Sering terjadi 'masalah' ketika frase ini saya gunakan, karena maklum saja saya adalah seorang Katolik awalnya, baru jalan mau setahun ini menjadi seorang Kristen. Terkadang frase kalimat doa penutup yang dipilih atau digunakan itu tidak sesuai dengan teologi Kristen.
Iya memang benar soal teologi ini ada perbedaan, meskipun secara mendasar tidak ada maksud apapun memposisikan Kristus lebih rendah, bahkan sampai dikatakan sebagai 'kurir' karena Dia menjadi perantara.
Hal yang sepele ini kadang jadi keributan di meja makan, entah saya sendiri juga heran, padahal bisa diluruskan dan dikondisikan supaya nanti tak terulang lagi karena tradisinya sudah berbeda saat ini.
Pemahaman saya menggunakan frase kalimat tersebut karena memang kebiasaan dulu ketika berdoa, dan pemahaman saya Yesus Kristus adalah Allah yang saya percaya. Oleh karena Dia telah menjadi manusia yang saya kenal sebagai Yesus orang Nazeret, Dia jadi serupa dengan kita manusia, maka karena pemahaman Dia pernah jadi manusia itulah melalui perantara Nya lah doa kita dibawa kepada Bapa, tanpa menghilangkan kenyataan bahwa Dia-lah adalah Bapa yang kekal itu sendiri, karena dalam Dia lah Allah Bapa berada. Bapa dalam Dia dan Dia dalam Allah.
Itu pemahaman saya dan itu yang saya coba utarakan, yang menjadi pemicu 'diskusi' di meja makan. Yang menurutnya menjadi sebuah perderbatan dan bagi saya ini hal yang gak perlu, karena saya hanya mengutarakan 'why' yang saya pahami.
Karena kita mengenal Allah Bapa itu melalui diri Yesus Kristus yang menjadi manusia sama seperti kita, bedanya Dia tidak berdosa sedangkan kita berdosa. Jika Dia tidak menjadi manusia kita tidak akan mengenal Allah Bapa.
Ada tertulis, doa orang benar didengarkan oleh Tuhan. Lalu apakah doa orang yang selalu merasa benar juga didengarkan Tuhan?
Saya pikir Tuhan akan selalu mendengarkan apapun yang kita sampaikan kepada Nya, tapi Tuhan selalu punya cara Nya untuk memberitahukan kebenaran yang sejati, karena sumber kebenaran hanya pada -Nya, dan Dia yang berhak membenarkan atau menyalahkan, karena itu Otoritas Nya.
Pada post kali ini saya akan bagikan perbedaannya, why-nya, karena itu lebih penting dipahami. Daripada kita hanya diberitahu kata 'tidak' tapi tidak tahu kenapanya dan pemahamannya, tanpa menggurui.
Dalam tradisi Katolik Roma, frase kalimat penutup doa yang sering menggunakan kalimat: "... dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin."
Frase kalimat penutup doa yang umum dikalangan umat Katolik Roma: Frase kalimat itu dipilih atas dasar biblis, alias dasar Alkitab nya ada dan tertulis jelas di sana. Seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 2: 5.
Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.
Selain pada itu, tertulis pula dalam Ibrani 7: 25.
Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
Kata "Ia" merujuk pada kuasa Allah Bapa, di sana tertulis bahwa "Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka." Lalu salahnya dimana ketika menggunakan frasa tersebut, toh Alkitab menuliskannya demikian.
Jika merujuk pada Alkitab sebagai Otoritas utama, seharusnya frase penutup doa di atas tidaklah salah. Karena frase tersebut nyatanya biblis alias alkitabiah.
Nah tapi permasalahannya bukanlah soal itu, orang Kristen mencoba melihat dari POV berbeda, bagi orang Kristen, memahami agar doa-doa kita itu disampaikan langsung kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan.
Jadi sebenarnya oleh karena sama saja kita berdoa kepada Yesus, kata 'perantara' itu dianggap tidak perlu, ibarat mubazir penggunaan kata.
Seperti dalam bahasa Indonesia, "saya diberikan hadiah sangat amat banyak sekali", nah penggunaan kata 'sangat' itu dianggap tidak perlu karena itu sudah dijelaskan oleh kata 'banyak sekali'. Kata 'perantara' di dalam frasa kalimat penutup doa (topik bahasan kita ini) dianggap tidak perlu, jadi dibuatlah langsung kepada Yesus Kristus yang Dia-lah Allah itu sendiri.
Jadi ketika ada yang menyalahkan, itu juga gak tepat karena di Alkitab pun menuliskan demikian, jika begitu yang menyalahkan berarti menyalahkan apa yang ditulis di Alkitab.
Tidak perlu salah-menyalahkan, tapi lebih baik menyampaikan "bahwa kalimat penutup doa itu kurang tepat digunakan dalam teologi Kristen".
Jadi 'keributan' di meja makan tadi itu sebenarnya adalah sebuah kesia-siaan. Yang dibutuhkan cuma memahami saja.
Sedangkan hal yang dianggap benar dari teologi Kristen sendiri sebenarnya tidak menolak Kristus sebagai perantara, ini yang perlu dipahami oleh yang menjudge bahwa yang disampaikan itu salah, teologi Kristen tidak menolak Kristus sebagai perantara, namun teologi Kristen memberikan penekanan pada beberapa hal ini:
✝️ Kita datang langsung dan berdoa kepada Bapa dalam nama Yesus
✝️ Tidak memakai istilah liturgis formal.
✝️ Menekankan gaya berdoa yang lebih spontan dan relasi yang dekat seperti anak kepada Bapa, sehingga kata 'perantara' tidak diperlukan.
Nah seharusnya apa yang disampaikan dan dijelaskan itu demikian, bukan menjudge sampai menggunakan istilah 'kurir'. Karena yang perlu dipahami bahwa Kristen sendiri tidak menolak 'perantara' karena Alkitab telah menuliskan demikian dan Kristen sangat memahami bahwa Alkitab adalah sebuah Otoritas utama, Sola Scriptura.
Mungkin penjelasan seperti ini tidak akan bisa muncul di meja makan ketika sedikit informasi yang terlintas di kepala, tetapi ketika setelah membaca apa yang ditulis, setidaknya penjelasan bisa lebih terarah.
Jadi kesimpulannya, ketika kamu adalah seorang Kristen, berdoalah sesuai rumusan yang umum digunakan diantaramu. Jika menggunakan rumusan lain itu tidak salah juga, hanya tidak tepat, karena hendaknya kamu memahami apa yang tepat digunakan.
Ketika kamu sudah memahami apa yang menjadi 'why', itu kamu bisa memahami lebih dalam, sehingga penggunaan kata atau frase kalimat yang tidak tepat bisa dikondisikan (tidak perlu digunakan, gunakanlah yang tepat).
Bisa dimaklumi jika masih 'tersandung' menggunakan frase kalimat penutup doa dengan cara yang sebelumnya, tapi seiring waktu jika dibiasakan pasti bisa menyesuaikan, ketika diperlukan begitu bisa disampaikan sesuai tempatnya.
Mudah-mudahan penjelasan ini bisa diterima dan bisa jadi bahan pemahaman yang baik daripada sekedar membeda-bedakan sesuatu yang sumbernya sama yaitu Yesus Kristus.
Yesus Kristus pun tidak pernah membeda-bedakan seseorang, Dia lebih tahu hati umat-Nya yang berdoa, karena pada dasarnya tidak ada maksud merubah pemahaman iman yang sejati bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri.
Saya tidak ingin berdebat dan ribut soal perbedaan, karena kita semua adalah pengikut Kristus yang sama, justru manusialah yang membuat semuanya jadi berbeda dengan pemahamannya dan tafsir masing-masing, padahal jika kembali kepada apa yang tertulis jelas menujukan demikian, karena kita iman kita lahir dari Yesus Kristus yang sama. Semoga bisa dipahami jalan pikiran saya. -cpr
#onedayonepost
#iman
#re-action
#doa
#penutupdoa
#opini

0 komentar: