Minggu, 15 Februari 2026

Mereka yang Takut Akan Salib Kristus

Pekan yang lalu, saya beribadah di GKRI Mojorejo, Batu. Iya sudah lama gak berkunjung dan ibadah di sana, pas kebetulan pasangan saya pergi ke Batu dan saya menyusul ke sana. 

Ternyata ada kisah menarik dari GKRI Mojorejo, gereja ini tengah mendapatkan 'persekusi' secara tidak langsung dari pihak² yang takut akan Kristus, takut akan tanda kemenangan Kristus yaitu salib. Salib adalah lambang kehinaan dahulu, tapi ketika Yesus ada di sana dan menang atas maut, Salib jadi tanda kemenangan. 

Ini membuat beberapa pihak atau mungkin gelintir orang itu takut bahkan ngeri, sampai harus ditutupi agar tak terlihat. Begitu kecil imannya, dan itulah yang tampak. 

Jadi beberapa bulan yang lalu tanah di sekitar GKRI Mojorejo itu dibeli oleh seseorang untuk dimanfaatkan usaha atau bisnis. Posisi GKRI Mojorejo memang nyempil sekali, bahkan akses masuknya saja hanya selebar mobil Rubicon #mungkin ya, soalnya kalau Datsun parkir di situ masih bisa ada motor lewat, tapi kalau Rubicon kayanya ngepas banget. 

Dulu tanah di sekitar GKRI Mojorejo itu kosong, ya hanya tanah tak terurus. Hal ini membuat GKRI Mojorejo masih terlihat dan tampak dari jalan utama Malang ke Batu. Dari jalan utama itu GKRI Mojorejo tampak jelas, Salib merahnya tampak, menunjukan bahwa bangunan itu adalah sebuah gereja. 

Tapi ketika tanah di dekat gereja ini dibeli dan akan dimanfaatkan sebagai lahan bisnis sempet ada kekhawatiran nanti gimana ya. Tapi ketika itu berpikir positif saja, karena tanah di sekitar gereja masih luas, pasti ya sewajarnya saja. 

Tapi ternyata seiring waktu yang terjadi adalah sebaliknya, justru bisnis atau usaha itu berusaha untuk menutupi gereja, jadi bisnis ini berusaha menghilangkan eksistensi bahwa di sana ada sebuah gereja. 

Si pemilik usaha nampaknya anti dengan keberagaman, sehingga berusaha menghilangkan bahwa di sana ada sebuah gereja. Bagi mereka ini haram ketika usaha 'halal' mereka ada di samping bangunan gereja. 

Karena posisi gereja ini memang sulit dan terjepit, dan ketika lahan itu dibeli, posisi gereja pada akhirnya akan tertutupi bisnis tersebut jika si pemilik usaha itu punya mental berusaha menghilangkan eksistensi penampakan gereja. 

Saya langsung saja sebut, ternyata si pemilik usaha ini adalah mantan artis atau publik figur yang dulu jadi bintang utama sinetron Cinta Fitri. Kita tahu ybs. mengikuti aliran yang kita kenal sebagai Wahabi, dan track record mereka yang akrab dengan aliran ini ya seperti itu, sangat anti dengan keberagaman. 

Nah keunikannya tidak sampai di situ. Unit usaha yang dia bangun ini adalah sebuah toko oleh² yang menjual ragam oleh², karena Kota Batu adalah kota wisata sehingga peluang bisnis jika menjual pusat oleh² di wilayah Kota Batu. 

Pembangunan usahanya ini berjalan dengan baik, jemaat gereja pun biasa saja dan tidak bereaksi apapun, ya wajar namanya mau berbisnis, dimana pun tidak masalah. Sampai akhirnya kelucuan muncul, jadi untuk memagari usaha bisnisnya, dibangunlah sebuah tembok untuk memagari sekeliling bangunan usaha ini. 

Nah lucunya, dibangunlah di dinding tinggi menjulang dimana dibalik dinding itu ada berdiri sebuah gereja, gereja itu adalah GKRI Mojorejo. Dimana gereja itu sudah ada bertahun-tahun lalu sebelum unit usaha itu ada, bahkan mungkin jauh sebelum si mantan artis itu terkenal dengan sinetronnya (yang udah usang). 

Tadinya dinding itu dibangun wajar, dari kejauhan arah jalan masih tampak bahwa di balik bangunan itu ada berdiri bangunan gereja, nampak dari Salib berwarna merah yang masih tampak bagian atasnya. 

Tapi ternyata hal ini membuat si empunya usaha gerah, tidak merasa nyaman, sehingga inginnya tembok itu ditinggikan kembali sampai membuat Salib gereja tidak tampak. 

Pas saya ke sana saya mencoba mendokumentasikan apa yang terjadi. Nampak dinding nya yang sudah jadi yang masih menampakkan Salib gereja itu, sudah terpasang logo neon sign dari unit usaha ini, tapi karena kepicikan dari si empunya, si dinding itu ditinggakan kembali sampai membuat Salib tak lagi kelihatan dari sisi jalan Malang menuju Batu. 

Ini foto yang saya ambil ketika saya selepas ibadah dan mengetahui cerita ini,  saya coba membuktikannya dan memang benar, picik sekali manusia seperti ini. 

Ini gambar saya ambil dari pov arah Malang menuju Batu, dari sisi sini Salib sudah tak tampak. Bisa terlihat tambahan bata ringan yang belum dicat, sebuah bata tambahan yang disengaja untuk menutupi Salib gereja.

Dari pov ini Salib merah gereja mengintip dari baliknya, sudah mulai tertutup bata ringan tambahan. Padahal neon sign sudah dipasang seharmoni dengan dinding tembok yang direncanakan awal. Tapi karena mereka takut akan Salib Kristus, tembok itu ditinggikan lagi. 

Dari pov ini Salib merah gereja masih tampak, soalnya pemasangan bata dinding belum selesai. Tapi ketika penambahan dinding ini selesai maka Salib gereja tidak akan tampak lagi dan orang tidak akan tahu bahwa dibalik dinding itu ada gereja. 

Nah lho, picik sekali bukan? 

Sayangnya orang Kristen bukan yang senang membalas hal buruk dengan buruk. Mungkin jika situasinya dibalik, si pemilik usaha itu seorang Kristen dan dibalik itu adalah masjid, dan kita melakukan hal itu, wah udah mencak² itu jemaat masjid di sana, pasti ijin pembangunan tempat usaha gak akan berjalan mulus. 

Iya itulah karakter saudara kita. Saya saking jengkelnya akhirnya memberanikan diri menuliskan opini pribadi ini di sini, walaupun itu tidak baik, tapi ini untuk menunjukan sesuatu hal inilah realitas kehidupan beragama kita dalam masyarakat. Parahnya lagi ini muncul dari seorang publik figur 

Mudah-mudahan sih usaha ini berkah karena sudah mengorbankan kepentingan orang lain, semoga Malang Strudel ini bisa berkah dan bermanfaat, kita lihat saja ke depan, semoga ybs. diberikan 'hidayah', untuk memahami bagaimana berbangsa dan bermasyarakat di tengah masyarakat yang heterogen dan majemuk. 

Oh iya, saya tidak lupa menyampaikan jadi si pemilik usaha ini punya 'itikad baik', jadi sebenarnya maunya adalah gereja ini direlokasi ke tanah di bagian belakang bangunan usaha ini, sehingga gereja ini digusur dan dipindah ke bagian belakang. Nanti pembangunan gereja itu akan dibiayai oleh si empunya usaha. Asal mau jika gereja dipindahkan ke bagian belakang. 

Nah masalahnya begini, tanah yang disediakan itu lokasinya ada di bagian belakang dan di jalan kecil aksesnya, kemudian di depannya ada bangunan masjid yang sudah berdiri di sana. 

Masalah akan muncul pasti akan ada penolakan dari pihak lain, yang ada gereja sudah terlanjur dibongkar tapi gak bisa dibangun kembali, inilah kepicikan dari itikad baik ini. 

Karena logika saja, yang punya sertifikat hak milik, administrasi jelas, surat rekomendasi FKUB sudah dikantongi, untuk bangun gereja dengan dana sendiri saja dipersulit, apalagi dengan kaya begini. 

Untungnya gereja tetap teguh dan tidak mau direlokasi karena memang surat² gereja jelas sehingga mereka tidak berani memaksakan kehendaknya. Alhasil yang terjadi adalah seperti foto yang saya bagikan  itu. 


Memang tidak ada yang tahu dinamika ke depannya tapi apa yang terjadi saat ini sudah jadi preseden buruk tentang bagaimana karakter si empunya usaha ini. 

Sebagai orang Kristen mendapatkan hal seperti sudah biasa dan pasti mampu. Bayangkan jika situasinya dibalik, mereka pasti gak akan mampu menghadapinya dengan kepala dingin, yang ada pasti rusuh. Karena kita semua sudah memahami track record mereka ketika menghadapi masalah keberagaman. 

Semoga hal baik bisa mereka terima dan diberikan  terang Ilahi sehingga pelajaran kehidupan yang terbaik bisa mereka terima. -cpr

#onedayonepost
#gkri
#gkrimojorejo
#opini
#informasi
#re-action
Previous Post
Next Post

http://bit.ly/cocoper6

0 komentar: