Jumat, 17 April 2026

Dasar Istilah 'Perjanjian Baru' Digunakan Oleh Murid-murid Yesus

Orang Kristen pasti tidak asing dengan kata "Perjanjian Baru", juga " Perjanjian Lama", itu adalah nama atau penyebutan untuk kumpulan kitab-kitab yang ada dalam Alkitab Kristen atau umat Kristiani secara umum. Walaupun untuk Kristen Protestan dan Kristen Katolik atau Ortodoks pun ada sedikit saja perbedaan dari sisi pengakuan atas kitab-kitab tertentu. 

Namun dua istilah tersebut di atas pasti tidak asing ditelinga. Dimana "Perjanjian Baru" merujuk pada kitab-kitab yang memuat kisah tentang Yesus Kristus dan setelahnya, sedangkan "Perjanjian Lama" merujuk pada kitab-kitab yang memuat kisah perjanjian Allah dengan Bangsa Israel. 

Ilustrasi dibantu disiapkan chatgpt

Sekarang pada postingan ini mau membahas begini, kenapa murid-murid Yesus menggunakan istilah "Perjanjian Baru" pada kitab-kitab yang ditulis untuk mewartakan kabar sukacita ini? Inilah yang mau saya catat, why -nya itu apa. 

Jadi menurut sejarah kitab-kitab yang ada dalam Perjanjian Baru, kitab tertua adalah kitab-kitab yang dituliskan oleh Rasul Paulus, bukan kitab-kitab Injil. Itu sekedar fakta yang perlu diketahui, karena bisa saja digunakan oleh orang non Kristen untuk menyerang keyakinan orang yang sedikit pehamanannya tentang Kekristenan. 

Kitab Injil yang paling tua adalah Injil Markus, ditulis sekitar tahun 70 M, ditulis setelah kitab-kitab atau surat-surat Paulus. 

Lalu selanjutnya kenapa digunakan frasa kata 'perjanjian'? Kata perjanjian itu diambil dari bahasa Yunani, 'diatheke' yang mempunyai arti 'kesepakatan'. 

Pada kitab-kitab Perjanjian Lama, secara umum berisi kesepakatan yang dijalin Allah dengan umat Israel. Dalam kitab-kitab ini pulalah Allah memilih umat Israel sebagai umat pilihan-Nya. Kesepakatan ini secara umum terangkum dalam Hukum Taurat. 

Sekitar 600 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus, kita tahu soal nubuat Nabi Yeremia, dimana ada 'perjanjian baru', dimana didasarkan pada hubungan batin antara manusia dan Allah. 

Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian Baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.  Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yeremia 31: 31 - 34) 

Tulisan yang saya beri cetak tebal itu menunjukan bahwa karena nubuatan Nabi Yeremia inilah dasar frasa kata 'Perjanjian Baru' digunakan untuk kitab-kitab yang ada setelahnya (baca: Perjanjian Lama) yaitu kitab-kitab Injil dan surat-surat murid-murid Yesus lainnya. 

Kemudian dari nubuatan itu pula dituliskan bahwa perjanjian sebelumnya sebenarnya telah berakhir oleh karena pengingkaran umat Allah pada ketetapan Allah. 

Berdasarkan nubuatan itu, para penulis kitab-kitab yang tergabung dalam 'perjanjian baru' terinspirasi menggambarkan karya-karya Allah dalam diri Yesus Kristus. 

Secara umum kitab-kitab dalam perjanjian Baru itu ditulis 100 tahun setelah masa Yesus. Ini adalah catatan yang paling primer dekat dengan asal muasal waktu kejadian. 

Jadi apabila ada catatan atau kitab yang secara waktu ditulis atau ditemukan tidak lebih dekat dari masa ini tidak sulit untuk menganggap catatan itu valid atau bisa dipercaya, apalagi ketika menciptakan ceritanya sendiri (mengarang bebas), apalagi disesuaikan dengan teologi baru. 

Cetak hitam adalah klaim dan opini saya sebagai penulis yang mengkritisi para pengkritik non Kristen yang sering mengganggu keimanan Kristen, apalagi pernyataan² yang digunakan para mualaf yang sok tahu. 

Kita kembali lagi ke pembahasan.  Jadi secara umum kitab-kitab yang ditulis ini mengarahkan kepada pribadi Yesus Kristus. Kitab-kitab Injil baik Markus, Matius, Lukas dan Yohanes menuliskan tentang Yesus Kristus dari sudut pandang dan gaya penulisan mereka masing-masing, dimana secara umum isinya adalah tentang perjalanan hidup Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. 

Sedangkan kitab-kitab atau surat-surat yang dituliskan oleh para rasul (Kisah Para Rasul), menceritakan tentang kebangkitan Yesus Kristus. Selain itu juga mengabarkan pemberitaan karya Yesus Kristus, serta penafsiran dari ajaran Yesus yang terjadi pada masa jemaat perdana. 

Dari surat-surat itu pula kita yang hidup di jaman sekarang bisa mengetahui gambaran kehidupan jemaat perdana dan pengalaman iman mereka. 


Meskipun pada keseharian Yesus dan para rasul-Nya menggunakan bahasa Aram, kitab-kitab perjanjian baru sejak awal ditulis dalam bahasa Yunani sehari-hari. 

Para penulis dari kitab-kitab perjanjian baru ini pun mendapatkan kitab-kitab perjanjian lama dalam tulisan terjemahan berbahasa Yunani (Septuaginta). Umumnya kitab yang terjemahan berbahasa Yunani itu diterjemahkan dari tulisan berbahasa Ibrani. 

Kondisi saat ini naskah² kitab-kitab perjanjian baru yang asli saat ini tinggal kepingan, malah sudah ada yang musnah karena termakan usia. 

Meski begitu salinan² teks dari kitab-kitab perjanjian baru yang ditulis tangan masih tersedia karena dilakukan secara turun-temurun. Salinan yang paling tua berbahasa Yunani berasal dari abad ke-4. Ada pula kepingan tulisan paling tua berasal dari tahun 125.

Selain itu juga terdapat salinan lain dari terjemahan bahasa Koptik,  Siria, dan Latin yang juga masih ada. 

Semua itu membutuhkan proses yang panjang hingga menjadi kitab yang bisa kita baca saat ini, butuh waktu hingga 300 tahun untuk menyusunnya dalam bentuk buku baku yang kita kenal sebagai Alkitab. Jadi bukan ujug² jatuh dari langit dalam bentuk buku melainkan melalui proses yang panjang dan penetapan yang tidak sembarangan, namun berdasarkan dasar yang valid dan prinsip sumber primer, bukan dari dongeng, comot, atau bahkan hasil modifikasi dari juru tulisnya. 


Segitu saja informasi menarik mengenai Alkitab, semoga bisa menambah pengetahuan seputar katekisasi Kekristenan, agar makin paham dunia Kristen. Agar mampu menepis keraguan dari mereka non Kristen yang mencoba mengusik. -cpr

#onedayonepost
#informasi
#sejarah
#perjanjianbaru

Jumat, 10 April 2026

Perbedaan GKJW dan GKJ

Sering sekali orang non Kristen Protestan salah memahami soal GKJW dan GKJ. Dikiranya sama dan serupa, sering dianggap gerejanya orang Jawa. Kemudian gaya gereja beraliran presbiterian sinodal. Gereja ini berakar dari tradisi Reformed (Calvinis). 


Nah, pada postingan kali ini kita akan membahas serba-serbi keduanya supaya memahami perbedaannya dan persamaanya.

Ilustrasi, gambar disiapkan oleh chatgpt

GKJ (Gereja Kristen Jawa)
Secara eklesiologi, GKJ menganut teologi Calvinis dan menerapkan sistem pemerintahan gereja Presbiterian. Pengelolaan jemaat dilakukan oleh penatua dan pendeta secara bersama-sama.

*eklesiologi adalah sub-disiplin ilmu teologi Kristen yang mempelajari hakikat, fungsi, struktur dan misi gereja. Eklesiologi membahas gereja bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebagai tubuh Kristus dan komunitas orang beriman. 

Wilayah persebaran gereja ini mayoritas di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Meski begitu, GKJ tersebar di beberapa wilayah Provinsi di Indonesia diantaranya di Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Terdapat 344–346 gereja (jemaat). 

Dalam perkembangan gereja mula-mula dimula-mula dari Zending Belanda yang ada di wilayah Jawa Tengah, yang akhirnya berkembang dengan identitas sendiri (Jawa). Terikat dengan budaya Jawa namun lebih formal dibandingkan dengan GKJW. 

Liturgi lebih tertata dan seragam. Pengelolaan gereja dengan sistem sinodal. GKJ tidak berdiri sendiri-sendiri sesuai dengan daerah dimana gereja itu berdiri, tapi mempunyai pusat Sinode yang mengatur dan mempersatukan seluruh jemaat.

Pusat Sinode GKJ berada di Salatiga, Jawa Tengah. 


GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan)
Dari nama saja ini jelas jadi pembeda, 'Jawi Wetan' artinya adalah Jawa Timur. Hal ini menjadi penunjuk bahwa komunitas gereja ini berkembang mayoritas di wilayah Jawa Timur, ini yang jadi pembeda dengan GKJ. 

Akar sejarahnya gereja mula-mula dari Zending Belanda yang berkembang di wilayah Jawa Timur. Dengan gaya reformed (Calvinis). 

GKJW lebih kental dalam hal budaya Jawa dari sisi penggunaan Jawa, tembang, hingga simbol² lokal. Liturginya lebih kental dengan unsur-unsur budaya Jawa, lebih kontekstual. 


GKJW sering disebut gereja pribumi Jawa Timur karena sangat menyatu dengan budaya lokal. Terdapat sekitar ±180–181 jemaat (gereja lokal). 


GKJW juga mempunyai pusat Sinode, tidak berdiri sendiri² sebagai gereja lokal. Majelis Agung GKJW berada di Kota Malang, Jawa Timur. 



Kedua gereja ini sama² tergabung dalam Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). 

Dari sini sepertinya kita sudah lebih mudah memahami perbedaan dari kedua gereja Jawa ini, sehingga ke depan kita tidak bingung lagi membedakan keduanya. -cpr

#onedayonepost
#gkjw
#gkj

Senin, 23 Februari 2026

Membaca Alkitab Seperti Juga Seperti Membaca Kisah Sejarah

Semua agama sangat menekankan umat yang memeluk suatu agama membaca Kitab Suci agamanya masing-masing, karena di sana banyak tersimpan pesan² teologi dan pesan moral yang baik dan benar sesuai keyakinan agamanya masing-masing. 

Begitu juga dengan orang Kristiani yang punya Alkitab, yang berisi kitab² dari Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. 

Meskipun dalam Kekristenan sendiri pada akhirnya ada dua kitab suci dengan kanon berbeda yang diakui, tetapi secara umum kitab sucinya sama dan sumbernya sama. Hanya perbedaan di kitab² Perjanjian Lama. Di Katolik mengakui 73 kitab dan di Kristen Protestan secara umum mengakui hanya 66 kitab. 

Ilustrasi, gambar dibantu dibuatkan chatgpt

Tapi yang mau saya bahas bukan perbedaan kitab sucinya tersebut. Tapi kepada impresi / persepsi yang dirasakan ketika membaca kitab demi kitab dari Alkitab Kristiani. 

Saya memang belum pernah menyelesaikan secara utuh Alkitab, karena masih sepenggal kitab per kitab, tidak utuh selesai baca semuanya. Tapi ketika saya membaca Alkitab, impresi saya seperti membaca kitab sejarah dari pov religius. 

Karena apa yang tertulis dalam Alkitab itu bisa dijumpai dalam catatan² sejarah dunia ini, terutama dari soal time line waktu tiap peristiwa yang terjadi bukanlah omong kosong belaka, atau malah copas atau malah saduran atau malah tiruan yang diserupakan dengan budaya/serapan baru. 

Bayangkan seperti ini, kisah mengenai Abraham, dimana Abraham itu hidup di tanah Kanaan, tanah itu ada di sekitaran Yerusalem, bukan di tanah Arab, tapi kenapa ada kisah yang mengadopsi seolah-olah Abraham itu orang Arab dengan penamaan yang diserupakan dengan ke-arab-araban menjadi Ibrahim. Sedangkan jika kisah yang ke-arab-araban itu dikonfrontir dengan catatan sejarah dunia koq ya gak sinkron. 

Ini saya ambil contoh saja sih, tokoh lainnya bisa diambil contoh, atau mau yang lebih nyata lagi ya ketika membahas Yesus Kristus, dimana mereka bisa punya ceritanya mereka sendiri, dengan penamaan tokoh² nya ya sesuai dengan 'universe' mereka, seperti ada yang dinamai Isa, kemudian ada tokoh Yahya, ada pula Mariam yang lucunya Mariam yang mereka maksud itu ternyata Mariam berbeda dengan Mariam yang mau mereka maksud sebagai ibu dari Isa. Jadi catatan yang mereka akui sebagai Kitab Suci seperti tumpang tindih tidak akurat. 


Itulah impresi yang saya rasakan ketika membaca Alkitab, dimana keterhubungan dengan sejarah dunia itu ada, membuktikan bahwa apa yang terjadi, karya Tuhan itu sunggu nyata, bukan sekedar drama religius. 

Seperti ketika saya tengah menuliskan kisah Ester yang berasal dari Kitab Ester, Perjanjian Lama. Di sana disinggung seorang raja Persia, ternyata di catatan sejarah dunia raja itu ada. Dunia mengenalnya Raja Xerxes I, catatan sejarah dan bukti sejarahnya ada. 

Jadi itulah yang saya katakan tadi bahwa membaca Alkitab itu impresinya seperti membaca kilasan sejarah tapi dari pov religius, melihat bagaimana karya Allah bekerja dalam setiap jalan hidup manusia dan peradaban. 

Ini opini saya pribadi, jadi jika ada yang ketidakasesuaian dengan apa yang jadi pandangan teman² ya harap dimaklumi, karena ini dari logika saya saja yang merasakan demikian. Bisa saja sesama Kristiani melihatnya hal yang berbeda. Jelas lagi yang non Kristiani pasti akan sangat berbeda sekali melihat hal ini, mungkin tidak akan terima dengan pandangan ini. 

Tapi selalu dalam setiap tulisan saya soal religiusitas selalu saya benturkan atau singgung dengan sejarahnya. Jika ada klaim yang merasa paling benar tapi tidak bisa dibuktikan dengan sejarahnya pasti akan saya jadikan bahan diskusi. Itu saja sih yang ingin saya sampaikan, tiba² terbersit saja dikepala ingin menyampaikan ini. -cpr

#onedayonepost
#opini
#coratcoret

Minggu, 22 Februari 2026

Musik: Walau Gunung Tak Berpindah (2000-an)

Ada lagu rohani yang mau saya share di sini, karena sudah lama juga gak menshare lagu rohani diblog ini. Kebetulan lagu rohani ini seperti melekat ditelinga saya dan ingin menyimpannya di sini. 

Judul lagunya Walau Gunung Tak Berpindah. Tidak diketahui kapan lagu ini rilis atau dipublish, tetapi internet mencatat lagu rohani ini mulai dikenal pada kisaran tahun 2000-an. Tidak diketahui pula catatan di internet siapa pencipta lirik nya. 

Tapi saya ada menemukan catatan bahwa lagu ini diciptakan liriknya oleh Kenny Sastro dan Yeshua Abraham sebagai komposrernya. Namun dua orang ini diketahui sebagai republish lagu ini pada 24 Januari 2025, dirilis dibawah label YG Production. 

Ilustrasi dibantu disiapkan chatgpt

Lagu ini didasarkan pada ayat Alkitab: Yesaya 54: 10.
Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau. 

Lagu rohani ini bergenre penyembahan, tema dalamnya kesetiaan dan kasih setia Tuhan yang tidak berubah. 

Ada makna teologis yang tersirat dalam lagu rohani ini:
✝️ Kasih Tuhan tidak bergantung pada situasi, kasih Tuhan ada setiap saat. Bahkan walau dunia berubah, Tuhan tetap setia. 

✝️ Penguatan iman saat kita tengah dalam krisis,  dalam pergumulan, dan masalah. 

✝️ Tuhan punya janji yang akan Dia tepati pada umat-Nya. 

Lagu ini nuansanya reflektif, membuat kita diajak untuk berfleksi pada diri sendiri, sekaligus menguatkan akan kasih setia Tuhan itu nyata. 

Berikut ini saya bagikan lirik lagunya:
Verse:
Jiwaku bertanya
Apakah masih ada harapan?
melewati tangisan
rasa sesak di dada

Iman ku berkata
Tuhanku yang pegang kuasa
Dia selalu bekerja
Meski mata ku tak melihat

Chorus:
Walaupun gunung itu tak berpindah
Tetap percaya Kau yang punya kuasa
Sekalipun ku dalam lembah kelam
Tak mengapa asal Kau disampingku

Walaupun masalahku masih ada
Tetap percaya rencanaMu terindah
PribadiMu takkan pernah berubah
Iman yang aku pegang
PadaMu Tuhan yang setia

*lirik lagu di atas saya ambil dari lagu yang sama yang di-republish oleh Kenny Sastrao dan Yesua Abraham. 

Jika mencari lagu ini, terkadang disingkat menjadi WGTB (Walau Gunung Tak Berpindah), kalian bisa mencarinya di Youtube dan telah dinyanyikan banyak grup praise & worship. 

Berikut beberapa yang saya pilihkan di Youtube:



Segitu saja share yang bisa saya bagikan mengenai musik rohani kali ini, kita jumpa lagi musik rohani lainnya. Tuhan memberkati kita semua. -cpr

#onedayonepost
#hiburanrohani
#youtube
#wgtb

Sabtu, 21 Februari 2026

Doa Kristen Itu Tanpa Perantara, Pahami 'why-nya'

Sering terjadi 'masalah' ketika frase ini saya gunakan, karena maklum saja saya adalah seorang Katolik awalnya, baru jalan mau setahun ini menjadi seorang Kristen. Terkadang frase kalimat doa penutup yang dipilih atau digunakan itu tidak sesuai dengan teologi Kristen. 

Iya memang benar soal teologi ini ada perbedaan, meskipun secara mendasar tidak ada maksud apapun memposisikan Kristus lebih rendah, bahkan sampai dikatakan sebagai 'kurir' karena Dia menjadi perantara. 

Hal yang sepele ini kadang jadi keributan di meja makan, entah saya sendiri juga heran, padahal bisa diluruskan dan dikondisikan supaya nanti tak terulang lagi karena tradisinya sudah berbeda saat ini. 

Ilustrasi dibantu disiapkan chatgpt

Pemahaman saya menggunakan frase kalimat tersebut karena memang kebiasaan dulu ketika berdoa, dan pemahaman saya Yesus Kristus adalah Allah yang saya percaya. Oleh karena Dia telah menjadi manusia yang saya kenal sebagai Yesus orang Nazeret, Dia jadi serupa dengan kita manusia, maka karena pemahaman Dia pernah jadi manusia itulah melalui perantara Nya lah doa kita dibawa kepada Bapa, tanpa menghilangkan kenyataan bahwa Dia-lah adalah Bapa yang kekal itu sendiri, karena dalam Dia lah Allah Bapa berada. Bapa dalam Dia dan Dia dalam Allah.

Itu pemahaman saya dan itu yang saya coba utarakan, yang menjadi pemicu 'diskusi' di meja makan. Yang menurutnya menjadi sebuah perderbatan dan bagi saya ini hal yang gak perlu, karena saya hanya mengutarakan 'why' yang saya pahami.

Karena kita mengenal Allah Bapa itu melalui diri Yesus Kristus yang menjadi manusia sama seperti kita, bedanya Dia tidak berdosa sedangkan kita berdosa. Jika Dia tidak menjadi manusia kita tidak akan mengenal Allah Bapa.

Ada tertulis, doa orang benar didengarkan oleh Tuhan. Lalu apakah doa orang yang selalu merasa benar juga didengarkan Tuhan? 

Saya pikir Tuhan akan selalu mendengarkan apapun yang kita sampaikan kepada Nya, tapi Tuhan selalu punya cara Nya untuk memberitahukan kebenaran yang sejati, karena sumber kebenaran hanya pada -Nya, dan Dia yang berhak membenarkan atau menyalahkan, karena itu Otoritas Nya. 

Pada post kali ini saya akan bagikan perbedaannya, why-nya, karena itu lebih penting dipahami. Daripada kita hanya diberitahu kata 'tidak' tapi tidak tahu kenapanya dan pemahamannya, tanpa menggurui. 


Dalam tradisi Katolik Roma, frase kalimat penutup doa yang sering menggunakan kalimat: "... dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin."

Frase kalimat penutup doa yang umum dikalangan umat Katolik Roma: Frase kalimat itu dipilih atas dasar biblis, alias dasar Alkitab nya ada dan tertulis jelas di sana. Seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 2: 5.
Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus. 

Selain pada itu, tertulis pula dalam Ibrani 7: 25.
Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

Kata "Ia" merujuk pada kuasa Allah Bapa, di sana tertulis bahwa "Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka." Lalu salahnya dimana ketika menggunakan frasa tersebut, toh Alkitab menuliskannya demikian. 

Jika merujuk pada Alkitab sebagai Otoritas utama, seharusnya frase penutup doa di atas tidaklah salah. Karena frase tersebut nyatanya biblis alias alkitabiah. 


Nah tapi permasalahannya bukanlah soal itu, orang Kristen mencoba melihat dari POV berbeda, bagi orang Kristen, memahami agar doa-doa kita itu disampaikan langsung kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan.

Jadi sebenarnya oleh karena sama saja kita berdoa kepada Yesus, kata 'perantara' itu dianggap tidak perlu, ibarat mubazir penggunaan kata. 

Seperti dalam bahasa Indonesia, "saya diberikan  hadiah sangat amat banyak sekali", nah penggunaan kata 'sangat' itu dianggap tidak perlu karena itu sudah dijelaskan oleh kata 'banyak sekali'. Kata 'perantara' di dalam frasa kalimat penutup doa (topik bahasan kita ini) dianggap tidak perlu, jadi dibuatlah langsung kepada Yesus Kristus yang Dia-lah Allah itu sendiri. 

Jadi ketika ada yang menyalahkan, itu juga gak tepat karena di Alkitab pun menuliskan demikian, jika begitu yang menyalahkan berarti menyalahkan apa yang ditulis di Alkitab. 

Tidak perlu salah-menyalahkan, tapi lebih baik menyampaikan "bahwa kalimat penutup doa itu kurang tepat digunakan dalam teologi Kristen". 

Jadi 'keributan' di meja makan tadi itu sebenarnya adalah sebuah kesia-siaan. Yang dibutuhkan cuma memahami saja. 


Sedangkan hal yang dianggap benar dari teologi Kristen sendiri sebenarnya tidak menolak Kristus sebagai perantara, ini yang perlu dipahami oleh yang menjudge bahwa yang disampaikan itu salah, teologi Kristen tidak menolak Kristus sebagai perantara, namun teologi Kristen memberikan penekanan pada beberapa hal ini:
✝️ Kita datang langsung dan berdoa kepada Bapa dalam nama Yesus

✝️ Tidak memakai istilah liturgis formal. 

✝️ Menekankan gaya berdoa yang lebih spontan dan relasi yang dekat seperti anak kepada Bapa, sehingga kata 'perantara' tidak diperlukan. 


Nah seharusnya apa yang disampaikan dan dijelaskan itu demikian, bukan menjudge sampai menggunakan istilah 'kurir'. Karena yang perlu dipahami bahwa Kristen sendiri tidak menolak 'perantara' karena Alkitab telah menuliskan demikian dan Kristen sangat memahami bahwa Alkitab adalah sebuah Otoritas utama, Sola Scriptura. 

Mungkin penjelasan seperti ini tidak akan bisa muncul di meja makan ketika sedikit informasi yang terlintas di kepala, tetapi ketika setelah membaca apa yang ditulis, setidaknya penjelasan bisa lebih terarah. 

Jadi kesimpulannya, ketika kamu adalah seorang Kristen, berdoalah sesuai rumusan yang umum digunakan diantaramu. Jika menggunakan rumusan lain itu tidak salah juga, hanya tidak tepat, karena hendaknya kamu memahami apa yang tepat digunakan. 

Ketika kamu sudah memahami apa yang menjadi 'why', itu kamu bisa memahami lebih dalam, sehingga penggunaan kata atau frase kalimat yang tidak tepat bisa dikondisikan (tidak perlu digunakan, gunakanlah yang tepat). 

Bisa dimaklumi jika masih 'tersandung' menggunakan frase kalimat penutup doa dengan cara yang sebelumnya, tapi seiring waktu jika dibiasakan pasti bisa menyesuaikan, ketika diperlukan begitu bisa disampaikan sesuai tempatnya. 

Mudah-mudahan penjelasan ini bisa diterima dan bisa jadi bahan pemahaman yang baik daripada sekedar membeda-bedakan sesuatu yang sumbernya sama yaitu Yesus Kristus. 

Yesus Kristus pun tidak pernah membeda-bedakan seseorang, Dia lebih tahu hati umat-Nya yang berdoa, karena pada dasarnya tidak ada maksud merubah pemahaman iman yang sejati bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri. 

Saya tidak ingin berdebat dan ribut soal perbedaan, karena kita semua adalah pengikut Kristus yang sama, justru manusialah yang membuat semuanya jadi berbeda dengan pemahamannya dan tafsir masing-masing, padahal jika kembali kepada apa yang tertulis jelas menujukan demikian, karena kita iman kita lahir dari Yesus Kristus yang sama. Semoga bisa dipahami jalan pikiran saya. -cpr

#onedayonepost
#iman
#re-action
#doa
#penutupdoa
#opini

Jumat, 20 Februari 2026

Konseling Pranikah di GBIS Hosana Pandaan (2)

Akhirnya tiba juga konseling pra nikah GBIS Hosana Pandaan untuk pertemuan pertama, tanggal 20 Februari 2026, dimulai pukul 19:00 di office sekretariat GBIS Hosana Pandaan. 

Pada postingan sebelumnya itu konseling pra nikah diawali dengan pasangan yang akan mengikuti sesi konseling mengisi daftar pertanyaan yang akan jadi bahan konseling nanti. Pada post kali ini akan saya share apa yang dibahas dari pertemuan yang dilakukan. Post sebelumnya bisa dibaca ditautan terlampir. 


Konseling pra nikah ini dipandu oleh Pdt. Otniel Rosa Setiawan, diikuti dua pasang mempelai yang akan menikah ada semester I tahun 2026 ini, termasuk saya dan pasangan saya. 

Ilustrasi dibuatkan oleh chatgpt

Materi awal konseling pra nikah kali ini membahas soal 'pendahuluan', kira² lebih ke pemahaman awal mengenai pernikahan itu, yang kelak menjadi dasar pemahaman ketika terjadi konflik dalam pernikahan. Pasangan diajak untuk memahami dasar awal atau esensi dua pribadi yang Allah ciptakan itu punya nilai yang sama. 

Ini sebenarnya merupakan sari pati apa yang pernah disampaikan Pdt. Otniel pada khotbah ibadah raya, saya pernah menuliskannya kembali isi yang saya tangkap ketika ibadah tersebut. 


Apa saja yang dibahas? 

Pasangan diajak untuk memahami apa itu konseling? Adalah proses bantuan profesional melalui percakapan terstruktur antara konselor dan konseli untuk membantu memahami diri, mengatasi masalah, mengambil keputusan, serta mengembangkan potensi diri. 

Dalam hal ini konselingnya berhubungan dengan 'pra nikah', jadi yang dibahas ya seputar kebutuhan dalam persiapan dalam membina rumah tangga / dalam lembaga pernikahan Kristen. 

Kami ditanya, apa tujuan pernikahan? 

Kami menjawab masing², ada yang menjalankan apa yang diperintahkan dalam Alkitab: karena tidak baik hidup sendiri, karena itu butuh pasangan hidup. Saya sendiri menjawab karena dalam hidup pilihannya ada dua, hidup selibat dan hidup bekerluarga, saya memilih untuk berkeluarga. 

Kami juga ditanya lagi, bagaimana ketika tujuan mu itu tidak tercapai pada akhirnya? 

*soal ini dijawab masing² saja ya dalam hati

Seharusnya tujuan pernikahan adalah Kristus, dan pernikahan itu justru bukanlah tujuan dari hidup, ketika memilih menikah itu artinya tujuannya mencari Kristus. Jadi pernikahan itu sarana untuk menuju kedewasaan Kristus. 

Pasangan harus mengenal dirinya dan pasangannya. Karena akan banyak masalah berasal dari masing² diri pasangan, pengasuhan anak, atau dari luar pasangan. Jika pasangan tidak mengenal dirinya dan pasangannya dan tidak punya tujuan yang sama (Kristus) maka akan mudah untuk tidak terhubung pada akhirnya, karena tujuannya berbeda-beda masing² pribadi, belum lagi ketika tujuan itu tidak terealisasi maka akan kecewa dan itu awal mula perpisahan. 

Bagi konselor 'dunia', perceraian adalah solusi ketika sudah tidak ada kecocokan dari pria dan wanita dalam ikatan pernikahan. Sedangkan gereja, sebaliknya, "tidak ada perceraian dalam pernikahan Kristen".

Berikut beberapa poin dalam pernikahan Kristen yang harus dipahami:

#1 Pernikahan Itu dari Allah
Pernikahan yang ideal itu adalah sah secara agama dan secara negara, artinya disahkan oleh lembaga agama dalam hal ini gereja dan disahkan oleh negara melalui lembaga pencatatan kependudukan dan sipil (baca: catatan sipil). 

Kejadian 1: 26 - 27
Intinya Allah menciptakan manusia karena bernilai dihadapan Allah, karena manusia serupa dan segambar dengan Allah. 
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 

Efesus 5: 22 - 33
Intinya pernikahan itu seperti hubungan Allah dengan jemaat-Nya. 
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 
karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 
untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 
supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,
karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 
Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 
Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Ada istilah 'unconditional love' yang harusnya jadi dasar pasangan Kristen dalam membina pernikahan, ketika terjadi suatu masalah. 

*seorang istri diuji ketika suami tidak mempunyai apa², sedangkan sebaliknya seorang suami diuji ketika dia mempunyai segalanya


#2 Pernikahan adalah dua menjadi satu
Pernikahan adalah antara pria dan wanita, dalam pernikahan Kristen tidak ada istilah atau pemakluman terhadap sesama jenis. Meskipun ada denominasi Kristen lain yang 'memaklumi' atau 'menghargai' keputusan itu. 

Tapi dasar Kristen yang benar mengikuti apa yang tertulis di Alkitab. 

Kejadian 2: 18
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Sepadan bukan bicara soal atribut atau kemampuan atau status apapun, belum ada sesuatu yang dicapai ketika mula². Tapi tentang keberadaan diri dan identitas pada awalnya. Masing² punya nilai bukan apa yang telah dicapai itu makna sepadan. Laki² dan perempuan punya nilai yang sama (dihadapan Allah). 


Arti sepadan : tidak ada yang lebih unggul atau lebih baik, dan sanggup untuk hidup bersama dan berproses. 

Arti sepadan saling melengkapi, mau mengikuti proses. 

Jadi dalam suatu keluarga (yang terdiri dari ayah dan ibu), merupakan sumber dari anak. Anak itu bersumber dari keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu. 

Dan sumber dari keluarga adalah dari seorang ayah, yang memiliki hubungan erat dengan Tuhan. Seorang ayah adalah sumber dari keluarga. Dari ayah yang seperti apa? Yaitu dari ayah yang punya hubungan erat dengan Tuhan, koneksi ayah dengan Tuhan adalah wajib. Koneksi adalah tanggung jawab yang wajib diemban seorang ayah.

Ayah harus punya Otoritas (+afeksi juga) dan ibu adalah sumber afeksi. 


#3 Pernikahan Tidak Boleh Terceraikan
Terkadang ada pemahaman yang salah bahkan di lingkungan Kristen, bahwa dalam Kekristenan perceraian itu dimungkinkan, karena sebagian orang salah memahami cuplikan ayat yang menyatakan demikian:

"Kata Yesus kepada mereka: Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu. . ..."

"Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

Terkadang kalimat itu dipahami sepotong tanpa dipahami secara utuh, padahal ada kalimat tertulis lain, "tetapi sejak semula tidaklah demikian."

Matius 19: 4 - 9
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"
Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 
Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" 
Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

Matius 19: 8
Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.

Di sana tertulis demikian, bahwa sejak semula sebenarnya tidak diizinkan adanya perceraian, "tetapi tidak semula tidaklah demikian".

Itu yang tidak dipahami oleh orang Kristen yang masih saja percaya bahwa Alkitab mengijinkan perceraian, padahal jika dipahami secara utuh dan runtut sejak Kitab Kejadian, sejak semula pria dan wanita diciptakan untuk jadi satu, tak terpisahkan, kecuali maut yang memisahkan. 

Namun ada pertanyaan menarik, ada sebagian orang Kristen yang berpendapat demikian: perceraian adalah solusi daripada hidup bersama namun tanpa kesatuan, karena tidak akan memberikan kebaikan, akan banyak yang dirugikan. Kata banyak ini merujuk pada pola asuh dan pendidikan anak, dimana anak akhirnya tumbuh jadi pribadi yang lemah, tidak berprinsip karena terombang ambing pada pilihan mendukung ayah atau ibunya, karena tanpa perceraian ayah dan ibu tetap tinggal bersama tapi tidak ada damai di sana, sehingga di dalamnya anak tidak mendapatkan bekal hidup yang benar. Malah lebih baik ketika suami istri bercerai, sehingga anak akan ikut salah satunya dan mendapatkan arah asuh dan pendidikan yang satu, tidak bingung. Lalu apakah perceraian adalah solusi? 

*pertanyaan ini mungkin akan dijawab pada sesi berikutnya, karena ini cukup mendasar karena jadi opini yang dirasa benar bagi sebagian orang. 


#4 Pernikahan adalah sarana, bukan tujuan
Poin ini kembali menegaskan bahwa ketika pasangan memilih untuk menikah itu bukanlah tujuan, karena serharusnya tujuannya disamakan hanya kepada Kristus. Sehingga pernikahan hendaknya dipandang sebagai sarana. 

Suami dan istri diibaratkan tengah menaiki sebuah mobil. Suami sebagai pengemudinya dan istri mendampinginya. Ketika sudah di atas mobil itu, siapapun orangnya yang di dalam pasti mempunyai tujuan, meskipun sekedar jalan-jalan atau bahkan akan menuju suatu tempat, itulah tujuan. 

Dalam analogi pernikahan, pernikahan itu ibarat mobilnya dan jalan-jalan atau suatu tempat yang dituju adalah tujuannya, dan dalam analogi pernikahan tujuannya itu hanya kepada Kristus Yesus. 

Oleh karena pernikahan ibarat mobil, maka perlu juga dalam perjalanannya dilakukan perawatan rutin (dicek, dicuci dll.) baik secara harian, bulanan, tahunan, diservis jika ada kerusakan. Begitu juga dengan pernikahan itu harus juga dirawat dan dipelihara agar tetap menjadi sarana yang baik dan benar menuju Kristus. 

Kenapa kaca mobil dibuat lebih besar dan luas dibandingkan kaca belakang? 

Itu supaya kita bisa melihat ke depan lebih luas, lapang, menatap masa depan dengan lebih yakin karena nampak semua, tetapi kaca belakang dibuat lebih kecil karena kita hanya perlu sedikit saja melihat ke belakang, karena tujuan kita itu ke depan, bukan ke belakang. Bahkan spion saja dibuat kecil di kiri kanan hanya untuk mengecek ke belakang, tapi bukan fokus melihat ke belakang, karena kalau terlalu fokus melihat ke belakang yang terjadi bisa tabrakan, iya apa iya? Itulah alasannya kenapa. 


Sebenarnya ada poin lain yang hilang, yang tidak sempat saya tuliskan, kayaknya ada 5 poin kemarin, tapi saya hanya bisa catatkan 4 saja. Mungkin ada yang terlewat. 

Tapi secara umum apa yang dibahas pada pertemuan pertama ini seperti yang saya bagikan singkat di atas. 

Pada pertemuan selanjutnya kita akan diberikan materi mengenai : Parenting ; Melayani Gereja Lokal ; dan pada pertemuan ke-4 nanti masing² pasangan akan ada sesi tersendiri, akan dikulik lebih dalam mengenai konflik² yang mungkin terjadi dalam relasi pernikahan. 

Itu saja catatan jurnal yang bisa saya bagikan di sini, ini sekaligus sharing dan catatan saya yang kelak bisa saya baca kembali ketika saya nanti menghadapi masalah ketika sudah ada di dalam 'mobil' yang sama  dengan pasangan hidup saya. 

Mungkin ada hal² yang tidak tercapture semua di sini dan ada kata² atau diksi atau pemahaman atau penangkapan yang berbeda dari apa yang disampaikan Pdt. Otniel. Karena ada 4 orang di ruangan itu, bisa saja penangkapan atau pemahamannya bisa berbeda masing-masing, walaupun intinya adalah sama. Cara penyerapan dan pemahaman bisa saja berbeda, belum lagi ketika orang tersebut sudah punya prinsip tersendiri yang menurut dia itu benar dan orang lain itu tidak benar, itu akan berbeda lagi. 

Jadi saya disclaimer terlebih dahulu sebelum apa yang saya tuliskan ini mendapatkan judgement. Karena itu biasa terjadi, jadi saya disclaimer diakhir postingan ini. 

Sampai jumpa dipertemuan berikutnya lagi. Mungkin ini sharing dari saya, siapa tahu ada yang mengalami dengan hal berbeda bisa disharing saja di kolom komentar, tidak untuk diperdebatkan tapi dipahami saja dan tidak perlu menjudge orang lain dengan pandangan mu, meskipun kamu merasa kamu paling benar, karena kebenaran yang sejati hanya milik Dia. Kita hanya berusaha untuk hidup benar, tapi yang berhak menghakimi itu Tuhan bukan manusia. -cpr

#onedayonepost
#jurnal
#gbis
#konselingpranikah
#pertemuanpertama

Minggu, 15 Februari 2026

Mereka yang Takut Akan Salib Kristus

Pekan yang lalu, saya beribadah di GKRI Mojorejo, Batu. Iya sudah lama gak berkunjung dan ibadah di sana, pas kebetulan pasangan saya pergi ke Batu dan saya menyusul ke sana. 

Ternyata ada kisah menarik dari GKRI Mojorejo, gereja ini tengah mendapatkan 'persekusi' secara tidak langsung dari pihak² yang takut akan Kristus, takut akan tanda kemenangan Kristus yaitu salib. Salib adalah lambang kehinaan dahulu, tapi ketika Yesus ada di sana dan menang atas maut, Salib jadi tanda kemenangan. 

Ini membuat beberapa pihak atau mungkin gelintir orang itu takut bahkan ngeri, sampai harus ditutupi agar tak terlihat. Begitu kecil imannya, dan itulah yang tampak. 

Jadi beberapa bulan yang lalu tanah di sekitar GKRI Mojorejo itu dibeli oleh seseorang untuk dimanfaatkan usaha atau bisnis. Posisi GKRI Mojorejo memang nyempil sekali, bahkan akses masuknya saja hanya selebar mobil Rubicon #mungkin ya, soalnya kalau Datsun parkir di situ masih bisa ada motor lewat, tapi kalau Rubicon kayanya ngepas banget. 

Dulu tanah di sekitar GKRI Mojorejo itu kosong, ya hanya tanah tak terurus. Hal ini membuat GKRI Mojorejo masih terlihat dan tampak dari jalan utama Malang ke Batu. Dari jalan utama itu GKRI Mojorejo tampak jelas, Salib merahnya tampak, menunjukan bahwa bangunan itu adalah sebuah gereja. 

Tapi ketika tanah di dekat gereja ini dibeli dan akan dimanfaatkan sebagai lahan bisnis sempet ada kekhawatiran nanti gimana ya. Tapi ketika itu berpikir positif saja, karena tanah di sekitar gereja masih luas, pasti ya sewajarnya saja. 

Tapi ternyata seiring waktu yang terjadi adalah sebaliknya, justru bisnis atau usaha itu berusaha untuk menutupi gereja, jadi bisnis ini berusaha menghilangkan eksistensi bahwa di sana ada sebuah gereja. 

Si pemilik usaha nampaknya anti dengan keberagaman, sehingga berusaha menghilangkan bahwa di sana ada sebuah gereja. Bagi mereka ini haram ketika usaha 'halal' mereka ada di samping bangunan gereja. 

Karena posisi gereja ini memang sulit dan terjepit, dan ketika lahan itu dibeli, posisi gereja pada akhirnya akan tertutupi bisnis tersebut jika si pemilik usaha itu punya mental berusaha menghilangkan eksistensi penampakan gereja. 

Saya langsung saja sebut, ternyata si pemilik usaha ini adalah mantan artis atau publik figur yang dulu jadi bintang utama sinetron Cinta Fitri. Kita tahu ybs. mengikuti aliran yang kita kenal sebagai Wahabi, dan track record mereka yang akrab dengan aliran ini ya seperti itu, sangat anti dengan keberagaman. 

Nah keunikannya tidak sampai di situ. Unit usaha yang dia bangun ini adalah sebuah toko oleh² yang menjual ragam oleh², karena Kota Batu adalah kota wisata sehingga peluang bisnis jika menjual pusat oleh² di wilayah Kota Batu. 

Pembangunan usahanya ini berjalan dengan baik, jemaat gereja pun biasa saja dan tidak bereaksi apapun, ya wajar namanya mau berbisnis, dimana pun tidak masalah. Sampai akhirnya kelucuan muncul, jadi untuk memagari usaha bisnisnya, dibangunlah sebuah tembok untuk memagari sekeliling bangunan usaha ini. 

Nah lucunya, dibangunlah di dinding tinggi menjulang dimana dibalik dinding itu ada berdiri sebuah gereja, gereja itu adalah GKRI Mojorejo. Dimana gereja itu sudah ada bertahun-tahun lalu sebelum unit usaha itu ada, bahkan mungkin jauh sebelum si mantan artis itu terkenal dengan sinetronnya (yang udah usang). 

Tadinya dinding itu dibangun wajar, dari kejauhan arah jalan masih tampak bahwa di balik bangunan itu ada berdiri bangunan gereja, nampak dari Salib berwarna merah yang masih tampak bagian atasnya. 

Tapi ternyata hal ini membuat si empunya usaha gerah, tidak merasa nyaman, sehingga inginnya tembok itu ditinggikan kembali sampai membuat Salib gereja tidak tampak. 

Pas saya ke sana saya mencoba mendokumentasikan apa yang terjadi. Nampak dinding nya yang sudah jadi yang masih menampakkan Salib gereja itu, sudah terpasang logo neon sign dari unit usaha ini, tapi karena kepicikan dari si empunya, si dinding itu ditinggakan kembali sampai membuat Salib tak lagi kelihatan dari sisi jalan Malang menuju Batu. 

Ini foto yang saya ambil ketika saya selepas ibadah dan mengetahui cerita ini,  saya coba membuktikannya dan memang benar, picik sekali manusia seperti ini. 

Ini gambar saya ambil dari pov arah Malang menuju Batu, dari sisi sini Salib sudah tak tampak. Bisa terlihat tambahan bata ringan yang belum dicat, sebuah bata tambahan yang disengaja untuk menutupi Salib gereja.

Dari pov ini Salib merah gereja mengintip dari baliknya, sudah mulai tertutup bata ringan tambahan. Padahal neon sign sudah dipasang seharmoni dengan dinding tembok yang direncanakan awal. Tapi karena mereka takut akan Salib Kristus, tembok itu ditinggikan lagi. 

Dari pov ini Salib merah gereja masih tampak, soalnya pemasangan bata dinding belum selesai. Tapi ketika penambahan dinding ini selesai maka Salib gereja tidak akan tampak lagi dan orang tidak akan tahu bahwa dibalik dinding itu ada gereja. 

Nah lho, picik sekali bukan? 

Sayangnya orang Kristen bukan yang senang membalas hal buruk dengan buruk. Mungkin jika situasinya dibalik, si pemilik usaha itu seorang Kristen dan dibalik itu adalah masjid, dan kita melakukan hal itu, wah udah mencak² itu jemaat masjid di sana, pasti ijin pembangunan tempat usaha gak akan berjalan mulus. 

Iya itulah karakter saudara kita. Saya saking jengkelnya akhirnya memberanikan diri menuliskan opini pribadi ini di sini, walaupun itu tidak baik, tapi ini untuk menunjukan sesuatu hal inilah realitas kehidupan beragama kita dalam masyarakat. Parahnya lagi ini muncul dari seorang publik figur 

Mudah-mudahan sih usaha ini berkah karena sudah mengorbankan kepentingan orang lain, semoga Malang Strudel ini bisa berkah dan bermanfaat, kita lihat saja ke depan, semoga ybs. diberikan 'hidayah', untuk memahami bagaimana berbangsa dan bermasyarakat di tengah masyarakat yang heterogen dan majemuk. 

Oh iya, saya tidak lupa menyampaikan jadi si pemilik usaha ini punya 'itikad baik', jadi sebenarnya maunya adalah gereja ini direlokasi ke tanah di bagian belakang bangunan usaha ini, sehingga gereja ini digusur dan dipindah ke bagian belakang. Nanti pembangunan gereja itu akan dibiayai oleh si empunya usaha. Asal mau jika gereja dipindahkan ke bagian belakang. 

Nah masalahnya begini, tanah yang disediakan itu lokasinya ada di bagian belakang dan di jalan kecil aksesnya, kemudian di depannya ada bangunan masjid yang sudah berdiri di sana. 

Masalah akan muncul pasti akan ada penolakan dari pihak lain, yang ada gereja sudah terlanjur dibongkar tapi gak bisa dibangun kembali, inilah kepicikan dari itikad baik ini. 

Karena logika saja, yang punya sertifikat hak milik, administrasi jelas, surat rekomendasi FKUB sudah dikantongi, untuk bangun gereja dengan dana sendiri saja dipersulit, apalagi dengan kaya begini. 

Untungnya gereja tetap teguh dan tidak mau direlokasi karena memang surat² gereja jelas sehingga mereka tidak berani memaksakan kehendaknya. Alhasil yang terjadi adalah seperti foto yang saya bagikan  itu. 


Memang tidak ada yang tahu dinamika ke depannya tapi apa yang terjadi saat ini sudah jadi preseden buruk tentang bagaimana karakter si empunya usaha ini. 

Sebagai orang Kristen mendapatkan hal seperti sudah biasa dan pasti mampu. Bayangkan jika situasinya dibalik, mereka pasti gak akan mampu menghadapinya dengan kepala dingin, yang ada pasti rusuh. Karena kita semua sudah memahami track record mereka ketika menghadapi masalah keberagaman. 

Semoga hal baik bisa mereka terima dan diberikan  terang Ilahi sehingga pelajaran kehidupan yang terbaik bisa mereka terima. -cpr

#onedayonepost
#gkri
#gkrimojorejo
#opini
#informasi
#re-action