Rabu, 15 Juli 2026

HUT #42 GKRI Mojorejo, Batu

Sore ini saya berkesempatan hadir diperayaan HUT GKRI Mojorejo, Batu yang ke-42, usia yang tak lagi muda, usia jika pada manusia adalah usia² tengah mencapai titik menuju kematangan.

Ini pengalaman kedua saya ikut dalam perayaan ini, tahun lalu saya masih single, tahun ini saya sudah jadi suami dari istri saya, dimana dia merupakan anggota jemaat dari gereja ini sejak kecil, ini adalah gereja masa kecilnya dimana imannya dibangun.

Kalau tahun lalu HUT Gereja dirayakan dihari Minggu, lain kisah ditahun ini dirayakan ditengah Minggu, sehingga punya cerita berbeda bagi panitia yang menyiapkan acara ini. HUT yang tahun lalu saya tak sempat mencatatkannya diblog ini.


Menariknya perayaan HUT GKRI kali ini dirayakan dibangunan gereja yang baru, dimana dulu gereja berada di lantai satu, dimana terhalang pilar bangunan, kini di tempat yang baru sudah tidak ada lagi pilar, kini sudah seperti gereja pada umumnya.

Nuansa terang dan cerah lebih terasa saat ini dibandingkan dengan dulu ketika gereja masih menempati lantai satu di bawah.

View yang nampak pertama kali saat akan naik tangga menuju gereja di lantai 2 yang sekarang, gereja lama dibagian bawah dimanfaatkan sebagai ruang serba guna #dokpri

Posisinya masih di tempat yang sama, walaupun beberapa waktu lalu sempat ada isu² gangguan dari pembangunan pusat oleh² Strudle yang dibangun di samping gereja, dimana dinding temboknya dibuat menutupi ornamen salib gereja. Tapi itu tidak menghambat pertumbuhan iman gereja ini.

Meskipun saya melihat geliat dari jemaat gereja ini masih kecil, tapi saya percaya jika semua jemaat mau tumbuh dan besar bersama, gereja ini bisa menjadi besar, setidaknya iman dari para jemaat di dalamnya. Sore ini saya amati, jemaat yang hadir dijam mepet acara ibadah dimulai masih sedikit, tapi perlahan jemaat mulai hadir satu per satu, keluarga demi keluarga. Memang tidak banyak, jemaat GKRI Mojorejo itu bak 'keluarga'. Tapi jangan khawatir akan itu semua, karena sebagai orang percaya kita harus yakin pada janji-Nya seperti yang tertulis di kitab suci dan jadi pegangan bapak gembala GKRI Mojorejo ini yaitu Bpk. Pdt. Suryo Citrowasono, M.Th.

Ayat inilah yang digunakan jadi tema HUT 42 GKRI Mojorejo ini yaitu Yesaya 60: 22 Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, TUHAN, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya.  akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya.

Janji Tuhan inilah yang sangat dipegang oleh bapak gembala GKRI Mojorejo Batu. Karena memang satu per satu sejak awal berdirinya GKRI Mojorejo hingga saat ini usia 42 tahun semua memang karena kasih karunia Allah sendiri.

Pada acara HUT ke-42 ini hadir tamu undangan orang² yang dipakai Tuhan dalam membantu berdirinya GKRI Mojorejo Batu di tempat saat ini. Saya lupa siapa saja beliau, ada Pak Wahono dia dulu bertugas sebagai TNI di wilayah kerja daerah Batu, kemudian juga ada mantan anggota DPR yang waktu itu terpilih menjadi wakil rakyat dan beliau juga adalah seorang pendeta di GPdI di wilayah Batu/Malang saya lupa, kemudian ada pula tamu dari perwakilan PGLII, dsb.

Pada ibadah ini disampaikan pula kesaksian tentang kisah berdirinya GKRI Mojorejo Batu, yang sebelumnya tidak saya ketahui pada postingan sebelumnya, link tautan di atas.

Jadi GKRI Mojorejo yang berdiri saat ini, yang saat ini dikenal berada di balik Pusat Oleh-oleh Strudle dulunya atau awal mulanya tidak berdiri di sana, GKRI berpindah-pindah, sempat beberapa kali pindah hingga akhirnya ada saat ini.

Tempat GKRI Mojorejo yang ada saat ini dulunya adalah tempat prostitusi, dulunya di sini dikenal sebagai 'puskesmas', singkatan dari 'pusat kesenangan mas-mas'. Dulunya tempat ini seperti los kamar², remang² untuk bisnis esek². Kemudian oleh pemilik sebelumnya tempat ini dijual dengan harga murah, karena mungkin tidak ada yang mau beli tempat bekas kegiatan prostitusi begitu, akhirnya dibelilah oleh pendiri GKRI Batu karena dana yang serba terbatas hanya mampu membeli tempat di sana.

Ternyata setelah tempat itu dibeli dan direnovasi untuk digunakan sebagai tempat ibadah, tantangan ya tidaklah selesai. Sempat mendapatkan penolakan dan kesulitan dalam pengurusan ijin walaupun sudah mengantongi ijin dari Walikota saat itu. Meskipun ada 'kecerdikan' di sana dimana ijin itu sebenarnya jika ditelaah lebih dalam bukan untuk penggunaan tempat ibadah atau bagaimana gitu, tapi akhirnya dengan ijin tersebutlah bisa disesuaikan dan dikondisikan hingga akhirnya ijin yang lebih lanjut terbit dan permasalahan dengan lingkungan sekitar bisa diselesaikan, hingga akhirnya jemaat GKRI waktu itu bisa beribadah di tempat saat ini.

Hingga akhir 2025 jemaat GKRI Mojorejo masih beribadah di lantai satu, dimana di lantai satu ada pilar² yang kerap menghalangi pandangan ke altar utama. Meski begitu kerinduan jemaat untuk punya tempat ibadah yang proper sudah muncul sejak lama, hingga perlahan, sedikit demi sedikit pembangunan dilakukan, cor dak atas hingga akhirnya di lantai dua tersedia ruang untuk aktivitas ibadah yang lebih proper.

Tahun 2026 ini muncul lagi pergumulan ketika tanah di samping GKRI Mojorejo ini dibeli investor, katanya yang empunya itu artis terkenal bintang utama Cinta Fitri, dia mau membangun toko oleh² besar bergaya farming. Nah sengketanya adalah tanah GKRI itu mau diambil alih juga, untuk dibuat toko itu, tapi untungnya GKRI masih punya hak atas tanah di situ dan si toko oleh² itu gak bisa seenaknya, akhirnya ada tanah 30 m² yang ditukar guling, GKRI akhirnya dapat tanah pengganti dari BPN di sisi yang lainnya lagi.

Tadinya sempat mau dipindah, GKRI yang ada saat ini diberikan ganti tanah di tempat lain. Tapi untungnya GKRI menolak karena tahu betapa sulitnya membangun gereja, jika menuruti apa mau si pemilik modal itu, GKRI akan seperti mulai dari nol, dan kita semua tahu betapa sulitnya mendapatkan ijin rumah ibadah di tempat baru, pasti akan ada penolakan dari warga setempat di tempat baru, itu bukan rahasia lagi tapi jadi wajah masyarakat Indonesia yang takut akan Kristus hadir.

Bahkan toko oleh² ini juga seperti enggan menunjukan bahwa di belakang mereka ada gereja sampai merek habis membangun dinding tinggi untuk menutupi simbol salib gereja.


Namun dari pergumulan itu akhirnya GKRI semakin tumbuh, dibantu oleh Allah melalui banyak tangan-Nya, akhirnya ditahun 2026 ini dipertengahan tahun ini tempat ibadah di lantai dua bisa selesai dan bisa digunakan untuk tempat ibadah.

Beruntungnya pula pada akhirnya meski gereja kehilangan tanah di sisi yang lain karena termakan oleh Strudle, tapi melalui BPN gereja dapat kompensasi dan itu sudah sangat disyukuri.

Jemaat gereja yang punya mobil jadinya parkir di sini, secara gak langsung jadi punya parkiran relatif luas #dokpri

Kini jemaat GKRI hanya tinggal bertumbuh dalam iman, jangan kecil hati meski kecil percaya jika Tuhan bentukan maka akan jadi besar pada akhirnya.

Ibadah berjalan khidmat dan meriah, istri saya malam ini bertugas pelayanan plus jadi MC yang memandu kekasksian di tengah ibadah. Setelah ibadah selesai acara berlanjut ke ramah tamah dan makan malam. Ini pengalaman kali kedua saya, kali pertama saya tidak tuliskan diblog ini, tapi saya ikut karena waktu itu acaranya dihari Minggu dilakukan saat ibadah rutin mingguan. Namun acaranya ya layaknya ibadah biasa. Kebetulan juga hari itu merupakan hari ultah dari Bapak Gembala Sidang, Pdt. Suryo, jadi menambah sukacita.


Saya tidak banyak mendokumentasikan suasana ketika itu, tapi saya ada sedikit oleh-oleh untuk mengenang momen ini, tidak banyak tapi ada.

Oh iya, untuk firman ibadah kali ini disampaikan oleh Pak Titus, apa yang disampaikan bisa mengena dan pas disampaikan pada momen ini: dimana kita diajak untuk selalu bersyukur.


Ketika kita bersyukur itu adalah saat kita flashback mengingat kebaikan² Allah pada kita ; saat kita bersyukur itu juga jadi media untuk kita instropeksi diri dan menyelidiki hati kita dan dengan bersyukur itu kita artinya melangkah ke depan bersama Kristus.

Ini anak dari salah¹ jemaat yang kebetulan anteng ketika digendong istri #dokpri


Segitu saja catatan yang bisa saya bagikan pada momen kali ini. Dirgahayu GKRI Mojorejo, semoga terus bertumbuh dalam iman dan jemaat GKRI Mojorejo Batu bisa menjadi besar, tetap jadi terang dan garam ditengah himpitan sosial yang ada saat ini, tetap nampak walau tersembunyi, karena cahaya Kristus itu tidak bisa disembunyikan. Tuhan memberkati kita semua. Amin. -cpr

#onedayonepost
#gkri
#hutgkri
#jurnal

Rabu, 27 Mei 2026

First Time Acara HUT Pria Tangguh GBIS Hosana Pandaan

Sepulang ibadah raya pada pekan sebelumnya saya dapat 'tiket' undangan terbuka untuk kaum pria. Dimana subkomsel di GBIS Hosana Pandaan yaitu kaum pria akan mengadakan Ibadah Paskah dan perayaan HUT Kaum Pria Tangguh yang ke-29.

Acaranya diselenggarakan pada Rabu, 27 Mei 2026, yaitu hari ini. Waktu membaca undangan terbuka itu saya memang memutuskan untuk mencoba hadir di acara tersebut, itu juga jadi yang pertama kali sejak saya bergabung menjadi anggota keluarga GBIS Hosana Pandaan.

Diperoleh dari share Grup Channel GBIS Hosana Pandaan

Ibadah Paskah dan perayaan HUT Kaum Pria Tangguh ini dilaksanakan jam 09:00. Saya tiba di gereja jam 08:45, di sana sudah cukup banyak juga kaum pria yang hadir, rata² memang didominasi dari bapak², saya sendiri belum menjadi bapak sih, walau usianya seharusnya sudah bisa disebut bapak, tapi wong menikah saja belum 😅.

Saya mencoba duduk di kursi yang agak ke depan, ya bagian tengah saya rasa cukup. Saya tidak cukup saleh untuk duduk di bagian depan.

Sama seperti ibadah yang biasa saya ikuti selama ini. Hanya berbeda pada saat setelah firman disampaikan, ada acara tambahannya yaitu penyampaian sambutan dari Ketua Kaum Pria Tangguh, lalu Bapak Gembala, lalu kemudian dilanjutkan acara perayaan HUT dengan tiup lilin dan kue ulang tahun simbolis, habis itu dilanjut acara bagi² hadiah doorprize dengan nomor yang sudah dibagi kepada jemaat yang hadir di dalam kotak kue yang didapat waktu masuk gereja.

Saya dapat nomor #24 dan ternyata nomor itu tidak mendapatkan apa² 😂, justru yang disebelah saya ada Pak Bandi dengan nomor #25 dipanggil pertama kali.


Memang pengalaman selama ini jika bagi² doorprize saya jarang kena, tapi yang biasa kena itu orang di dekat saya, samping kiri atau kanan, atau dengan nomor yang tidak jauh dengan nomor saya. Jadi bisa nih dicoba lain waktu, duduklah dekat² saya siapa tahu saya bisa jadi saya tarik keberuntungan mu 😂 #becanda. Ya kalau mau dicoba ya silakan sih 😁.

Momen pembagian doorprize sesi pertama

Momen pembagian doorprize sesi kedua

Setelah itu acara pembagian doorprize selesai, dilanjutkan dengan doa berkat dan makan. Kemudian acara ibadah ditutup. Kita semua jemaat berfoto bersama dan lanjut ke acara ramah tamah di parkiran di belakang gereja.


Di sini panitia sudah menyediakan hidangan makanan yang cukup mewah sih, lauk pauk lengkap ada nasi putih, capcay, chicken katsu, mie gepeng, kakap asam manis dengan sajian minuman es segar, kemudian ada es lilin atau es kenyot gitu, kopi dan teh juga tersedia.

Untuk kue kotakan yang diberikan diawal ibadah itu isinya ada dua kue, ada donat meses dan roti isi pisang coklat plus air mineral, di dalam ada diselipkan nomor doorprize yang saya cerita tadi.

Ini pengalaman pertama saya ikut acara seperti ini dan jujur saja ya ini cukup berkesan sih. Saya mencatat ini sebagai pengingat saja dilain waktu siapa tahu saya bisa ikut kembali acara ini. Segitu saja, sampai jumpa di acara yang akan datang.

Segitu saja sharing yang bisa saya bagikan, semoga Kaum Pria Tangguh GBIS Hosana Pandaan bisa terus berkarya di ladang Tuhan dan memberikan manfaat kepada banyak orang di sekitar gereja dan masyarakat yang lebih luas. -cpr

#onedayonepost
#gbis
#gbishosanapandaan
#hut
#kaumpriatangguh
#jurnal

Selasa, 26 Mei 2026

Awal Mula Cerita Yesus Pernah Ke Tanah Budha

Bagi pengikut Kristus kita sering banyak dengar cerita tentang-Nya dari orang diluar Kristen. Dari yang soal Yesus diserupakan, Yesus pergi ke India, hingga Yesus pergi ke negeri Budha dan belajar Budhisme di sana.

Meskipun itu bisa saja terjadi jika Yesus mau karena itu hal yang mungkin Dia lakukan, tapi apa esensi melakukan itu semua?

Pada postingan kali ini saya mau membagikan informasi sebenarnya dari mana info atau cerita Yesus yang katanya pernah belajar Budha itu berasal. Karena begini kalian harus memahami konstruksi cerita yang beredar itu harus diversus kan dengan bukti primernya.

Ilustrasi dibantu dibuatkan by Gemini

Soalnya begini, keyakinan yang berkembang pada abad ke-7 itu mencoba merangkum cerita² dan dimasukan ke dalam kitab suci mereka, seolah-olah itu terjadi dari teologi iman mereka, tapi ternyata cerita² adalah cerita dongeng² yang lahir sebelum mereka, lalu dikisahkan lagi seolah-olah ada pada jaman mereka.

Jika hal² yang tidak benar ini dibiarkan maka dikemudian hari bisa saja dipercaya bahwa itu suatu kebenaran.

Kita kembali ke topik postingan ini. Jadi awal kisah soal masa Yesus yang hilang selama beberapa tahun di kisah Alkitab, Yesus itu kemana sih? Ada yang bilang Yesus pergi ke tanah Budha untuk belajar tentang ilmu Budha.

Jadi cerita itu berasal dari sebuah buku karya Nicolas Notovitch. Buku itu berjudul The Unknown Life of Jesus Christ (1890).

Dalam buku ini diceritakan soal klaim itu berasal dari saat penulisnya mengunjungi Hemis Monastery, di Ladakh, ia diperlihatkan sebuah manuskrip kuno Tibet tentang tokoh yang mendapatkan sebutan "Saint Issa". Nah inilah yang akhirnya diintepretasikan sebagai Yesus Kristus dari POV si penulis.

Dari kisah itu dikisahkan bahwa Yesus pernah pergi ke India untuk belajar ilmu tentang Budha pada masa-masa yang hilang, yang tidak tercatat dalam Alkitab. Kisah yang kosong di Alkitab itu diintepretasikan oleh orang² non Kristen ini dengan kisah atau cerita lain dari sumber lain.

Masalahnya kebanyakan orang non Kristen sering menelan informasi mentah² tanpa mengkroscek sumbernya itu, apakah berasal dari sumber primer atau kanon diakui atau tidak. Inilah yang terjadi hingga saat ini, dimana kitab sebuah agama yang diklaim jatuh dari langit itu justru adalah saduran dari kisah² lain yang sudah lebih dulu ada, hanya dimodifikasi sesuai kebutuhan saja, karena apa cerita yang mau dimasukan atau diklaim itu tidak pernah diversuskan dengan sumber primernya. Alhasil hingga saat ini itu ditelan mentah² sebagai sesuatu yang original dan datang dari langit. Padahal bagi orang yang mengetahui kisah aslinya akhirnya akan berujar, "Halah cerita saduran saja bangga!"

Kita kembali lagi ke topik. Jadi soal kisah "Saint Issa" ini sesungguhnya setelah diteliti lebih lanjut, kisah ini sebenarnya tidak dianggap kanon oleh Buddhis Tibet.

Sampai akhirnya kisah yang diklaim oleh penulisnya ini diuji oleh beberapa peneliti lain baik dari ahli Alkitab, ahli Kristen dan sekuler pada tahun² berikutnya dan ditarik kesimpulan bahwa klaim "Saint Issa" adalah Yesus Kristus tidak bisa diterima kebenarannya, bahkan dikabarkan si penulisnya pun mengakui kesalahannya ini.

Tapi kenapa kisah yang jelas² tidak berdasar ini masih populer di kalangan non Kristen, selain warga Buddha tentunya, karena mereka lebih memahami kisah yang sebenarnya (seharusnya)? Apalagi kisah ini jadi sangat populer bagi mualaf² yang berkoar dimana-mana seolah-olah mereka memahami ajaran agama sebelumnya, padahal yang mereka koar²kan itu adalah sebuah informasi yang salah.

Saya pribadi menjawabnya begini karena mereka terbiasa tidak pernah mengkroscek atau memversuskan suatu klaim dengan sumber primer, mereka sudah cukup senang akan klaim² semu yang tidak berdasar.

Mungkin dilain waktu saya akan membahas soal tahun² yang hilang dari Yesus Kristus ini, kemana Yesus berada selama tahun yang tidak dijelaskan oleh Alkitab. Tentunya kita harus menggunakan sumber informasi lain, karena tidak bisa kita hanya berdasar pada Alkitab saja, Alkitab sendiri baru dikanonisasi pada tahun 363 M. Ada banyak kisah² lisan yang diketahui oleh para saksi primer yang dituliskan dalam tradisi gereja yang bertahan turun-temurun sejak kisah itu terjadi.

Meskipun dalam Kristen Protestan tidak terlalu berfokus pada tradisi gereja, namun untuk menjelaskan sesuatu hal atau informasi yang benar, informasi dari semua sumber harus digunakan. Memang benar Alkitab jadi pedoman, tapi untuk memberikan penjelasan yang lebih komprehensif dirasa perlu mencari sumber lainnya. Ingat, janganlah kita menjadi seperti keyakinan yang lahir pada abad ke-7, jadilah orang Kristen yang cerdas dan benar dalam memahami suatu informasi.

Segitu saja sih bahasan saya soal kisah hoax perjalanan Yesus ke India, Tibet atau ke dunia timur. Meskipun itu bisa saja terjadi, namun dari klaim sebuah buku yang salah inilah hoax dan kisah populer yang salah berkembang, untuk itu kita yang tahu harus menjelaskan kebohongan itu. Sampai jumpa dipostingan yang lainnya. -cpr

#onedayonepost
#sejarah
#informasi
#opini
#yesusbelajarbudha
#hoax

Jumat, 15 Mei 2026

Istilah Armageddon, Asal-usulnya

Sering kita mendengar kata 'armagedon', biasanya kata ini digunakan untuk merujuk pada hari kiamat. Oh iya, ada juga film dengan menggunakan kata ini sebagai judulnya. 

Hari ini bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Yesus ke Surga, ketika firman Allah disebutkan sebuah kata yang sama, 'armageddon', karena berkenan dengan janji Yesus Kristus akan kedatangannya kedua kalinya nanti. 

Sebenarnya dari mana sih kata armageddon ini? 

Ilustrasi perang akhir jaman disiapkan by Gemini

Jadi dari yang saya ketahui ketika mencari kisah² apokaliptik religius, saya menemukan asal-usul kata armagedon ini berasal. 

Ternyata kata armageddon ini berasal dari bahasa Ibrani, "Har Megiddo", yang berarti Gunung Megiddo. 

Lalu apakah Gunung Megiddo itu nyata atau hanya hayalan, fiksi, imajinasi seperti kisah dongeng saduran yang dinyatakan sebagai wahyu dari langit? 

Tentunya tidak ya, dalam Kekristenan hampir mayoritas bisa dibuktikan dengan fakta sejarah, atau setidaknya itu ada nyata di dunia ini. Dan berasal dari sumber primer, bukan main asal klaim, yang mengaku-aku dari jazirah Arab tapi mengaku-aku apa yang ada di tanah orang Ibrani. 

Megiddo adalah sebuah lembah di Israel utara yang secara historis menjadi lokasi pertempuran besar di masa purbakala, seperti pertempuran tahun 609 SM yang melibatkan Raja Yosia.

Saat ini daerah Megiddo masih ada namanya, dikenal dengan nama daerah Tel Megiddo atau Megiddo, merupakan lembah di Israel di dekat kota modern Megiddo. Tempat ini punya terjemahan dalam bahasa Arab yaitu Tell al-Mutesellim. 

Di lembah Megiddo ini ditemukan 26 reruntuhan kota kuno di depan pintu masuk Gunung Karmel. Dahulu tempat ini merupakan jalur rute perdagangan yang menghubungkan Mesir dan Siria. Situs ini telah berdiri sejak 7000 SM sampai 500 SM.

Bukti lain yang menyebutkan bahwa tempat ini nyata sudah ada sejak jaman kuno, adalah dari catatan Mesir kuno dimana salah satu Raja Mesir atau Fir'aun Thutmose III mengadakan perang ke kota Megiddo tahun 1478 SM. Informasi ini dideskripsikan secara detail pada tulisan hieroglyph yang ditemukan di sebuah kuil di Mesir. 

Saat ini di jaman modern, Megiddo merupakan persimpangan jalan utama yang menghubungkan Israel pusat dengan Galilea dan wilayah bagian utara. 


Sejak jaman kuno hingga modern, Megiddo memang kerap jadi tempat berperang, mungkin jika di babat Hindu, tanah ini adalah medan Kurusetra lokasi perang antara Pandawa dan Korawa. 

Berikut ini beberapa perang yang pernah terjadi di Megiddo ini:
⚔️ Abad ke-15 SM : Peperangan antara pasukan Firaun Mesir, yaitu Thutmose III dengan Rakyat Kanaan yang dipimpin oleh penguasa Megiddo dan Kadesh. 

⚔️ Tahun 609 SM : Peperangan antara Firaun Nekho dari Kerajaan Mesir dengan Kerajaan Yehuda, di mana raja Yosia terluka dan kemudian wafat.

⚔️ Tahun 1918 : Peperangan selama Perang Dunia I antara sekutu, dipimpin oleh Jenderal Edmund Henry Hynman Allenby, dengan pasukan Ottoman. 


Di daerah Megiddo ini ditemukan gereja kuno saat dilakukan penggalia pada tahun 2005, Arkeolog Israel, Yotam Tepper, dari Universitas Tel Aviv menemukan reruntuhan gereja ini yang diyakini berasal dari abad ke-3, ketika Kekristenan masih disiksa oleh Kekaisaran Romawi. 

Di reruntuhun  gereja kuno ini terdapat "Mosaik" berukuran kira-kira 54 meter persegi dengan bahasa Yunani yang menjelaskan status bahwa gereja itu berkonsentrasi pada Yesus Kristus.


Kita kembali lagi ke Armageddon tadi. Kata ini diambil dari bahasa Ibrani. Alkitab dalam Kitab Wahyu yang ditulis oleh Rasul Yohanes yang adalah murid Yesus, menyebutkan pada nubuatan apokaliptik ini bahwa pada akhir jaman akan ada perang besar antara kekuatan surgawi dengan kekuatan antikristus yang didukung sekutunya iblis. 

Jika merujuk pada terjemahan Alkitab pada Kitab Wahyu, armageddon ditulis dengan kata 'harmagedon'. 

Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon. (Wahyu 16: 16) 

Kitab Wahyu berisikan mengenai nubuatan akhir jaman, dimana di sini ditulis kiasan² dengan gaya bahasa yang metafora, yang seperti tidak mungkin terjadi di dunia nyata, yakni soal 'naga merah berkepala tujuh' dan lain sebagainya. Yohanes menuliskannya juga berdasarkan apa yang dia ketahui dan pahami, lokasi tempat 'harmagedon' ini dipilih karena memang punya keterkaitan dengan perang² besar pada masa sebelumnya, sehingga tempat inilah yang dipilih dalam tulisan² nya. 

Untuk sementara itu dulu yang bisa saya bagikan, sembari saya menyelesaikan membaca Kitab Wahyu agar menjadi satu kesatuan yang utuh, memahami nubuat Rasul Yohanes. Akan saya lanjutkan pada postingan berikutnya. -cpr

#onedayonepost
#informasi
#sejarah
#kitabwahyu
#armagedon

Jumat, 08 Mei 2026

Refleksi dari Seorang Yudas Iskariot

Pernahkah ada yang mengetahui seseorang yang bernama Yudas Iskariot dijaman saat ini? Atau ada orang tua yang memberikan nama untuk anaknya 'Yudas Iskariot'?
Rasanya ya tidak ada ya, kalau kalian mengetahui ada, mohon dishare di kolom komentar ya. 

Nama itu sudah sangat melekat dengan kata 'pengkhianatan', bukan sekedar pengkhianatan biasa tapi ini benar² mengkhianati guru dan Tuhannya sendiri. 

Ilustrasi, ketika Yesus ditangkap di Taman Getsemani, gambar disiapkan by Gemini

Selama ini kita menyadari dan mengetahui bahwa Yudas menjual Yesus kepada ahli² Taurat Yahudi dengan harga 30 keping perak. Kita menganggapnya selama ini itu hanya motif ekonomi, jika tidak memahami nilai 30 keping perak itu senilai apa? Bagi yang orang awam Kristen atau bahkan mayoritas yang non Kristen pasti menilai motif itu hanya soal uang. 

Tapi ternyata ada refleksi lain yang bisa kita reflektifkan dari peristiwa Yudas mengkhianati Yesus ini. 

Jika menonton serial The Chosen, kisah tentang Yesus yang dibuat lebih panjang, kita bisa mengenal karakter² dari murid-murid Yesus, termasuk Yudas Iskariot. 


Nilai 30 keping perak itu dalam Alkitab, menurut sosial masyarkat Yahudi saat itu, bernilai atau senilai dengan harga seorang budak yang mati ditanduk sapi, iya itu harga tukar guling (baca: ganti rugi) seorang budak itu. 

Nominal yang sangat rendah dan menghina ketika ditimpakan kepada Yesus yang adalah seorang guru, diserupakan dengan seorang budak. 

Seharusnya jika motifnya itu soal uang, finansial, harga yang harusnya ditukar minimal adalah harga seorang guru atau rabi, karena Yesus adalah seorang guru dan rabi, setidaknya itu yang diketahui banyak orang, bahkan ahli² Taurat mengetahui bahwa Yesus kerap disapa guru dan rabi oleh banyak orang 

Nominal yang diperoleh sebagai 'ganti rugi' itu harusnya lebih besar dari yang harga seorang budak yang mati tertusuk tanduk sapi. 


Kita kembali ke film series The Chosen lagi. Kalau kita menonton serial itu, dikisahkan Yudas menjabat sebagai bendahara dari kelompok Yesus. Dimana itu jabatan yang cukup elit, dia mengatur arus kas dan keuangan komunitas. 

Yudas didapuk diposisi itu karena memang dia mampu, itu keahliannya. Namun cara dia (baca: Yudas) mengatur keuangan ini berbeda visi dan misi dengan pelayanan komunitas yang Yesus ciptakan. 

Yudas melihat segala sesuatu ada muatan ekonominya. Karena dalam pelayanan butuh dana, dana ini harus diperoleh dari memutarkan apa yang ada. Sedangkan Yesus tidak ke arah sana, sehingga muncul kekecewaan dalam diri Yudas. Ada konflik perbedaan pandangan ini yang akhirnya membuat munculnya 'kepahitan' dalam diri Yudas. 

Hingga pada akhirnya, Yudas rela menjual Yesis dengan harga 'seadanya'. Karena jika Yudas ingin mengambil keuntungan finansial dari transaksi ini, tentunya harga yang dibayar tidak semurah itu. 


Terkadang kita pun berlaku seperti Yudas, pelayanan selalu diukur atau dibenturkan dengan finansial, bahkan yang lebih parah mencari keuntungan dari hal itu. Ini sebuah kesalahan dan Yesus tidak menginginkan demikian, jika kita tetap memaksakan diri maka kita inilah Yudas² jaman modern, ditambah lagi ketika ada rasa kepahitan yang secara gak sadar menyalahkan Tuhan. 

Bahkan ada pula yang meninggalkan iman, menggadaikan imannya demi keuntungan finansial. Kita bisa amati ini dalam kehidupan sehari-hari, berefleksi dari influencer yang berkecimpung di dunia skincare yang baru² ini terkena kasus 'penipuan' produk skincare yang dia jual. Dulu dia adalah seorang penganut Kristen, tapi kita melihat demi keuntungan finansial tertentu rela menjual imannya untuk dikonversi guna menarik banyak pengikut karena status dia yang pindah agama. Agar bisnisnya makin meroket. Tapi pada akhirnya dia menerima ganjarannya, usaha apa yang dia lakukan ternyata tidak jujur.

Tapi dari sini Tuhan lebih tahu, karena Dia yang memilih kita menjadi pengikut-Nya, jika kita memang tak layak pasti kita akan dilepaskan-Nya. Jika kita memang pantas Dia pilih, sebagaimana sulitnya kita akan terus Dia jaga, terus dibentuk dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi seiring masalah yang dihadapi. 

Percayalah bahwa kita ada hingga saat ini, itu adalah Tuhan yang pilih, bukan kita yang memilih-Nya. Sama halnya Yudas juga awalnya Tuhan pilih, namun pada akhirnya Yudas malah memilih untuk mengingkari dan menyerahkan Tuhannya demi 'membayar' rasa kepahitanya tersebut. 

Kita bisa belajar dari tokoh Alkitab Yudas Iskariot, bukan mencontoh yang buruk tapi memahami hal yang Yudas lakukan itu salah, dan jangan mengulangi kesalahan itu lagi. Entah siapa pun nama yang kamu sandang, hendaklah jangan meniru perilaku Yudas Iskariot. -cpr

#onedayonepost
#refleksi
#yudasiskariot

Jumat, 17 April 2026

Dasar Istilah 'Perjanjian Baru' Digunakan Oleh Murid-murid Yesus

Orang Kristen pasti tidak asing dengan kata "Perjanjian Baru", juga " Perjanjian Lama", itu adalah nama atau penyebutan untuk kumpulan kitab-kitab yang ada dalam Alkitab Kristen atau umat Kristiani secara umum. Walaupun untuk Kristen Protestan dan Kristen Katolik atau Ortodoks pun ada sedikit saja perbedaan dari sisi pengakuan atas kitab-kitab tertentu. 

Namun dua istilah tersebut di atas pasti tidak asing ditelinga. Dimana "Perjanjian Baru" merujuk pada kitab-kitab yang memuat kisah tentang Yesus Kristus dan setelahnya, sedangkan "Perjanjian Lama" merujuk pada kitab-kitab yang memuat kisah perjanjian Allah dengan Bangsa Israel. 

Ilustrasi dibantu disiapkan chatgpt

Sekarang pada postingan ini mau membahas begini, kenapa murid-murid Yesus menggunakan istilah "Perjanjian Baru" pada kitab-kitab yang ditulis untuk mewartakan kabar sukacita ini? Inilah yang mau saya catat, why -nya itu apa. 

Jadi menurut sejarah kitab-kitab yang ada dalam Perjanjian Baru, kitab tertua adalah kitab-kitab yang dituliskan oleh Rasul Paulus, bukan kitab-kitab Injil. Itu sekedar fakta yang perlu diketahui, karena bisa saja digunakan oleh orang non Kristen untuk menyerang keyakinan orang yang sedikit pehamanannya tentang Kekristenan. 

Kitab Injil yang paling tua adalah Injil Markus, ditulis sekitar tahun 70 M, ditulis setelah kitab-kitab atau surat-surat Paulus. 

Lalu selanjutnya kenapa digunakan frasa kata 'perjanjian'? Kata perjanjian itu diambil dari bahasa Yunani, 'diatheke' yang mempunyai arti 'kesepakatan'. 

Pada kitab-kitab Perjanjian Lama, secara umum berisi kesepakatan yang dijalin Allah dengan umat Israel. Dalam kitab-kitab ini pulalah Allah memilih umat Israel sebagai umat pilihan-Nya. Kesepakatan ini secara umum terangkum dalam Hukum Taurat. 

Sekitar 600 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus, kita tahu soal nubuat Nabi Yeremia, dimana ada 'perjanjian baru', dimana didasarkan pada hubungan batin antara manusia dan Allah. 

Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian Baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.  Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yeremia 31: 31 - 34) 

Tulisan yang saya beri cetak tebal itu menunjukan bahwa karena nubuatan Nabi Yeremia inilah dasar frasa kata 'Perjanjian Baru' digunakan untuk kitab-kitab yang ada setelahnya (baca: Perjanjian Lama) yaitu kitab-kitab Injil dan surat-surat murid-murid Yesus lainnya. 

Kemudian dari nubuatan itu pula dituliskan bahwa perjanjian sebelumnya sebenarnya telah berakhir oleh karena pengingkaran umat Allah pada ketetapan Allah. 

Berdasarkan nubuatan itu, para penulis kitab-kitab yang tergabung dalam 'perjanjian baru' terinspirasi menggambarkan karya-karya Allah dalam diri Yesus Kristus. 

Secara umum kitab-kitab dalam perjanjian Baru itu ditulis 100 tahun setelah masa Yesus. Ini adalah catatan yang paling primer dekat dengan asal muasal waktu kejadian. 

Jadi apabila ada catatan atau kitab yang secara waktu ditulis atau ditemukan tidak lebih dekat dari masa ini tidak sulit untuk menganggap catatan itu valid atau bisa dipercaya, apalagi ketika menciptakan ceritanya sendiri (mengarang bebas), apalagi disesuaikan dengan teologi baru. 

Cetak hitam adalah klaim dan opini saya sebagai penulis yang mengkritisi para pengkritik non Kristen yang sering mengganggu keimanan Kristen, apalagi pernyataan² yang digunakan para mualaf yang sok tahu. 

Kita kembali lagi ke pembahasan.  Jadi secara umum kitab-kitab yang ditulis ini mengarahkan kepada pribadi Yesus Kristus. Kitab-kitab Injil baik Markus, Matius, Lukas dan Yohanes menuliskan tentang Yesus Kristus dari sudut pandang dan gaya penulisan mereka masing-masing, dimana secara umum isinya adalah tentang perjalanan hidup Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. 

Sedangkan kitab-kitab atau surat-surat yang dituliskan oleh para rasul (Kisah Para Rasul), menceritakan tentang kebangkitan Yesus Kristus. Selain itu juga mengabarkan pemberitaan karya Yesus Kristus, serta penafsiran dari ajaran Yesus yang terjadi pada masa jemaat perdana. 

Dari surat-surat itu pula kita yang hidup di jaman sekarang bisa mengetahui gambaran kehidupan jemaat perdana dan pengalaman iman mereka. 


Meskipun pada keseharian Yesus dan para rasul-Nya menggunakan bahasa Aram, kitab-kitab perjanjian baru sejak awal ditulis dalam bahasa Yunani sehari-hari. 

Para penulis dari kitab-kitab perjanjian baru ini pun mendapatkan kitab-kitab perjanjian lama dalam tulisan terjemahan berbahasa Yunani (Septuaginta). Umumnya kitab yang terjemahan berbahasa Yunani itu diterjemahkan dari tulisan berbahasa Ibrani. 

Kondisi saat ini naskah² kitab-kitab perjanjian baru yang asli saat ini tinggal kepingan, malah sudah ada yang musnah karena termakan usia. 

Meski begitu salinan² teks dari kitab-kitab perjanjian baru yang ditulis tangan masih tersedia karena dilakukan secara turun-temurun. Salinan yang paling tua berbahasa Yunani berasal dari abad ke-4. Ada pula kepingan tulisan paling tua berasal dari tahun 125.

Selain itu juga terdapat salinan lain dari terjemahan bahasa Koptik,  Siria, dan Latin yang juga masih ada. 

Semua itu membutuhkan proses yang panjang hingga menjadi kitab yang bisa kita baca saat ini, butuh waktu hingga 300 tahun untuk menyusunnya dalam bentuk buku baku yang kita kenal sebagai Alkitab. Jadi bukan ujug² jatuh dari langit dalam bentuk buku melainkan melalui proses yang panjang dan penetapan yang tidak sembarangan, namun berdasarkan dasar yang valid dan prinsip sumber primer, bukan dari dongeng, comot, atau bahkan hasil modifikasi dari juru tulisnya. 


Segitu saja informasi menarik mengenai Alkitab, semoga bisa menambah pengetahuan seputar katekisasi Kekristenan, agar makin paham dunia Kristen. Agar mampu menepis keraguan dari mereka non Kristen yang mencoba mengusik. -cpr

#onedayonepost
#informasi
#sejarah
#perjanjianbaru

Jumat, 10 April 2026

Perbedaan GKJW dan GKJ

Sering sekali orang non Kristen Protestan salah memahami soal GKJW dan GKJ. Dikiranya sama dan serupa, sering dianggap gerejanya orang Jawa. Kemudian gaya gereja beraliran presbiterian sinodal. Gereja ini berakar dari tradisi Reformed (Calvinis). 


Nah, pada postingan kali ini kita akan membahas serba-serbi keduanya supaya memahami perbedaannya dan persamaanya.

Ilustrasi, gambar disiapkan oleh chatgpt

GKJ (Gereja Kristen Jawa)
Secara eklesiologi, GKJ menganut teologi Calvinis dan menerapkan sistem pemerintahan gereja Presbiterian. Pengelolaan jemaat dilakukan oleh penatua dan pendeta secara bersama-sama.

*eklesiologi adalah sub-disiplin ilmu teologi Kristen yang mempelajari hakikat, fungsi, struktur dan misi gereja. Eklesiologi membahas gereja bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebagai tubuh Kristus dan komunitas orang beriman. 

Wilayah persebaran gereja ini mayoritas di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Meski begitu, GKJ tersebar di beberapa wilayah Provinsi di Indonesia diantaranya di Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Terdapat 344–346 gereja (jemaat). 

Dalam perkembangan gereja mula-mula dimula-mula dari Zending Belanda yang ada di wilayah Jawa Tengah, yang akhirnya berkembang dengan identitas sendiri (Jawa). Terikat dengan budaya Jawa namun lebih formal dibandingkan dengan GKJW. 

Liturgi lebih tertata dan seragam. Pengelolaan gereja dengan sistem sinodal. GKJ tidak berdiri sendiri-sendiri sesuai dengan daerah dimana gereja itu berdiri, tapi mempunyai pusat Sinode yang mengatur dan mempersatukan seluruh jemaat.

Pusat Sinode GKJ berada di Salatiga, Jawa Tengah. 


GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan)
Dari nama saja ini jelas jadi pembeda, 'Jawi Wetan' artinya adalah Jawa Timur. Hal ini menjadi penunjuk bahwa komunitas gereja ini berkembang mayoritas di wilayah Jawa Timur, ini yang jadi pembeda dengan GKJ. 

Akar sejarahnya gereja mula-mula dari Zending Belanda yang berkembang di wilayah Jawa Timur. Dengan gaya reformed (Calvinis). 

GKJW lebih kental dalam hal budaya Jawa dari sisi penggunaan Jawa, tembang, hingga simbol² lokal. Liturginya lebih kental dengan unsur-unsur budaya Jawa, lebih kontekstual. 


GKJW sering disebut gereja pribumi Jawa Timur karena sangat menyatu dengan budaya lokal. Terdapat sekitar ±180–181 jemaat (gereja lokal). 


GKJW juga mempunyai pusat Sinode, tidak berdiri sendiri² sebagai gereja lokal. Majelis Agung GKJW berada di Kota Malang, Jawa Timur. 



Kedua gereja ini sama² tergabung dalam Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). 

Dari sini sepertinya kita sudah lebih mudah memahami perbedaan dari kedua gereja Jawa ini, sehingga ke depan kita tidak bingung lagi membedakan keduanya. -cpr

#onedayonepost
#gkjw
#gkj