Saya mau share firman yang saya resapi mengawali pekan ini, firman Tuhan disampaikan melalui Pdt. Otniel pada saat Ibadah Raya II, pada 25 Januari 2026.
Firman yang saya dengar pekan ini relate dengan situasi hubungan saya saat ini, sekaligus refleksi iman pada diri saya sendiri, ini cara Tuhan menegur saya pribadi yang selalu membuat hubungan ini jadi selalu dis (x) connected dengan pasangan. Sekaligus juga dari firman ini saya mengetahui apa makna sepadan dalam sebuah relasi pasangan.
Mari kita simak apa yang bisa saya peroleh dari firman yang disampaikan ini. Jika mau mendengarkan langsung apa yang disampaikan, link nya akan saya bagikan diakhir catatan ini.
Jadi, poin utama hubungan antar personal pria dan wanita atau suami dan istri, diawali dengan keterhubungan dengan Allah. Karena keterhubungan masing-masing dengan Allah akan memberikan dampak ke banyak hal, bahkan untuk hubungan antar personal.
Refleksi dikehidupan kita, tujuan umum pria dan wanita menikah antara lain:
👫 Ingin bahagia atau dibahagiakan oleh pasangannya
👫 Memperoleh keturunan
👫 Menjalin relasi bisnis
👫 Pembuktian pada lingkungan
👫 Memperbaiki taraf kehidupan
👫 Menaikan status level (yang penting menikah)
👫 Desakan dari keluarga
Rata-rata jika tujuan itu tidak tersampaikan ketika setelah menikah yang ada akhirnya perasaan kecewa.
Pak Pendeta memulai dengan nats Kitab Suci seperti apa yang tertulis pada Kejadian 2: 18. Dimana di sana tertulis demikian:
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
Di sana tertulis kata 'sepadan', lalu apa maknanya?
Kata sepada di sini bukan dimaknai sebagai atribut, kemampuan atau status apapun, atau bahkan pencapaian. Karena ketika pertama kali manusia diciptakan, tidak ada capaian apapun. Tapi kata 'sepadan' ini dimaknai sebagai keberadaan diri dan identitas pada mulanya. Sepadan diartikan juga pria dan wanita diciptakan dengan nilai yang sama tingginya dihadapan Allah. Nilai yang sama dihadapan Allah, itulah makna kata sepadan.
#1 Pernikahan adalah kesatuan antara dua manusia, yaitu pria dan wanita.
Hal ini dapat dilihat dari apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, dasar Allah menciptakan manusia. Tertulis dalam Kejadian 1: 26 - 27, yang tertulis demikian:
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Di sini saya coba keluar sedikit dari konteks: di sini saya menyadari bahwa Allah Tritunggal telah ada sejak semula, sejak awal kita manusia diciptakan. Dari mana dasarnya, di sana tertulis kata 'kita'. Jika bukan orang percaya, pasti akan menilai bahwa Allah kita adalah polytheisme, karena di sana tersebut makna jamak. Tapi kita yang percaya memahami bahwa konsep Tritunggal ada sejak Yesus ada. Tapi ternyata jika mundur ke belakang ketika penciptaan, tersebut jelas di sana bahwa ada kata 'kita'. Yesus kita yakini bahwa Dia-lah Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, konsep Tritunggal kita kenal ketika pengajaran Yesus, Yesus sendiri adalah Alpha dan Omega, awal dan akhir, dimana Dia telah ada sebelum bumi ini dijadikan. Itu terlihat jelas bahwa ada perbincangan diantara Allah-Putera-Roh Kudus, tiga dalam satu pribadi. Inilah yang membuat saya semakin yakin akan konsep Tritunggal ini dan itu terbukti sejak dahulu, sekarang dan akan datang.
Kita kembali ke pembahasan, saya agak melenceng sedikit, abaikan saja tulisan diatas, itu hanya selingan saja.
Dari apa yang tertulis di sana Pak Pendeta memberikan gambaran yang menarik, bahwa penciptaan manusia (pria dan wanita) itu berbeda dari makluk ciptaan-Nya yang lain.
Makluk yang lain diciptakan melalui firman, apa yang Dia ucapkan maka terjadilah. Tapi yang dilakukan pada penciptaan manusia, ada diskusi diantara tiga pribadi, seperti yang dicatatkan dalam kitab suci. "Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita."
Itu kenapa manusia adalah makluk ciptaan-Nya yang paling mulia, karena manusia diciptakan tidak semata-mata ciptaan tapi memang diciptakan serupa, segambar dengan-Nya.
Penghargaan pada pasangan kita hendaknya dimaknai dengan penghargaan sebagai sesama manusia yang bernilai tinggi di hadapan Allah.
Karena ketika kita melihat keterbatasan pada masing-masing individu pasangan, secara manusiawi kita seperti membandingkan. Kenapa dia begini, kenapa dia begitu, saya sudah begini kenapa dia tidak begini juga.
Yang sering terjadi kita membandingkan antara keluarga satu dan yang lainnya. Keluarga di sana begitu, hidupnya enak, suaminya perhatian, ekonominya mapan dll., sedangkan kita tidak. Tapi satu hal yang perlu dipahami, setiap atau semua keluarga di dunia ini punya pergumulannya masing-masing.
Namun apabila kita menghormati Allah ketika kita melihat sisi yang lain yaitu menghargai dan menghormati sesama kita itu harusnya sesuai dengan nilai dirinya bukan karena penampilan, atribut atau performa dirinya.
#2 Pernikahan adalah menjadikan dua menjadi satu.
Iya betul, menjadikan dua menjadi satu tapi bukan membuat menjadi sama atau seragam tetapi melebur menjadi satu dalam segala aspek.
Oleh karena yang dua telah menjadi satu, maka tidak ada kata 'perceraian' dalam pernikahan Kristen.
Dalam Kekristenan denominasi apapun, tidak ada perceraian, itulah yang harus diyakini semua orang Kristen. Jika pun ada masalah dalam pernikahan, selalu pastikan ada solusi terbaik untuk mendamaikan.
Mari kita baca lagi apa yang tertulis dalam Efesus 5: 22 - 23, tertulis demikian:
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya.
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Pesan ini yang harus dipahami sebagai suami dan istri, sebuah pesan yang penting dalam pedoman hidup berkeluarga.
#3 Kenakanlah Kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
Karena celah yang terjadi diantara suami dan istri akan selalu dimanfaatkan iblis. Semua ini terjadi karena membiasakan hal yang biasa. Maksudnya begini, terbiasa diam ketika terjadi masalah antara suami dan istri, ketika terbiasa dengan hal ini, jeda kekosongan ini akan dimanfaatkan iblis untuk semakin membuat suami dan istri tak terhubung satu sama lain.
Seperti apa yang tertulis dalam Kolose 5: 14 - 15, tertulis demikian:
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
Kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
Pernikahan dunia adalah pernikahan yang fokus pada diri sendiri atau selfies. Sedangkan pernikahan yang sesuai dengan firman Allah itu tidak demikian, tapi pernikahan yang berfokus atau berpusat pada Allah sendiri.
Pak Pendeta menggambarkan relasi ini dalam SEGITIGA PERNIKAHAN.
Kalau suami penuh dengan shalom, maka shalom itu akan melimpah pada istri dan anak-anaknya dan ke semua keluarga besarnya.
Pusat dari pernikahan Kristen antara suami dan istri harus berpusat pada Allah. Seperti bentuk segitiga, puncak segitiga adalah Allah sendiri, sedangkan sudut kaki segitiga ada suami dan istri.
Jika suami dan istri keduanya terarah dan fokus pada Allah, maka keduanya akan bertemu pada titik yang sama yaitu Allah. Jadi, tujuan utama suami istri haruslah sama, yaitu Allah, karena hanya Allah lah yang akan menyatukan keduanya.
Tidak bisa jika hanya salah satunya, misalkan hanya istrinya saja, istrinya sampai pada Allah sedangkan suaminya tidak maka tidak ada kesatuan yang sempurna, begitu pula sebaliknya. Keduanya harus bersama-sama, tetap saling terhubung dalam kesatuan pada Allah sebagai pusat suatu hubungan.
Hendaklah pria dan wanita, suami dan istri selalu terhubung, dimana dasarnya harus pada kasih Allah. Keterhubungan dengan Allah akan membuat relasi pria dan wanita, suami atau istri ini akan selalu terhubung satu sama lain, karena setiap celah yang ada, adalah jalan masuk untuk iblis berkuasa atas hubungan dan akhirnya akan merusak segalanya, relasi dengan Allah dan relasi dengan pasangan.
Apa yang saya tuliskan di sini saya sesuaikan dengan refleksi yang saya terima ketika mendengar penyampaian firman oleh Pdt. Otniel Rosa Setiawan.
Untuk mengetahui secara lengkap bisa mengikuti video streaming dari Ibadah Raya hari itu, bisa klik tautan ini.
Semoga saya bisa mewujudkan ini, menjadikan sebuah relasi yang terus terhubung. Catatan ini saya tuliskan setelah dua minggu berlalu, dan setelah firman ini kami berdua dengarkan, kami langsung diuji, menciptakan koneksi atau malah sebaliknya.
Postingan ini saya terbitkan back date, untuk menyesuaikan time line firman ini disampaikan, karena pekan selanjutnya ada firman lain yang akan saya sampaikan, berefleksi dari apa yang saya terima ketika ibadah raya mingguan.
Semoga kita dimampukan menjadi pasangan yang seturut kehendak 😇🙏👼 Allah. -cpr
#latepost
#onedayonepost
#refleksi
#firman
#iman
#refleksi
#gbis
#youtube


0 komentar: