jemaat (gereja lokal). 


GKJW juga mempunyai pusat Sinode, tidak berdiri sendiri² sebagai gereja lokal. Majelis Agung GKJW berada di Kota Malang, Jawa Timur. 



Kedua gereja ini sama² tergabung dalam Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). 

Dari sini sepertinya kita sudah lebih mudah memahami perbedaan dari kedua gereja Jawa ini, sehingga ke depan kita tidak bingung lagi membedakan keduanya. -cpr

#onedayonepost
#gkjw
#gkj

Senin, 23 Februari 2026

Membaca Alkitab Seperti Juga Seperti Membaca Kisah Sejarah

Semua agama sangat menekankan umat yang memeluk suatu agama membaca Kitab Suci agamanya masing-masing, karena di sana banyak tersimpan pesan² teologi dan pesan moral yang baik dan benar sesuai keyakinan agamanya masing-masing. 

Begitu juga dengan orang Kristiani yang punya Alkitab, yang berisi kitab² dari Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. 

Meskipun dalam Kekristenan sendiri pada akhirnya ada dua kitab suci dengan kanon berbeda yang diakui, tetapi secara umum kitab sucinya sama dan sumbernya sama. Hanya perbedaan di kitab² Perjanjian Lama. Di Katolik mengakui 73 kitab dan di Kristen Protestan secara umum mengakui hanya 66 kitab. 

Ilustrasi, gambar dibantu dibuatkan chatgpt

Tapi yang mau saya bahas bukan perbedaan kitab sucinya tersebut. Tapi kepada impresi / persepsi yang dirasakan ketika membaca kitab demi kitab dari Alkitab Kristiani. 

Saya memang belum pernah menyelesaikan secara utuh Alkitab, karena masih sepenggal kitab per kitab, tidak utuh selesai baca semuanya. Tapi ketika saya membaca Alkitab, impresi saya seperti membaca kitab sejarah dari pov religius. 

Karena apa yang tertulis dalam Alkitab itu bisa dijumpai dalam catatan² sejarah dunia ini, terutama dari soal time line waktu tiap peristiwa yang terjadi bukanlah omong kosong belaka, atau malah copas atau malah saduran atau malah tiruan yang diserupakan dengan budaya/serapan baru. 

Bayangkan seperti ini, kisah mengenai Abraham, dimana Abraham itu hidup di tanah Kanaan, tanah itu ada di sekitaran Yerusalem, bukan di tanah Arab, tapi kenapa ada kisah yang mengadopsi seolah-olah Abraham itu orang Arab dengan penamaan yang diserupakan dengan ke-arab-araban menjadi Ibrahim. Sedangkan jika kisah yang ke-arab-araban itu dikonfrontir dengan catatan sejarah dunia koq ya gak sinkron. 

Ini saya ambil contoh saja sih, tokoh lainnya bisa diambil contoh, atau mau yang lebih nyata lagi ya ketika membahas Yesus Kristus, dimana mereka bisa punya ceritanya mereka sendiri, dengan penamaan tokoh² nya ya sesuai dengan 'universe' mereka, seperti ada yang dinamai Isa, kemudian ada tokoh Yahya, ada pula Mariam yang lucunya Mariam yang mereka maksud itu ternyata Mariam berbeda dengan Mariam yang mau mereka maksud sebagai ibu dari Isa. Jadi catatan yang mereka akui sebagai Kitab Suci seperti tumpang tindih tidak akurat. 


Itulah impresi yang saya rasakan ketika membaca Alkitab, dimana keterhubungan dengan sejarah dunia itu ada, membuktikan bahwa apa yang terjadi, karya Tuhan itu sunggu nyata, bukan sekedar drama religius. 

Seperti ketika saya tengah menuliskan kisah Ester yang berasal dari Kitab Ester, Perjanjian Lama. Di sana disinggung seorang raja Persia, ternyata di catatan sejarah dunia raja itu ada. Dunia mengenalnya Raja Xerxes I, catatan sejarah dan bukti sejarahnya ada. 

Jadi itulah yang saya katakan tadi bahwa membaca Alkitab itu impresinya seperti membaca kilasan sejarah tapi dari pov religius, melihat bagaimana karya Allah bekerja dalam setiap jalan hidup manusia dan peradaban. 

Ini opini saya pribadi, jadi jika ada yang ketidakasesuaian dengan apa yang jadi pandangan teman² ya harap dimaklumi, karena ini dari logika saya saja yang merasakan demikian. Bisa saja sesama Kristiani melihatnya hal yang berbeda. Jelas lagi yang non Kristiani pasti akan sangat berbeda sekali melihat hal ini, mungkin tidak akan terima dengan pandangan ini. 

Tapi selalu dalam setiap tulisan saya soal religiusitas selalu saya benturkan atau singgung dengan sejarahnya. Jika ada klaim yang merasa paling benar tapi tidak bisa dibuktikan dengan sejarahnya pasti akan saya jadikan bahan diskusi. Itu saja sih yang ingin saya sampaikan, tiba² terbersit saja dikepala ingin menyampaikan ini. -cpr

#onedayonepost
#opini
#coratcoret

Minggu, 22 Februari 2026

Musik: Walau Gunung Tak Berpindah (2000-an)

Ada lagu rohani yang mau saya share di sini, karena sudah lama juga gak menshare lagu rohani diblog ini. Kebetulan lagu rohani ini seperti melekat ditelinga saya dan ingin menyimpannya di sini. 

Judul lagunya Walau Gunung Tak Berpindah. Tidak diketahui kapan lagu ini rilis atau dipublish, tetapi internet mencatat lagu rohani ini mulai dikenal pada kisaran tahun 2000-an. Tidak diketahui pula catatan di internet siapa pencipta lirik nya. 

Tapi saya ada menemukan catatan bahwa lagu ini diciptakan liriknya oleh Kenny Sastro dan Yeshua Abraham sebagai komposrernya. Namun dua orang ini diketahui sebagai republish lagu ini pada 24 Januari 2025, dirilis dibawah label YG Production. 

Ilustrasi dibantu disiapkan chatgpt

Lagu ini didasarkan pada ayat Alkitab: Yesaya 54: 10.
Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau. 

Lagu rohani ini bergenre penyembahan, tema dalamnya kesetiaan dan kasih setia Tuhan yang tidak berubah. 

Ada makna teologis yang tersirat dalam lagu rohani ini:
✝️ Kasih Tuhan tidak bergantung pada situasi, kasih Tuhan ada setiap saat. Bahkan walau dunia berubah, Tuhan tetap setia. 

✝️ Penguatan iman saat kita tengah dalam krisis,  dalam pergumulan, dan masalah. 

✝️ Tuhan punya janji yang akan Dia tepati pada umat-Nya. 

Lagu ini nuansanya reflektif, membuat kita diajak untuk berfleksi pada diri sendiri, sekaligus menguatkan akan kasih setia Tuhan itu nyata. 

Berikut ini saya bagikan lirik lagunya:
Verse:
Jiwaku bertanya
Apakah masih ada harapan?
melewati tangisan
rasa sesak di dada

Iman ku berkata
Tuhanku yang pegang kuasa
Dia selalu bekerja
Meski mata ku tak melihat

Chorus:
Walaupun gunung itu tak berpindah
Tetap percaya Kau yang punya kuasa
Sekalipun ku dalam lembah kelam
Tak mengapa asal Kau disampingku

Walaupun masalahku masih ada
Tetap percaya rencanaMu terindah
PribadiMu takkan pernah berubah
Iman yang aku pegang
PadaMu Tuhan yang setia

*lirik lagu di atas saya ambil dari lagu yang sama yang di-republish oleh Kenny Sastrao dan Yesua Abraham. 

Jika mencari lagu ini, terkadang disingkat menjadi WGTB (Walau Gunung Tak Berpindah), kalian bisa mencarinya di Youtube dan telah dinyanyikan banyak grup praise & worship. 

Berikut beberapa yang saya pilihkan di Youtube:



Segitu saja share yang bisa saya bagikan mengenai musik rohani kali ini, kita jumpa lagi musik rohani lainnya. Tuhan memberkati kita semua. -cpr

#onedayonepost
#hiburanrohani
#youtube
#wgtb

Sabtu, 21 Februari 2026

Doa Kristen Itu Tanpa Perantara, Pahami 'why-nya'

Sering terjadi 'masalah' ketika frase ini saya gunakan, karena maklum saja saya adalah seorang Katolik awalnya, baru jalan mau setahun ini menjadi seorang Kristen. Terkadang frase kalimat doa penutup yang dipilih atau digunakan itu tidak sesuai dengan teologi Kristen. 

Iya memang benar soal teologi ini ada perbedaan, meskipun secara mendasar tidak ada maksud apapun memposisikan Kristus lebih rendah, bahkan sampai dikatakan sebagai 'kurir' karena Dia menjadi perantara. 

Hal yang sepele ini kadang jadi keributan di meja makan, entah saya sendiri juga heran, padahal bisa diluruskan dan dikondisikan supaya nanti tak terulang lagi karena tradisinya sudah berbeda saat ini. 

Ilustrasi dibantu disiapkan chatgpt

Pemahaman saya menggunakan frase kalimat tersebut karena memang kebiasaan dulu ketika berdoa, dan pemahaman saya Yesus Kristus adalah Allah yang saya percaya. Oleh karena Dia telah menjadi manusia yang saya kenal sebagai Yesus orang Nazeret, Dia jadi serupa dengan kita manusia, maka karena pemahaman Dia pernah jadi manusia itulah melalui perantara Nya lah doa kita dibawa kepada Bapa, tanpa menghilangkan kenyataan bahwa Dia-lah adalah Bapa yang kekal itu sendiri, karena dalam Dia lah Allah Bapa berada. Bapa dalam Dia dan Dia dalam Allah.

Itu pemahaman saya dan itu yang saya coba utarakan, yang menjadi pemicu 'diskusi' di meja makan. Yang menurutnya menjadi sebuah perderbatan dan bagi saya ini hal yang gak perlu, karena saya hanya mengutarakan 'why' yang saya pahami.

Karena kita mengenal Allah Bapa itu melalui diri Yesus Kristus yang menjadi manusia sama seperti kita, bedanya Dia tidak berdosa sedangkan kita berdosa. Jika Dia tidak menjadi manusia kita tidak akan mengenal Allah Bapa.

Ada tertulis, doa orang benar didengarkan oleh Tuhan. Lalu apakah doa orang yang selalu merasa benar juga didengarkan Tuhan? 

Saya pikir Tuhan akan selalu mendengarkan apapun yang kita sampaikan kepada Nya, tapi Tuhan selalu punya cara Nya untuk memberitahukan kebenaran yang sejati, karena sumber kebenaran hanya pada -Nya, dan Dia yang berhak membenarkan atau menyalahkan, karena itu Otoritas Nya. 

Pada post kali ini saya akan bagikan perbedaannya, why-nya, karena itu lebih penting dipahami. Daripada kita hanya diberitahu kata 'tidak' tapi tidak tahu kenapanya dan pemahamannya, tanpa menggurui. 


Dalam tradisi Katolik Roma, frase kalimat penutup doa yang sering menggunakan kalimat: "... dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin."

Frase kalimat penutup doa yang umum dikalangan umat Katolik Roma: Frase kalimat itu dipilih atas dasar biblis, alias dasar Alkitab nya ada dan tertulis jelas di sana. Seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 2: 5.
Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus. 

Selain pada itu, tertulis pula dalam Ibrani 7: 25.
Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

Kata "Ia" merujuk pada kuasa Allah Bapa, di sana tertulis bahwa "Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka." Lalu salahnya dimana ketika menggunakan frasa tersebut, toh Alkitab menuliskannya demikian. 

Jika merujuk pada Alkitab sebagai Otoritas utama, seharusnya frase penutup doa di atas tidaklah salah. Karena frase tersebut nyatanya biblis alias alkitabiah. 


Nah tapi permasalahannya bukanlah soal itu, orang Kristen mencoba melihat dari POV berbeda, bagi orang Kristen, memahami agar doa-doa kita itu disampaikan langsung kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan.

Jadi sebenarnya oleh karena sama saja kita berdoa kepada Yesus, kata 'perantara' itu dianggap tidak perlu, ibarat mubazir penggunaan kata. 

Seperti dalam bahasa Indonesia, "saya diberikan  hadiah sangat amat banyak sekali", nah penggunaan kata 'sangat' itu dianggap tidak perlu karena itu sudah dijelaskan oleh kata 'banyak sekali'. Kata 'perantara' di dalam frasa kalimat penutup doa (topik bahasan kita ini) dianggap tidak perlu, jadi dibuatlah langsung kepada Yesus Kristus yang Dia-lah Allah itu sendiri. 

Jadi ketika ada yang menyalahkan, itu juga gak tepat karena di Alkitab pun menuliskan demikian, jika begitu yang menyalahkan berarti menyalahkan apa yang ditulis di Alkitab. 

Tidak perlu salah-menyalahkan, tapi lebih baik menyampaikan "bahwa kalimat penutup doa itu kurang tepat digunakan dalam teologi Kristen". 

Jadi 'keributan' di meja makan tadi itu sebenarnya adalah sebuah kesia-siaan. Yang dibutuhkan cuma memahami saja. 


Sedangkan hal yang dianggap benar dari teologi Kristen sendiri sebenarnya tidak menolak Kristus sebagai perantara, ini yang perlu dipahami oleh yang menjudge bahwa yang disampaikan itu salah, teologi Kristen tidak menolak Kristus sebagai perantara, namun teologi Kristen memberikan penekanan pada beberapa hal ini:
✝️ Kita datang langsung dan berdoa kepada Bapa dalam nama Yesus

✝️ Tidak memakai istilah liturgis formal. 

✝️ Menekankan gaya berdoa yang lebih spontan dan relasi yang dekat seperti anak kepada Bapa, sehingga kata 'perantara' tidak diperlukan. 


Nah seharusnya apa yang disampaikan dan dijelaskan itu demikian, bukan menjudge sampai menggunakan istilah 'kurir'. Karena yang perlu dipahami bahwa Kristen sendiri tidak menolak 'perantara' karena Alkitab telah menuliskan demikian dan Kristen sangat memahami bahwa Alkitab adalah sebuah Otoritas utama, Sola Scriptura. 

Mungkin penjelasan seperti ini tidak akan bisa muncul di meja makan ketika sedikit informasi yang terlintas di kepala, tetapi ketika setelah membaca apa yang ditulis, setidaknya penjelasan bisa lebih terarah. 

Jadi kesimpulannya, ketika kamu adalah seorang Kristen, berdoalah sesuai rumusan yang umum digunakan diantaramu. Jika menggunakan rumusan lain itu tidak salah juga, hanya tidak tepat, karena hendaknya kamu memahami apa yang tepat digunakan. 

Ketika kamu sudah memahami apa yang menjadi 'why', itu kamu bisa memahami lebih dalam, sehingga penggunaan kata atau frase kalimat yang tidak tepat bisa dikondisikan (tidak perlu digunakan, gunakanlah yang tepat). 

Bisa dimaklumi jika masih 'tersandung' menggunakan frase kalimat penutup doa dengan cara yang sebelumnya, tapi seiring waktu jika dibiasakan pasti bisa menyesuaikan, ketika diperlukan begitu bisa disampaikan sesuai tempatnya. 

Mudah-mudahan penjelasan ini bisa diterima dan bisa jadi bahan pemahaman yang baik daripada sekedar membeda-bedakan sesuatu yang sumbernya sama yaitu Yesus Kristus. 

Yesus Kristus pun tidak pernah membeda-bedakan seseorang, Dia lebih tahu hati umat-Nya yang berdoa, karena pada dasarnya tidak ada maksud merubah pemahaman iman yang sejati bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri. 

Saya tidak ingin berdebat dan ribut soal perbedaan, karena kita semua adalah pengikut Kristus yang sama, justru manusialah yang membuat semuanya jadi berbeda dengan pemahamannya dan tafsir masing-masing, padahal jika kembali kepada apa yang tertulis jelas menujukan demikian, karena kita iman kita lahir dari Yesus Kristus yang sama. Semoga bisa dipahami jalan pikiran saya. -cpr

#onedayonepost
#iman
#re-action
#doa
#penutupdoa
#opini