Semua agama sangat menekankan umat yang memeluk suatu agama membaca Kitab Suci agamanya masing-masing, karena di sana banyak tersimpan pesan² teologi dan pesan moral yang baik dan benar sesuai keyakinan agamanya masing-masing.
Begitu juga dengan orang Kristiani yang punya Alkitab, yang berisi kitab² dari Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama.
Meskipun dalam Kekristenan sendiri pada akhirnya ada dua kitab suci dengan kanon berbeda yang diakui, tetapi secara umum kitab sucinya sama dan sumbernya sama. Hanya perbedaan di kitab² Perjanjian Lama. Di Katolik mengakui 73 kitab dan di Kristen Protestan secara umum mengakui hanya 66 kitab.
Tapi yang mau saya bahas bukan perbedaan kitab sucinya tersebut. Tapi kepada impresi / persepsi yang dirasakan ketika membaca kitab demi kitab dari Alkitab Kristiani.
Saya memang belum pernah menyelesaikan secara utuh Alkitab, karena masih sepenggal kitab per kitab, tidak utuh selesai baca semuanya. Tapi ketika saya membaca Alkitab, impresi saya seperti membaca kitab sejarah dari pov religius.
Karena apa yang tertulis dalam Alkitab itu bisa dijumpai dalam catatan² sejarah dunia ini, terutama dari soal time line waktu tiap peristiwa yang terjadi bukanlah omong kosong belaka, atau malah copas atau malah saduran atau malah tiruan yang diserupakan dengan budaya/serapan baru.
Bayangkan seperti ini, kisah mengenai Abraham, dimana Abraham itu hidup di tanah Kanaan, tanah itu ada di sekitaran Yerusalem, bukan di tanah Arab, tapi kenapa ada kisah yang mengadopsi seolah-olah Abraham itu orang Arab dengan penamaan yang diserupakan dengan ke-arab-araban menjadi Ibrahim. Sedangkan jika kisah yang ke-arab-araban itu dikonfrontir dengan catatan sejarah dunia koq ya gak sinkron.
Ini saya ambil contoh saja sih, tokoh lainnya bisa diambil contoh, atau mau yang lebih nyata lagi ya ketika membahas Yesus Kristus, dimana mereka bisa punya ceritanya mereka sendiri, dengan penamaan tokoh² nya ya sesuai dengan 'universe' mereka, seperti ada yang dinamai Isa, kemudian ada tokoh Yahya, ada pula Mariam yang lucunya Mariam yang mereka maksud itu ternyata Mariam berbeda dengan Mariam yang mau mereka maksud sebagai ibu dari Isa. Jadi catatan yang mereka akui sebagai Kitab Suci seperti tumpang tindih tidak akurat.
Itulah impresi yang saya rasakan ketika membaca Alkitab, dimana keterhubungan dengan sejarah dunia itu ada, membuktikan bahwa apa yang terjadi, karya Tuhan itu sunggu nyata, bukan sekedar drama religius.
Seperti ketika saya tengah menuliskan kisah Ester yang berasal dari Kitab Ester, Perjanjian Lama. Di sana disinggung seorang raja Persia, ternyata di catatan sejarah dunia raja itu ada. Dunia mengenalnya Raja Xerxes I, catatan sejarah dan bukti sejarahnya ada.
Jadi itulah yang saya katakan tadi bahwa membaca Alkitab itu impresinya seperti membaca kilasan sejarah tapi dari pov religius, melihat bagaimana karya Allah bekerja dalam setiap jalan hidup manusia dan peradaban.
Ini opini saya pribadi, jadi jika ada yang ketidakasesuaian dengan apa yang jadi pandangan teman² ya harap dimaklumi, karena ini dari logika saya saja yang merasakan demikian. Bisa saja sesama Kristiani melihatnya hal yang berbeda. Jelas lagi yang non Kristiani pasti akan sangat berbeda sekali melihat hal ini, mungkin tidak akan terima dengan pandangan ini.
Tapi selalu dalam setiap tulisan saya soal religiusitas selalu saya benturkan atau singgung dengan sejarahnya. Jika ada klaim yang merasa paling benar tapi tidak bisa dibuktikan dengan sejarahnya pasti akan saya jadikan bahan diskusi. Itu saja sih yang ingin saya sampaikan, tiba² terbersit saja dikepala ingin menyampaikan ini. -cpr
#onedayonepost
#opini
#coratcoret

0 komentar: