Jumat, 20 Februari 2026

Konseling Pranikah di GBIS Hosana Pandaan (2)

Akhirnya tiba juga konseling pra nikah GBIS Hosana Pandaan untuk pertemuan pertama, tanggal 20 Februari 2026, dimulai pukul 19:00 di office sekretariat GBIS Hosana Pandaan. 

Pada postingan sebelumnya itu konseling pra nikah diawali dengan pasangan yang akan mengikuti sesi konseling mengisi daftar pertanyaan yang akan jadi bahan konseling nanti. Pada post kali ini akan saya share apa yang dibahas dari pertemuan yang dilakukan. Post sebelumnya bisa dibaca ditautan terlampir. 


Konseling pra nikah ini dipandu oleh Pdt. Otniel Rosa Setiawan, diikuti dua pasang mempelai yang akan menikah ada semester I tahun 2026 ini, termasuk saya dan pasangan saya. 

Ilustrasi dibuatkan oleh chatgpt

Materi awal konseling pra nikah kali ini membahas soal 'pendahuluan', kira² lebih ke pemahaman awal mengenai pernikahan itu, yang kelak menjadi dasar pemahaman ketika terjadi konflik dalam pernikahan. Pasangan diajak untuk memahami dasar awal atau esensi dua pribadi yang Allah ciptakan itu punya nilai yang sama. 

Ini sebenarnya merupakan sari pati apa yang pernah disampaikan Pdt. Otniel pada khotbah ibadah raya, saya pernah menuliskannya kembali isi yang saya tangkap ketika ibadah tersebut. 


Apa saja yang dibahas? 

Pasangan diajak untuk memahami apa itu konseling? Adalah proses bantuan profesional melalui percakapan terstruktur antara konselor dan konseli untuk membantu memahami diri, mengatasi masalah, mengambil keputusan, serta mengembangkan potensi diri. 

Dalam hal ini konselingnya berhubungan dengan 'pra nikah', jadi yang dibahas ya seputar kebutuhan dalam persiapan dalam membina rumah tangga / dalam lembaga pernikahan Kristen. 

Kami ditanya, apa tujuan pernikahan? 

Kami menjawab masing², ada yang menjalankan apa yang diperintahkan dalam Alkitab: karena tidak baik hidup sendiri, karena itu butuh pasangan hidup. Saya sendiri menjawab karena dalam hidup pilihannya ada dua, hidup selibat dan hidup bekerluarga, saya memilih untuk berkeluarga. 

Kami juga ditanya lagi, bagaimana ketika tujuan mu itu tidak tercapai pada akhirnya? 

*soal ini dijawab masing² saja ya dalam hati

Seharusnya tujuan pernikahan adalah Kristus, dan pernikahan itu justru bukanlah tujuan dari hidup, ketika memilih menikah itu artinya tujuannya mencari Kristus. Jadi pernikahan itu sarana untuk menuju kedewasaan Kristus. 

Pasangan harus mengenal dirinya dan pasangannya. Karena akan banyak masalah berasal dari masing² diri pasangan, pengasuhan anak, atau dari luar pasangan. Jika pasangan tidak mengenal dirinya dan pasangannya dan tidak punya tujuan yang sama (Kristus) maka akan mudah untuk tidak terhubung pada akhirnya, karena tujuannya berbeda-beda masing² pribadi, belum lagi ketika tujuan itu tidak terealisasi maka akan kecewa dan itu awal mula perpisahan. 

Bagi konselor 'dunia', perceraian adalah solusi ketika sudah tidak ada kecocokan dari pria dan wanita dalam ikatan pernikahan. Sedangkan gereja, sebaliknya, "tidak ada perceraian dalam pernikahan Kristen".

Berikut beberapa poin dalam pernikahan Kristen yang harus dipahami:

#1 Pernikahan Itu dari Allah
Pernikahan yang ideal itu adalah sah secara agama dan secara negara, artinya disahkan oleh lembaga agama dalam hal ini gereja dan disahkan oleh negara melalui lembaga pencatatan kependudukan dan sipil (baca: catatan sipil). 

Kejadian 1: 26 - 27
Intinya Allah menciptakan manusia karena bernilai dihadapan Allah, karena manusia serupa dan segambar dengan Allah. 
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 

Efesus 5: 22 - 33
Intinya pernikahan itu seperti hubungan Allah dengan jemaat-Nya. 
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 
karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 
untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 
supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,
karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 
Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 
Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Ada istilah 'unconditional love' yang harusnya jadi dasar pasangan Kristen dalam membina pernikahan, ketika terjadi suatu masalah. 

*seorang istri diuji ketika suami tidak mempunyai apa², sedangkan sebaliknya seorang suami diuji ketika dia mempunyai segalanya


#2 Pernikahan adalah dua menjadi satu
Pernikahan adalah antara pria dan wanita, dalam pernikahan Kristen tidak ada istilah atau pemakluman terhadap sesama jenis. Meskipun ada denominasi Kristen lain yang 'memaklumi' atau 'menghargai' keputusan itu. 

Tapi dasar Kristen yang benar mengikuti apa yang tertulis di Alkitab. 

Kejadian 2: 18
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Sepadan bukan bicara soal atribut atau kemampuan atau status apapun, belum ada sesuatu yang dicapai ketika mula². Tapi tentang keberadaan diri dan identitas pada awalnya. Masing² punya nilai bukan apa yang telah dicapai itu makna sepadan. Laki² dan perempuan punya nilai yang sama (dihadapan Allah). 


Arti sepadan : tidak ada yang lebih unggul atau lebih baik, dan sanggup untuk hidup bersama dan berproses. 

Arti sepadan saling melengkapi, mau mengikuti proses. 

Jadi dalam suatu keluarga (yang terdiri dari ayah dan ibu), merupakan sumber dari anak. Anak itu bersumber dari keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu. 

Dan sumber dari keluarga adalah dari seorang ayah, yang memiliki hubungan erat dengan Tuhan. Seorang ayah adalah sumber dari keluarga. Dari ayah yang seperti apa? Yaitu dari ayah yang punya hubungan erat dengan Tuhan, koneksi ayah dengan Tuhan adalah wajib. Koneksi adalah tanggung jawab yang wajib diemban seorang ayah.

Ayah harus punya Otoritas (+afeksi juga) dan ibu adalah sumber afeksi. 


#3 Pernikahan Tidak Boleh Terceraikan
Terkadang ada pemahaman yang salah bahkan di lingkungan Kristen, bahwa dalam Kekristenan perceraian itu dimungkinkan, karena sebagian orang salah memahami cuplikan ayat yang menyatakan demikian:

"Kata Yesus kepada mereka: Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu. . ..."

"Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

Terkadang kalimat itu dipahami sepotong tanpa dipahami secara utuh, padahal ada kalimat tertulis lain, "tetapi sejak semula tidaklah demikian."

Matius 19: 4 - 9
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"
Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 
Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" 
Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

Matius 19: 8
Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.

Di sana tertulis demikian, bahwa sejak semula sebenarnya tidak diizinkan adanya perceraian, "tetapi tidak semula tidaklah demikian".

Itu yang tidak dipahami oleh orang Kristen yang masih saja percaya bahwa Alkitab mengijinkan perceraian, padahal jika dipahami secara utuh dan runtut sejak Kitab Kejadian, sejak semula pria dan wanita diciptakan untuk jadi satu, tak terpisahkan, kecuali maut yang memisahkan. 

Namun ada pertanyaan menarik, ada sebagian orang Kristen yang berpendapat demikian: perceraian adalah solusi daripada hidup bersama namun tanpa kesatuan, karena tidak akan memberikan kebaikan, akan banyak yang dirugikan. Kata banyak ini merujuk pada pola asuh dan pendidikan anak, dimana anak akhirnya tumbuh jadi pribadi yang lemah, tidak berprinsip karena terombang ambing pada pilihan mendukung ayah atau ibunya, karena tanpa perceraian ayah dan ibu tetap tinggal bersama tapi tidak ada damai di sana, sehingga di dalamnya anak tidak mendapatkan bekal hidup yang benar. Malah lebih baik ketika suami istri bercerai, sehingga anak akan ikut salah satunya dan mendapatkan arah asuh dan pendidikan yang satu, tidak bingung. Lalu apakah perceraian adalah solusi? 

*pertanyaan ini mungkin akan dijawab pada sesi berikutnya, karena ini cukup mendasar karena jadi opini yang dirasa benar bagi sebagian orang. 


#4 Pernikahan adalah sarana, bukan tujuan
Poin ini kembali menegaskan bahwa ketika pasangan memilih untuk menikah itu bukanlah tujuan, karena serharusnya tujuannya disamakan hanya kepada Kristus. Sehingga pernikahan hendaknya dipandang sebagai sarana. 

Suami dan istri diibaratkan tengah menaiki sebuah mobil. Suami sebagai pengemudinya dan istri mendampinginya. Ketika sudah di atas mobil itu, siapapun orangnya yang di dalam pasti mempunyai tujuan, meskipun sekedar jalan-jalan atau bahkan akan menuju suatu tempat, itulah tujuan. 

Dalam analogi pernikahan, pernikahan itu ibarat mobilnya dan jalan-jalan atau suatu tempat yang dituju adalah tujuannya, dan dalam analogi pernikahan tujuannya itu hanya kepada Kristus Yesus. 

Oleh karena pernikahan ibarat mobil, maka perlu juga dalam perjalanannya dilakukan perawatan rutin (dicek, dicuci dll.) baik secara harian, bulanan, tahunan, diservis jika ada kerusakan. Begitu juga dengan pernikahan itu harus juga dirawat dan dipelihara agar tetap menjadi sarana yang baik dan benar menuju Kristus. 

Kenapa kaca mobil dibuat lebih besar dan luas dibandingkan kaca belakang? 

Itu supaya kita bisa melihat ke depan lebih luas, lapang, menatap masa depan dengan lebih yakin karena nampak semua, tetapi kaca belakang dibuat lebih kecil karena kita hanya perlu sedikit saja melihat ke belakang, karena tujuan kita itu ke depan, bukan ke belakang. Bahkan spion saja dibuat kecil di kiri kanan hanya untuk mengecek ke belakang, tapi bukan fokus melihat ke belakang, karena kalau terlalu fokus melihat ke belakang yang terjadi bisa tabrakan, iya apa iya? Itulah alasannya kenapa. 


Sebenarnya ada poin lain yang hilang, yang tidak sempat saya tuliskan, kayaknya ada 5 poin kemarin, tapi saya hanya bisa catatkan 4 saja. Mungkin ada yang terlewat. 

Tapi secara umum apa yang dibahas pada pertemuan pertama ini seperti yang saya bagikan singkat di atas. 

Pada pertemuan selanjutnya kita akan diberikan materi mengenai : Parenting ; Melayani Gereja Lokal ; dan pada pertemuan ke-4 nanti masing² pasangan akan ada sesi tersendiri, akan dikulik lebih dalam mengenai konflik² yang mungkin terjadi dalam relasi pernikahan. 

Itu saja catatan jurnal yang bisa saya bagikan di sini, ini sekaligus sharing dan catatan saya yang kelak bisa saya baca kembali ketika saya nanti menghadapi masalah ketika sudah ada di dalam 'mobil' yang sama  dengan pasangan hidup saya. 

Mungkin ada hal² yang tidak tercapture semua di sini dan ada kata² atau diksi atau pemahaman atau penangkapan yang berbeda dari apa yang disampaikan Pdt. Otniel. Karena ada 4 orang di ruangan itu, bisa saja penangkapan atau pemahamannya bisa berbeda masing-masing, walaupun intinya adalah sama. Cara penyerapan dan pemahaman bisa saja berbeda, belum lagi ketika orang tersebut sudah punya prinsip tersendiri yang menurut dia itu benar dan orang lain itu tidak benar, itu akan berbeda lagi. 

Jadi saya disclaimer terlebih dahulu sebelum apa yang saya tuliskan ini mendapatkan judgement. Karena itu biasa terjadi, jadi saya disclaimer diakhir postingan ini. 

Sampai jumpa dipertemuan berikutnya lagi. Mungkin ini sharing dari saya, siapa tahu ada yang mengalami dengan hal berbeda bisa disharing saja di kolom komentar, tidak untuk diperdebatkan tapi dipahami saja dan tidak perlu menjudge orang lain dengan pandangan mu, meskipun kamu merasa kamu paling benar, karena kebenaran yang sejati hanya milik Dia. Kita hanya berusaha untuk hidup benar, tapi yang berhak menghakimi itu Tuhan bukan manusia. -cpr

#onedayonepost
#jurnal
#gbis
#konselingpranikah
#pertemuanpertama
Latest
Next Post

http://bit.ly/cocoper6

0 komentar: