Jumat, 17 April 2026

Dasar Istilah 'Perjanjian Baru' Digunakan Oleh Murid-murid Yesus

Orang Kristen pasti tidak asing dengan kata "Perjanjian Baru", juga " Perjanjian Lama", itu adalah nama atau penyebutan untuk kumpulan kitab-kitab yang ada dalam Alkitab Kristen atau umat Kristiani secara umum. Walaupun untuk Kristen Protestan dan Kristen Katolik atau Ortodoks pun ada sedikit saja perbedaan dari sisi pengakuan atas kitab-kitab tertentu. 

Namun dua istilah tersebut di atas pasti tidak asing ditelinga. Dimana "Perjanjian Baru" merujuk pada kitab-kitab yang memuat kisah tentang Yesus Kristus dan setelahnya, sedangkan "Perjanjian Lama" merujuk pada kitab-kitab yang memuat kisah perjanjian Allah dengan Bangsa Israel. 

Ilustrasi dibantu disiapkan chatgpt

Sekarang pada postingan ini mau membahas begini, kenapa murid-murid Yesus menggunakan istilah "Perjanjian Baru" pada kitab-kitab yang ditulis untuk mewartakan kabar sukacita ini? Inilah yang mau saya catat, why -nya itu apa. 

Jadi menurut sejarah kitab-kitab yang ada dalam Perjanjian Baru, kitab tertua adalah kitab-kitab yang dituliskan oleh Rasul Paulus, bukan kitab-kitab Injil. Itu sekedar fakta yang perlu diketahui, karena bisa saja digunakan oleh orang non Kristen untuk menyerang keyakinan orang yang sedikit pehamanannya tentang Kekristenan. 

Kitab Injil yang paling tua adalah Injil Markus, ditulis sekitar tahun 70 M, ditulis setelah kitab-kitab atau surat-surat Paulus. 

Lalu selanjutnya kenapa digunakan frasa kata 'perjanjian'? Kata perjanjian itu diambil dari bahasa Yunani, 'diatheke' yang mempunyai arti 'kesepakatan'. 

Pada kitab-kitab Perjanjian Lama, secara umum berisi kesepakatan yang dijalin Allah dengan umat Israel. Dalam kitab-kitab ini pulalah Allah memilih umat Israel sebagai umat pilihan-Nya. Kesepakatan ini secara umum terangkum dalam Hukum Taurat. 

Sekitar 600 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus, kita tahu soal nubuat Nabi Yeremia, dimana ada 'perjanjian baru', dimana didasarkan pada hubungan batin antara manusia dan Allah. 

Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian Baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.  Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yeremia 31: 31 - 34) 

Tulisan yang saya beri cetak tebal itu menunjukan bahwa karena nubuatan Nabi Yeremia inilah dasar frasa kata 'Perjanjian Baru' digunakan untuk kitab-kitab yang ada setelahnya (baca: Perjanjian Lama) yaitu kitab-kitab Injil dan surat-surat murid-murid Yesus lainnya. 

Kemudian dari nubuatan itu pula dituliskan bahwa perjanjian sebelumnya sebenarnya telah berakhir oleh karena pengingkaran umat Allah pada ketetapan Allah. 

Berdasarkan nubuatan itu, para penulis kitab-kitab yang tergabung dalam 'perjanjian baru' terinspirasi menggambarkan karya-karya Allah dalam diri Yesus Kristus. 

Secara umum kitab-kitab dalam perjanjian Baru itu ditulis 100 tahun setelah masa Yesus. Ini adalah catatan yang paling primer dekat dengan asal muasal waktu kejadian. 

Jadi apabila ada catatan atau kitab yang secara waktu ditulis atau ditemukan tidak lebih dekat dari masa ini tidak sulit untuk menganggap catatan itu valid atau bisa dipercaya, apalagi ketika menciptakan ceritanya sendiri (mengarang bebas), apalagi disesuaikan dengan teologi baru. 

Cetak hitam adalah klaim dan opini saya sebagai penulis yang mengkritisi para pengkritik non Kristen yang sering mengganggu keimanan Kristen, apalagi pernyataan² yang digunakan para mualaf yang sok tahu. 

Kita kembali lagi ke pembahasan.  Jadi secara umum kitab-kitab yang ditulis ini mengarahkan kepada pribadi Yesus Kristus. Kitab-kitab Injil baik Markus, Matius, Lukas dan Yohanes menuliskan tentang Yesus Kristus dari sudut pandang dan gaya penulisan mereka masing-masing, dimana secara umum isinya adalah tentang perjalanan hidup Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. 

Sedangkan kitab-kitab atau surat-surat yang dituliskan oleh para rasul (Kisah Para Rasul), menceritakan tentang kebangkitan Yesus Kristus. Selain itu juga mengabarkan pemberitaan karya Yesus Kristus, serta penafsiran dari ajaran Yesus yang terjadi pada masa jemaat perdana. 

Dari surat-surat itu pula kita yang hidup di jaman sekarang bisa mengetahui gambaran kehidupan jemaat perdana dan pengalaman iman mereka. 


Meskipun pada keseharian Yesus dan para rasul-Nya menggunakan bahasa Aram, kitab-kitab perjanjian baru sejak awal ditulis dalam bahasa Yunani sehari-hari. 

Para penulis dari kitab-kitab perjanjian baru ini pun mendapatkan kitab-kitab perjanjian lama dalam tulisan terjemahan berbahasa Yunani (Septuaginta). Umumnya kitab yang terjemahan berbahasa Yunani itu diterjemahkan dari tulisan berbahasa Ibrani. 

Kondisi saat ini naskah² kitab-kitab perjanjian baru yang asli saat ini tinggal kepingan, malah sudah ada yang musnah karena termakan usia. 

Meski begitu salinan² teks dari kitab-kitab perjanjian baru yang ditulis tangan masih tersedia karena dilakukan secara turun-temurun. Salinan yang paling tua berbahasa Yunani berasal dari abad ke-4. Ada pula kepingan tulisan paling tua berasal dari tahun 125.

Selain itu juga terdapat salinan lain dari terjemahan bahasa Koptik,  Siria, dan Latin yang juga masih ada. 

Semua itu membutuhkan proses yang panjang hingga menjadi kitab yang bisa kita baca saat ini, butuh waktu hingga 300 tahun untuk menyusunnya dalam bentuk buku baku yang kita kenal sebagai Alkitab. Jadi bukan ujug² jatuh dari langit dalam bentuk buku melainkan melalui proses yang panjang dan penetapan yang tidak sembarangan, namun berdasarkan dasar yang valid dan prinsip sumber primer, bukan dari dongeng, comot, atau bahkan hasil modifikasi dari juru tulisnya. 


Segitu saja informasi menarik mengenai Alkitab, semoga bisa menambah pengetahuan seputar katekisasi Kekristenan, agar makin paham dunia Kristen. Agar mampu menepis keraguan dari mereka non Kristen yang mencoba mengusik. -cpr

#onedayonepost
#informasi
#sejarah
#perjanjianbaru

Jumat, 10 April 2026

Perbedaan GKJW dan GKJ

Sering sekali orang non Kristen Protestan salah memahami soal GKJW dan GKJ. Dikiranya sama dan serupa, sering dianggap gerejanya orang Jawa. Kemudian gaya gereja beraliran presbiterian sinodal. Gereja ini berakar dari tradisi Reformed (Calvinis). 


Nah, pada postingan kali ini kita akan membahas serba-serbi keduanya supaya memahami perbedaannya dan persamaanya.

Ilustrasi, gambar disiapkan oleh chatgpt

GKJ (Gereja Kristen Jawa)
Secara eklesiologi, GKJ menganut teologi Calvinis dan menerapkan sistem pemerintahan gereja Presbiterian. Pengelolaan jemaat dilakukan oleh penatua dan pendeta secara bersama-sama.

*eklesiologi adalah sub-disiplin ilmu teologi Kristen yang mempelajari hakikat, fungsi, struktur dan misi gereja. Eklesiologi membahas gereja bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebagai tubuh Kristus dan komunitas orang beriman. 

Wilayah persebaran gereja ini mayoritas di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Meski begitu, GKJ tersebar di beberapa wilayah Provinsi di Indonesia diantaranya di Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Terdapat 344–346 gereja (jemaat). 

Dalam perkembangan gereja mula-mula dimula-mula dari Zending Belanda yang ada di wilayah Jawa Tengah, yang akhirnya berkembang dengan identitas sendiri (Jawa). Terikat dengan budaya Jawa namun lebih formal dibandingkan dengan GKJW. 

Liturgi lebih tertata dan seragam. Pengelolaan gereja dengan sistem sinodal. GKJ tidak berdiri sendiri-sendiri sesuai dengan daerah dimana gereja itu berdiri, tapi mempunyai pusat Sinode yang mengatur dan mempersatukan seluruh jemaat.

Pusat Sinode GKJ berada di Salatiga, Jawa Tengah. 


GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan)
Dari nama saja ini jelas jadi pembeda, 'Jawi Wetan' artinya adalah Jawa Timur. Hal ini menjadi penunjuk bahwa komunitas gereja ini berkembang mayoritas di wilayah Jawa Timur, ini yang jadi pembeda dengan GKJ. 

Akar sejarahnya gereja mula-mula dari Zending Belanda yang berkembang di wilayah Jawa Timur. Dengan gaya reformed (Calvinis). 

GKJW lebih kental dalam hal budaya Jawa dari sisi penggunaan Jawa, tembang, hingga simbol² lokal. Liturginya lebih kental dengan unsur-unsur budaya Jawa, lebih kontekstual. 


GKJW sering disebut gereja pribumi Jawa Timur karena sangat menyatu dengan budaya lokal. Terdapat sekitar ±180–181 jemaat (gereja lokal). 


GKJW juga mempunyai pusat Sinode, tidak berdiri sendiri² sebagai gereja lokal. Majelis Agung GKJW berada di Kota Malang, Jawa Timur. 



Kedua gereja ini sama² tergabung dalam Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). 

Dari sini sepertinya kita sudah lebih mudah memahami perbedaan dari kedua gereja Jawa ini, sehingga ke depan kita tidak bingung lagi membedakan keduanya. -cpr

#onedayonepost
#gkjw
#gkj