Jumat, 15 Mei 2026

Istilah Armageddon, Asal-usulnya

Sering kita mendengar kata 'armagedon', biasanya kata ini digunakan untuk merujuk pada hari kiamat. Oh iya, ada juga film dengan menggunakan kata ini sebagai judulnya. 

Hari ini bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Yesus ke Surga, ketika firman Allah disebutkan sebuah kata yang sama, 'armageddon', karena berkenan dengan janji Yesus Kristus akan kedatangannya kedua kalinya nanti. 

Sebenarnya dari mana sih kata armageddon ini? 

Ilustrasi perang akhir jaman disiapkan by Gemini

Jadi dari yang saya ketahui ketika mencari kisah² apokaliptik religius, saya menemukan asal-usul kata armagedon ini berasal. 

Ternyata kata armageddon ini berasal dari bahasa Ibrani, "Har Megiddo", yang berarti Gunung Megiddo. 

Lalu apakah Gunung Megiddo itu nyata atau hanya hayalan, fiksi, imajinasi seperti kisah dongeng saduran yang dinyatakan sebagai wahyu dari langit? 

Tentunya tidak ya, dalam Kekristenan hampir mayoritas bisa dibuktikan dengan fakta sejarah, atau setidaknya itu ada nyata di dunia ini. Dan berasal dari sumber primer, bukan main asal klaim, yang mengaku-aku dari jazirah Arab tapi mengaku-aku apa yang ada di tanah orang Ibrani. 

Megiddo adalah sebuah lembah di Israel utara yang secara historis menjadi lokasi pertempuran besar di masa purbakala, seperti pertempuran tahun 609 SM yang melibatkan Raja Yosia.

Saat ini daerah Megiddo masih ada namanya, dikenal dengan nama daerah Tel Megiddo atau Megiddo, merupakan lembah di Israel di dekat kota modern Megiddo. Tempat ini punya terjemahan dalam bahasa Arab yaitu Tell al-Mutesellim. 

Di lembah Megiddo ini ditemukan 26 reruntuhan kota kuno di depan pintu masuk Gunung Karmel. Dahulu tempat ini merupakan jalur rute perdagangan yang menghubungkan Mesir dan Siria. Situs ini telah berdiri sejak 7000 SM sampai 500 SM.

Bukti lain yang menyebutkan bahwa tempat ini nyata sudah ada sejak jaman kuno, adalah dari catatan Mesir kuno dimana salah satu Raja Mesir atau Fir'aun Thutmose III mengadakan perang ke kota Megiddo tahun 1478 SM. Informasi ini dideskripsikan secara detail pada tulisan hieroglyph yang ditemukan di sebuah kuil di Mesir. 

Saat ini di jaman modern, Megiddo merupakan persimpangan jalan utama yang menghubungkan Israel pusat dengan Galilea dan wilayah bagian utara. 


Sejak jaman kuno hingga modern, Megiddo memang kerap jadi tempat berperang, mungkin jika di babat Hindu, tanah ini adalah medan Kurusetra lokasi perang antara Pandawa dan Korawa. 

Berikut ini beberapa perang yang pernah terjadi di Megiddo ini:
⚔️ Abad ke-15 SM : Peperangan antara pasukan Firaun Mesir, yaitu Thutmose III dengan Rakyat Kanaan yang dipimpin oleh penguasa Megiddo dan Kadesh. 

⚔️ Tahun 609 SM : Peperangan antara Firaun Nekho dari Kerajaan Mesir dengan Kerajaan Yehuda, di mana raja Yosia terluka dan kemudian wafat.

⚔️ Tahun 1918 : Peperangan selama Perang Dunia I antara sekutu, dipimpin oleh Jenderal Edmund Henry Hynman Allenby, dengan pasukan Ottoman. 


Di daerah Megiddo ini ditemukan gereja kuno saat dilakukan penggalia pada tahun 2005, Arkeolog Israel, Yotam Tepper, dari Universitas Tel Aviv menemukan reruntuhan gereja ini yang diyakini berasal dari abad ke-3, ketika Kekristenan masih disiksa oleh Kekaisaran Romawi. 

Di reruntuhun  gereja kuno ini terdapat "Mosaik" berukuran kira-kira 54 meter persegi dengan bahasa Yunani yang menjelaskan status bahwa gereja itu berkonsentrasi pada Yesus Kristus.


Kita kembali lagi ke Armageddon tadi. Kata ini diambil dari bahasa Ibrani. Alkitab dalam Kitab Wahyu yang ditulis oleh Rasul Yohanes yang adalah murid Yesus, menyebutkan pada nubuatan apokaliptik ini bahwa pada akhir jaman akan ada perang besar antara kekuatan surgawi dengan kekuatan antikristus yang didukung sekutunya iblis. 

Jika merujuk pada terjemahan Alkitab pada Kitab Wahyu, armageddon ditulis dengan kata 'harmagedon'. 

Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon. (Wahyu 16: 16) 

Kitab Wahyu berisikan mengenai nubuatan akhir jaman, dimana di sini ditulis kiasan² dengan gaya bahasa yang metafora, yang seperti tidak mungkin terjadi di dunia nyata, yakni soal 'naga merah berkepala tujuh' dan lain sebagainya. Yohanes menuliskannya juga berdasarkan apa yang dia ketahui dan pahami, lokasi tempat 'harmagedon' ini dipilih karena memang punya keterkaitan dengan perang² besar pada masa sebelumnya, sehingga tempat inilah yang dipilih dalam tulisan² nya. 

Untuk sementara itu dulu yang bisa saya bagikan, sembari saya menyelesaikan membaca Kitab Wahyu agar menjadi satu kesatuan yang utuh, memahami nubuat Rasul Yohanes. Akan saya lanjutkan pada postingan berikutnya. -cpr

#onedayonepost
#informasi
#sejarah
#kitabwahyu
#armagedon

Jumat, 08 Mei 2026

Refleksi dari Seorang Yudas Iskariot

Pernahkah ada yang mengetahui seseorang yang bernama Yudas Iskariot dijaman saat ini? Atau ada orang tua yang memberikan nama untuk anaknya 'Yudas Iskariot'?
Rasanya ya tidak ada ya, kalau kalian mengetahui ada, mohon dishare di kolom komentar ya. 

Nama itu sudah sangat melekat dengan kata 'pengkhianatan', bukan sekedar pengkhianatan biasa tapi ini benar² mengkhianati guru dan Tuhannya sendiri. 

Ilustrasi, ketika Yesus ditangkap di Taman Getsemani, gambar disiapkan by Gemini

Selama ini kita menyadari dan mengetahui bahwa Yudas menjual Yesus kepada ahli² Taurat Yahudi dengan harga 30 keping perak. Kita menganggapnya selama ini itu hanya motif ekonomi, jika tidak memahami nilai 30 keping perak itu senilai apa? Bagi yang orang awam Kristen atau bahkan mayoritas yang non Kristen pasti menilai motif itu hanya soal uang. 

Tapi ternyata ada refleksi lain yang bisa kita reflektifkan dari peristiwa Yudas mengkhianati Yesus ini. 

Jika menonton serial The Chosen, kisah tentang Yesus yang dibuat lebih panjang, kita bisa mengenal karakter² dari murid-murid Yesus, termasuk Yudas Iskariot. 


Nilai 30 keping perak itu dalam Alkitab, menurut sosial masyarkat Yahudi saat itu, bernilai atau senilai dengan harga seorang budak yang mati ditanduk sapi, iya itu harga tukar guling (baca: ganti rugi) seorang budak itu. 

Nominal yang sangat rendah dan menghina ketika ditimpakan kepada Yesus yang adalah seorang guru, diserupakan dengan seorang budak. 

Seharusnya jika motifnya itu soal uang, finansial, harga yang harusnya ditukar minimal adalah harga seorang guru atau rabi, karena Yesus adalah seorang guru dan rabi, setidaknya itu yang diketahui banyak orang, bahkan ahli² Taurat mengetahui bahwa Yesus kerap disapa guru dan rabi oleh banyak orang 

Nominal yang diperoleh sebagai 'ganti rugi' itu harusnya lebih besar dari yang harga seorang budak yang mati tertusuk tanduk sapi. 


Kita kembali ke film series The Chosen lagi. Kalau kita menonton serial itu, dikisahkan Yudas menjabat sebagai bendahara dari kelompok Yesus. Dimana itu jabatan yang cukup elit, dia mengatur arus kas dan keuangan komunitas. 

Yudas didapuk diposisi itu karena memang dia mampu, itu keahliannya. Namun cara dia (baca: Yudas) mengatur keuangan ini berbeda visi dan misi dengan pelayanan komunitas yang Yesus ciptakan. 

Yudas melihat segala sesuatu ada muatan ekonominya. Karena dalam pelayanan butuh dana, dana ini harus diperoleh dari memutarkan apa yang ada. Sedangkan Yesus tidak ke arah sana, sehingga muncul kekecewaan dalam diri Yudas. Ada konflik perbedaan pandangan ini yang akhirnya membuat munculnya 'kepahitan' dalam diri Yudas. 

Hingga pada akhirnya, Yudas rela menjual Yesis dengan harga 'seadanya'. Karena jika Yudas ingin mengambil keuntungan finansial dari transaksi ini, tentunya harga yang dibayar tidak semurah itu. 


Terkadang kita pun berlaku seperti Yudas, pelayanan selalu diukur atau dibenturkan dengan finansial, bahkan yang lebih parah mencari keuntungan dari hal itu. Ini sebuah kesalahan dan Yesus tidak menginginkan demikian, jika kita tetap memaksakan diri maka kita inilah Yudas² jaman modern, ditambah lagi ketika ada rasa kepahitan yang secara gak sadar menyalahkan Tuhan. 

Bahkan ada pula yang meninggalkan iman, menggadaikan imannya demi keuntungan finansial. Kita bisa amati ini dalam kehidupan sehari-hari, berefleksi dari influencer yang berkecimpung di dunia skincare yang baru² ini terkena kasus 'penipuan' produk skincare yang dia jual. Dulu dia adalah seorang penganut Kristen, tapi kita melihat demi keuntungan finansial tertentu rela menjual imannya untuk dikonversi guna menarik banyak pengikut karena status dia yang pindah agama. Agar bisnisnya makin meroket. Tapi pada akhirnya dia menerima ganjarannya, usaha apa yang dia lakukan ternyata tidak jujur.

Tapi dari sini Tuhan lebih tahu, karena Dia yang memilih kita menjadi pengikut-Nya, jika kita memang tak layak pasti kita akan dilepaskan-Nya. Jika kita memang pantas Dia pilih, sebagaimana sulitnya kita akan terus Dia jaga, terus dibentuk dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi seiring masalah yang dihadapi. 

Percayalah bahwa kita ada hingga saat ini, itu adalah Tuhan yang pilih, bukan kita yang memilih-Nya. Sama halnya Yudas juga awalnya Tuhan pilih, namun pada akhirnya Yudas malah memilih untuk mengingkari dan menyerahkan Tuhannya demi 'membayar' rasa kepahitanya tersebut. 

Kita bisa belajar dari tokoh Alkitab Yudas Iskariot, bukan mencontoh yang buruk tapi memahami hal yang Yudas lakukan itu salah, dan jangan mengulangi kesalahan itu lagi. Entah siapa pun nama yang kamu sandang, hendaklah jangan meniru perilaku Yudas Iskariot. -cpr

#onedayonepost
#refleksi
#yudasiskariot