Bagi pengikut Kristus kita sering banyak dengar cerita tentang-Nya dari orang diluar Kristen. Dari yang soal Yesus diserupakan, Yesus pergi ke India, hingga Yesus pergi ke negeri Budha dan belajar Budhisme di sana.
Meskipun itu bisa saja terjadi jika Yesus mau karena itu hal yang mungkin Dia lakukan, tapi apa esensi melakukan itu semua?
Pada postingan kali ini saya mau membagikan informasi sebenarnya dari mana info atau cerita Yesus yang katanya pernah belajar Budha itu berasal. Karena begini kalian harus memahami konstruksi cerita yang beredar itu harus diversus kan dengan bukti primernya.
Soalnya begini, keyakinan yang berkembang pada abad ke-7 itu mencoba merangkum cerita² dan dimasukan ke dalam kitab suci mereka, seolah-olah itu terjadi dari teologi iman mereka, tapi ternyata cerita² adalah cerita dongeng² yang lahir sebelum mereka, lalu dikisahkan lagi seolah-olah ada pada jaman mereka.
Jika hal² yang tidak benar ini dibiarkan maka dikemudian hari bisa saja dipercaya bahwa itu suatu kebenaran.
Kita kembali ke topik postingan ini. Jadi awal kisah soal masa Yesus yang hilang selama beberapa tahun di kisah Alkitab, Yesus itu kemana sih? Ada yang bilang Yesus pergi ke tanah Budha untuk belajar tentang ilmu Budha.
Jadi cerita itu berasal dari sebuah buku karya Nicolas Notovitch. Buku itu berjudul The Unknown Life of Jesus Christ (1890).
Dalam buku ini diceritakan soal klaim itu berasal dari saat penulisnya mengunjungi Hemis Monastery, di Ladakh, ia diperlihatkan sebuah manuskrip kuno Tibet tentang tokoh yang mendapatkan sebutan "Saint Issa". Nah inilah yang akhirnya diintepretasikan sebagai Yesus Kristus dari POV si penulis.
Dari kisah itu dikisahkan bahwa Yesus pernah pergi ke India untuk belajar ilmu tentang Budha pada masa-masa yang hilang, yang tidak tercatat dalam Alkitab. Kisah yang kosong di Alkitab itu diintepretasikan oleh orang² non Kristen ini dengan kisah atau cerita lain dari sumber lain.
Masalahnya kebanyakan orang non Kristen sering menelan informasi mentah² tanpa mengkroscek sumbernya itu, apakah berasal dari sumber primer atau kanon diakui atau tidak. Inilah yang terjadi hingga saat ini, dimana kitab sebuah agama yang diklaim jatuh dari langit itu justru adalah saduran dari kisah² lain yang sudah lebih dulu ada, hanya dimodifikasi sesuai kebutuhan saja, karena apa cerita yang mau dimasukan atau diklaim itu tidak pernah diversuskan dengan sumber primernya. Alhasil hingga saat ini itu ditelan mentah² sebagai sesuatu yang original dan datang dari langit. Padahal bagi orang yang mengetahui kisah aslinya akhirnya akan berujar, "Halah cerita saduran saja bangga!"
Kita kembali lagi ke topik. Jadi soal kisah "Saint Issa" ini sesungguhnya setelah diteliti lebih lanjut, kisah ini sebenarnya tidak dianggap kanon oleh Buddhis Tibet.
Sampai akhirnya kisah yang diklaim oleh penulisnya ini diuji oleh beberapa peneliti lain baik dari ahli Alkitab, ahli Kristen dan sekuler pada tahun² berikutnya dan ditarik kesimpulan bahwa klaim "Saint Issa" adalah Yesus Kristus tidak bisa diterima kebenarannya, bahkan dikabarkan si penulisnya pun mengakui kesalahannya ini.
Tapi kenapa kisah yang jelas² tidak berdasar ini masih populer di kalangan non Kristen, selain warga Buddha tentunya, karena mereka lebih memahami kisah yang sebenarnya (seharusnya)? Apalagi kisah ini jadi sangat populer bagi mualaf² yang berkoar dimana-mana seolah-olah mereka memahami ajaran agama sebelumnya, padahal yang mereka koar²kan itu adalah sebuah informasi yang salah.
Saya pribadi menjawabnya begini karena mereka terbiasa tidak pernah mengkroscek atau memversuskan suatu klaim dengan sumber primer, mereka sudah cukup senang akan klaim² semu yang tidak berdasar.
Mungkin dilain waktu saya akan membahas soal tahun² yang hilang dari Yesus Kristus ini, kemana Yesus berada selama tahun yang tidak dijelaskan oleh Alkitab. Tentunya kita harus menggunakan sumber informasi lain, karena tidak bisa kita hanya berdasar pada Alkitab saja, Alkitab sendiri baru dikanonisasi pada tahun 363 M. Ada banyak kisah² lisan yang diketahui oleh para saksi primer yang dituliskan dalam tradisi gereja yang bertahan turun-temurun sejak kisah itu terjadi.
Meskipun dalam Kristen Protestan tidak terlalu berfokus pada tradisi gereja, namun untuk menjelaskan sesuatu hal atau informasi yang benar, informasi dari semua sumber harus digunakan. Memang benar Alkitab jadi pedoman, tapi untuk memberikan penjelasan yang lebih komprehensif dirasa perlu mencari sumber lainnya. Ingat, janganlah kita menjadi seperti keyakinan yang lahir pada abad ke-7, jadilah orang Kristen yang cerdas dan benar dalam memahami suatu informasi.
Segitu saja sih bahasan saya soal kisah hoax perjalanan Yesus ke India, Tibet atau ke dunia timur. Meskipun itu bisa saja terjadi, namun dari klaim sebuah buku yang salah inilah hoax dan kisah populer yang salah berkembang, untuk itu kita yang tahu harus menjelaskan kebohongan itu. Sampai jumpa dipostingan yang lainnya. -cpr
#onedayonepost
#sejarah
#informasi
#opini
#yesusbelajarbudha
#hoax

0 komentar: