Minggu, 01 Februari 2026

[Firman] Hidup Berpadanan dengan Injil Kristus

 
Catatan ini saya tuliskan berdasarkan refleksi iman ketika mendengar penyampaian firman oleh Pdm. Trifena Stefanus, pada Ibadah Raya II, tanggal 1 Februari 2026.

Nanti saya akan bagikan link video streaming Ibadah Raya tersebut, supaya yang ingin memahami apa yang disampaikan Ibu Pendeta bisa mendengarnya dengan menonton video streaming tersebut. Karena apa yang saya tuliskan ini sesuai apa yang jadi refleksi iman saya sesuai apa yang disampaikan, jadi kalau ada sedikit banyak kata atau diksi yang berbeda harap dimaklumi ya, ini saya sampaikan disclaimer terlebih dahulu. 

Ilustrasi dibantu dibuatkan chatgpt

Tema apa yang disampaikan ibu Pendeta pada awal pekan ini seperti yang tertulis dijudul postingan ini, yaitu hidup berpadanan dengan Injil Kristus. 

Sebagai orang Kristen harus paham betul siapa guru agung kita, tentunya apa yang kita lakukan itu harus berpadanan dan sesuai dengan apa yang Yesus Kristus ajarkan, firmankan. 

Dan semuanya itu dituliskan dalam Injil, apa yang Yesus Kristus perintahkan dan ajarkan tertulis dalam Injil. Orang Kristen harus paham betul, ada berapa Injil? 

Jangan sampai mengaku Kristen ketika ditanya Injil-Nya tidak tahu, bahkan salah menjawab. Injil Kristus yang kanon ada empat Kitab, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Jika ada saudara kita sesama manusia yang menyebutkan 'injil' lain, dipastikan itu bukan Injil yang diakui Gereja. Jadi abaikan saja. 

Apa yang tertulis dalam Injil adalah pengajaran daripada Tuhan,  sebagai pedoman hidup orang Kristen. Meskipun di luar sana ada ajaran lain yang nampaknya baik, namun bagi orang Kristen pengajaran yang utama adalah yang bersumber daripada Yesus Kristus sendiri, benturkan ajaran lain pada ajaran -Nya, jika bertentangan dipastikan bukanlah ajaran yang benar.


Hal ini tertulis seperti pada Alkitab, pada Filipi 1: 27, tertulis demikian:
Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil. 

Para rasul mengajarkan apa yang Yesus ajarkan ketika tinggal bersama-sama mereka, pengajaran itu disebarkan ke seluruh dunia, seperti yang tertulis di Alkitab, ketika rasul Yesus mengajar pada jemaat di Filipi. 

Apa saja yang Yesus ajarkan? 

Sebenarnya sangatlah banyak yang Yesus ajarkan kepada orang Yahudi dan non Yahudi yang ada di Yerusalem ketika itu, bahkan kepada para murid-Nya. Pada firman kali ini disebutkan beberapa, sisanya kita biasakan membaca Alkitab, karena di sana sumber pengajaran kita sebagai orang Kristen. 


Ketika Yesus mengajar "Sabda Bahagia"
Matius 5: 2 - 12,  tertulis demikian:
Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Terkadang kita terbawa kesedihan ketika menghadapi banyak hal dalam kehidupan ini, tapi sebenarnya Yesus menyampaikan bahwa kita seharusnya memperbanyak bahagia dan sukacita. Ada banyak yang Yesus sampaikan kenapa kita harus berbahagia dan bersukacita. 


Selanjutnya Yesus juga mengajarkan kita untuk menjadi "Garam dan Terang Dunia". Ini yang paling sering kita dengar sebagai orang Kristen, haruslah menjadi seperti demikian. 

Ini seperti tertulis dalam Matius 5: 13 - 14. Seperti yang tertulis demikian:
"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi."

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengetahui sifat garam itu seperti apa? 
*garam itu menyedapkan masakan
*garam itu bisa mengawetkan
*garam itu punya manfaat dan kegunaan dalam. Kehidupan kita sehari-hari

Orang Kristen itu harus menjadi garam. Kita ada di tengah kehidupan di dunia yang beragam. Kita harus bisa menggarami atau memberikan kesedapan dalam kehidupan kita berada. Tempatkan diri kita sebagai 'garam'. Jangan sampai ada orang yang melihat kita sebagai sesuatu yang mengganggu atau tidak bermanfaat. Orang Kristen harus bisa menempatkan diri, dari ucapan, tutur kata, perilaku. Inilah yang Yesus ajarkan. 

Begitupun orang Kristen juga harus menjadi terang dunia. Dunia yang penuh kejahatan, kita harus berbeda bukan malah mengikuti yang jahat, tetapi kita harus berbeda dan menjadi contoh yang baik. Dimana kita berada, kita harus mengakui bahwa kita Kristen. 


Selanjutnya pengajaran Yesus bagaimana soal pembalasan. Ingat dalam Perjanjian Lama tertulis di sana ajaran Taurat, dimana selalu ada pembalasan, mata ganti mata, dimana apabila kita dijahati maka kita harus melakukan pembalasan, syukur² impas, jika mungkin membalas yang lebih kejam. 

Ingatkan soal pepatah dunia, "pembalasan harus lebih kejam"

Tapi Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya, seperti yang tertulis dalam Matius 5: 39 - 40, dimana tertulis demikian:
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.

Pengajaran yang radikal yang sangat sulit sekali dilakukan jika kita masih terikat pengajaran dunia atau masih terikat pada ajaran Taurat. Ini yang terjadi dikehidupan saat ini, dimana perang terjadi oleh karena pembalasan. 

Tapi Yesus mengajarkan hal (+) untuk tidak membalas apa perbuatan jahat orang lain pada kita. Karena pembalasan itu datang dari Tuhan. 


Selanjutnya pengajaran Yesus yang tak kalah radikal yang, yakni soal "penghakiman" atau judgment. Hal yang lumrah kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, hanya karena kita merasa diri kita sudah paling dan menjalankan apa yang benar. 

Ini seperti yang tertulis dalam Matius 7: 1 - 5, tertulis demikian:
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Kita sering terjebak dengan mudahnya menjudge seseorang hanya karena kita merasa sudah lebih baik daripada orang lain, cara kita yang salah ketika menegur orang lainlah yang pada akhirnya berlaku seperti menghakimi orang lain. 
Terkadang kita menghakimi dengan kata-kata, atau bahkan kita melakukan penghakiman dengan main hakim sendiri. Tidak ada manusia yang sempurna: jangan membesar-besarkan masalah. Sadarilah keberadaan diri kita dan menyadari kesalahan kita sendiri. 


Karena dari semua pengajaran Yesus ini, akan berhubungan dengan apa yang akan disediakan di Kerajaan Surga kelak. 

Seperti yang tertulis dalam Matius 7: 21, yang tertulis demikian:
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Pesan Yesus ini cukup keras sebagai peringatan kita agar melakukan kehendak Bapa-Nya di sorga. 

Kebenaran Injil berbeda dengan pengajaran yang lain. Kita harus mengetahui kebenaran yang sesungguhnya terlebih dulu untuk membedakan pengajaran yang lain. Karena banyak pengajaran yang lain yang nampaknya baik, tapi bertentangan dengan ajaran Yesus. 

Karena pada akhirnya kita itu diminta untuk merefleksikan Yesus Kristus dalam hidup kita, agar benar-benar Kerajaan Allah dimuliakan dan tergambar dalam hidup kita. 

Seperti pengajaran² yang disampaikan oleh para rasul-Nya kepada jemaat Kristen mula-mula, pengajaran yang sama pula juga disampaikan pada kita saat ini. 

Seperti yang tertulis pada Roma 1: 16, yang berbunyi demikian:
Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.

Juga tertulis pada 2 Korintus 3: 2 - 3, yang berbunyi demikian:
Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.  

Juga tertulis pada 1 Petrus 2: 12, yang berbunyi demikian:
Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 

Hendaklah kita hidup seturut pengajaran-Nya dan hidup sesuai firman yang telah Dia sampaikan. Karena kita adalah pengikut Kristus kita harus hidup sesuai dengan kehendak-Nya jika kita mau masuk ke dalam kerajaan-Nya. 


Refleksi yang saya re-write di sini saya sesuaikan dengan apa yang saya bisa paham dengan panca indera saya. 

Untuk memahaminya sendiri bisa dilihat streaming Ibadah Raya II di GBIS Hosana Pandaan dengan mengklik tautan ini. 

Rajinlah membaca Alkitab, karena di sanalah semua pengajaran yang benar agar hidup kita seturut kehendak-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua. -cpr

#onedayonepost
#gbis
#firman
#refleksi
#iman
#youtube

Minggu, 25 Januari 2026

[Firman] Dis(X)Connected Couple

Saya mau share firman yang saya resapi mengawali pekan ini, firman Tuhan disampaikan melalui Pdt. Otniel pada saat Ibadah Raya II, pada 25 Januari 2026.

Firman yang saya dengar pekan ini relate dengan situasi hubungan saya saat ini, sekaligus refleksi iman pada diri saya sendiri, ini cara Tuhan menegur saya pribadi yang selalu membuat hubungan ini jadi selalu dis (x) connected dengan pasangan. Sekaligus juga dari firman ini saya mengetahui apa makna sepadan dalam sebuah relasi pasangan. 

Mari kita simak apa yang bisa saya peroleh dari firman yang disampaikan ini. Jika mau mendengarkan langsung apa yang disampaikan, link nya akan saya bagikan diakhir catatan ini. 

Ilustrasi disiapkan oleh chatgpt

Jadi, poin utama hubungan antar personal pria dan wanita atau suami dan istri, diawali dengan keterhubungan dengan Allah. Karena keterhubungan masing-masing dengan Allah akan memberikan dampak ke banyak hal, bahkan untuk hubungan antar personal. 

Refleksi dikehidupan kita, tujuan umum pria dan wanita menikah antara lain:
👫 Ingin bahagia atau dibahagiakan oleh pasangannya
👫 Memperoleh keturunan
👫 Menjalin relasi bisnis
👫 Pembuktian pada lingkungan
👫 Memperbaiki taraf kehidupan
👫 Menaikan status level (yang penting menikah) 
👫 Desakan dari keluarga

Rata-rata jika tujuan itu tidak tersampaikan ketika setelah menikah yang ada akhirnya perasaan kecewa. 

Pak Pendeta memulai dengan nats Kitab Suci seperti apa yang tertulis pada Kejadian 2: 18. Dimana di sana tertulis demikian:
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya,  yang sepadan dengan dia."

Di sana tertulis kata 'sepadan', lalu apa maknanya? 
Kata sepada di sini bukan dimaknai sebagai atribut, kemampuan atau status apapun, atau bahkan pencapaian. Karena ketika pertama kali manusia diciptakan, tidak ada capaian apapun. Tapi kata 'sepadan' ini dimaknai sebagai keberadaan diri dan identitas pada mulanya. Sepadan diartikan juga pria dan wanita diciptakan dengan nilai yang sama tingginya dihadapan Allah. Nilai yang sama dihadapan Allah, itulah makna kata sepadan. 

#1 Pernikahan adalah kesatuan antara dua manusia, yaitu pria dan wanita. 
Hal ini dapat dilihat dari apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, dasar Allah menciptakan manusia. Tertulis dalam Kejadian 1: 26 - 27, yang tertulis demikian:
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 

Di sini saya coba keluar sedikit dari konteks: di sini saya menyadari bahwa Allah Tritunggal telah ada sejak semula, sejak awal kita manusia diciptakan. Dari mana dasarnya, di sana tertulis kata 'kita'. Jika bukan orang percaya, pasti akan menilai bahwa Allah kita adalah polytheisme, karena di sana tersebut makna jamak. Tapi kita yang percaya memahami bahwa konsep Tritunggal ada sejak Yesus ada. Tapi ternyata jika mundur ke belakang ketika penciptaan, tersebut jelas di sana bahwa ada kata 'kita'. Yesus kita yakini bahwa Dia-lah Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, konsep Tritunggal kita kenal ketika pengajaran Yesus, Yesus sendiri adalah Alpha dan Omega, awal dan akhir, dimana Dia telah ada sebelum bumi ini dijadikan. Itu terlihat jelas bahwa ada perbincangan diantara Allah-Putera-Roh Kudus, tiga dalam satu pribadi. Inilah yang membuat saya semakin yakin akan konsep Tritunggal ini dan itu terbukti sejak dahulu, sekarang dan akan datang. 


Kita kembali ke pembahasan, saya agak melenceng sedikit, abaikan saja tulisan diatas, itu hanya selingan saja. 

Dari apa yang tertulis di sana Pak Pendeta memberikan gambaran yang menarik, bahwa penciptaan manusia (pria dan wanita) itu berbeda dari makluk ciptaan-Nya yang lain. 

Makluk yang lain diciptakan melalui firman, apa yang Dia ucapkan maka terjadilah. Tapi yang dilakukan pada penciptaan manusia, ada diskusi diantara tiga pribadi, seperti yang dicatatkan dalam kitab suci. "Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita."

Itu kenapa manusia adalah makluk ciptaan-Nya yang paling mulia, karena manusia diciptakan tidak semata-mata ciptaan tapi memang diciptakan serupa, segambar dengan-Nya. 

Penghargaan pada pasangan kita hendaknya dimaknai dengan penghargaan sebagai sesama manusia yang bernilai tinggi di hadapan Allah. 

Karena ketika kita melihat keterbatasan pada masing-masing individu pasangan, secara manusiawi kita seperti membandingkan. Kenapa dia begini, kenapa dia begitu, saya sudah begini kenapa dia tidak begini juga. 

Yang sering terjadi kita membandingkan antara keluarga satu dan yang lainnya. Keluarga di sana begitu, hidupnya enak, suaminya perhatian, ekonominya mapan dll., sedangkan kita tidak. Tapi satu hal yang perlu dipahami, setiap atau semua keluarga di dunia ini punya pergumulannya masing-masing. 

Namun apabila kita menghormati Allah ketika kita melihat sisi yang lain yaitu menghargai dan menghormati sesama kita itu harusnya sesuai dengan nilai dirinya bukan karena penampilan, atribut atau performa dirinya. 


#2 Pernikahan adalah menjadikan dua menjadi satu.
Iya betul, menjadikan dua menjadi satu tapi bukan membuat menjadi sama atau seragam tetapi melebur menjadi satu dalam segala aspek. 

Oleh karena yang dua telah menjadi satu, maka tidak ada kata 'perceraian' dalam pernikahan Kristen. 

Dalam Kekristenan denominasi apapun, tidak ada perceraian, itulah yang harus diyakini semua orang Kristen. Jika pun ada masalah dalam pernikahan, selalu pastikan ada solusi terbaik untuk mendamaikan. 

Mari kita baca lagi apa yang tertulis dalam Efesus 5: 22 - 23, tertulis demikian:
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 
Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Pesan ini yang harus dipahami sebagai suami dan istri, sebuah pesan yang penting dalam pedoman hidup berkeluarga. 


#3 Kenakanlah Kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 
Karena celah yang terjadi diantara suami dan istri akan selalu dimanfaatkan iblis. Semua ini terjadi karena membiasakan hal yang biasa. Maksudnya begini, terbiasa diam ketika terjadi masalah antara suami dan istri, ketika terbiasa dengan hal ini, jeda kekosongan ini akan dimanfaatkan iblis untuk semakin membuat suami dan istri tak terhubung satu sama lain. 

Seperti apa yang tertulis dalam Kolose 5: 14 - 15, tertulis demikian:
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 



Pernikahan dunia adalah pernikahan yang fokus pada diri sendiri atau selfies. Sedangkan pernikahan yang sesuai dengan firman Allah itu tidak demikian, tapi pernikahan yang berfokus atau berpusat pada Allah sendiri. 

Pak Pendeta menggambarkan relasi ini dalam SEGITIGA PERNIKAHAN. 

Ilustrasi dibantu disiapkan chatgpt

Kalau suami penuh dengan shalom, maka shalom itu akan melimpah pada istri dan anak-anaknya dan ke semua keluarga besarnya. 

Pusat dari pernikahan Kristen antara suami dan istri harus berpusat pada Allah. Seperti bentuk segitiga, puncak segitiga adalah Allah sendiri, sedangkan sudut kaki segitiga ada suami dan istri. 

Jika suami dan istri keduanya terarah dan fokus pada Allah, maka keduanya akan bertemu pada titik yang sama yaitu Allah. Jadi, tujuan utama suami istri haruslah sama, yaitu Allah, karena hanya Allah lah yang akan menyatukan keduanya. 

Tidak bisa jika hanya salah satunya, misalkan hanya istrinya saja, istrinya sampai pada Allah sedangkan suaminya tidak maka tidak ada kesatuan yang sempurna, begitu pula sebaliknya. Keduanya harus bersama-sama, tetap saling terhubung dalam kesatuan pada Allah sebagai pusat suatu hubungan. 


Hendaklah pria dan wanita, suami dan istri selalu terhubung, dimana dasarnya harus pada kasih Allah. Keterhubungan dengan Allah akan membuat relasi pria dan wanita, suami atau istri ini akan selalu terhubung satu sama lain, karena setiap celah yang ada, adalah jalan masuk untuk iblis berkuasa atas hubungan dan akhirnya akan merusak segalanya, relasi dengan Allah dan relasi dengan pasangan. 


Apa yang saya tuliskan di sini saya sesuaikan dengan refleksi yang saya terima ketika mendengar penyampaian firman oleh Pdt. Otniel Rosa Setiawan. 

Untuk mengetahui secara lengkap bisa mengikuti video streaming dari Ibadah Raya hari itu, bisa klik tautan ini. 

Semoga saya bisa mewujudkan ini, menjadikan sebuah relasi yang terus terhubung. Catatan ini saya tuliskan setelah dua minggu berlalu, dan setelah firman ini kami berdua dengarkan, kami langsung diuji, menciptakan koneksi atau malah sebaliknya. 

Postingan ini saya terbitkan back date, untuk menyesuaikan time line firman ini disampaikan, karena pekan selanjutnya ada firman lain yang akan saya sampaikan, berefleksi dari apa yang saya terima ketika ibadah raya mingguan. 

Semoga kita dimampukan menjadi pasangan yang seturut kehendak 😇🙏👼 Allah. -cpr

#latepost
#onedayonepost
#refleksi
#firman
#iman
#refleksi
#gbis
#youtube

Minggu, 18 Januari 2026

[Firman] Menciptakan Damai dalam Keluarga

Mengawali pekan dipertengahan Januari 2026, saya kembali diberikan pesan firman yang baik, untuk bekal mendirikan keluarga Kristus. 

Firman Tuhan ini disampaikan oleh Ibu Pdm. Trifena Stefanus pada tanggal 18 Januari 2025 dalam ibadah raya ketiga disore hari, pesannya adalah "menciptakan damai dalam keluarga".

Karena memang saat ini banyak permasalahan dimana masalah keluarga jadi bibit awal kehancuran, dimana suami istri dan anak-anak pada akhirnya tercerai berai, tidak ada damai di dalamnya, akhirnya pada memilih jalannya masing-masing. Sedangkan menurut Allah, keluarga yang dibangun itu tidaklah boleh sampai hancur tercerai berai, hanya maut yang memisahkan, tapi bukan hancur tercerai berai. 

Ilustrasi dibuatkan oleh chatgpt

Catatan ini saya sarikan dari firman yang saya terima, masuk melalui telinga dan kemudian saya pahami dengan hati, semoga apa yang saya serap ini sesuai dengan apa yang firman Allah sampaikan melalui Ibu Pdt. sore ini. 

Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus (Roma 5: 1) 

Ada satu hal yang perlu diketahui, bahwa damai itu tidak bisa datang dari luar, melainkan diciptakan dari dalam. 

Damai itu diciptakan oleh keluarga itu sendiri, bukan datang dari luar. 

Dan damai sejahtera itu akan terjadi jika hidup kita dibenarkan. Hidup yang benar menurut Allah, bukan menurut diri kita sendiri. 

Kita yang dibenarkan itu karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah Tuhan kita, oleh karena Yesus Kristus. 

Lalu, dari mana memungkinkan kebenaran itu akan menciptakan Damai? Karena sebenarnya akibat kebenaran itulah akan datang ketenangan dan ketentraman. 

Di mana ada kebenaran  di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya. (Yesaya 32: 17) 

Dimana ada kebenaran maka akan ada ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya. Kebenaran yang datang dari Allah saja, bukan kebenaran dari manusia atau bahkan diri kita yang merasa benar. 

Contoh hidup benar: tidak berkompromi dengan dosa

Lalu bagaimana kita mengatasi konflik yang muncul di dalam keluarga?  

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5: 22 - 23) 

Apabila ada konflik dalam keluarga, yang perlu adalah penguasaan diri, termasuk buah² roh. Ada baiknya juga kita mengalami atau bahkan menghasilkan buah-buah roh itu seperti kasih, sukacita, Damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kesetiaan, kebaikan, kelemah lembutan, dan penguasaan diri. Namun satu hal ketika mengalami konflik dalam keluarga, yang terutama adalah bagaimana kita bisa melakukan penguasaan diri. 


Pasangan hidup akan terus bersama. Tetapi anak belum tentu akan terus perhatian. Sehingga ciptakan hubungan harmonis dengan pasangan, karena pasangan yang akan bersama kita selama-lamanya. 

Apa yang harus kita perbuat demi menciptakan damai itu dalam keluarga? 


#1 Hubungan diantara kita sesama manusia harus didasari ketulusan dan kemurnian yang berasal dari Allah (kasih karunia Allah), bukan dari hikmat duniawi. 

Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah. (2 Korintus 1: 12) 


#2 Lepaskan pengampunan
"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6: 14 - 15) 

Sehingga mengampuni adalah hal terpenting dalam bagian ini dan bagian yang tidak kalah penting dalame menjaga relasi hubungan adalah meminta maaf. Apabila sudah ada permohonan maaf hendaknya kita bisa mengampuni. Malah terkadang pengampunan lahir ketika tidak ada permohonan maaf pada kita.


#3 Jangan berikan tempat pada iblis
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. (Efesus 4: 26 - 27) 

Iblis akan berusaha menghancurkan keluarga Kristen. Karena kita memberi tempat pada iblis. Contoh kemarahan yang membuat dosa: - misalnya marah dengan mengumpat, mengutuk, makian, atau juga menghancurkan. 

Lihatlah sampah: merupakan sisa, kotor, bekas, hal yang bau dan menjijikan. Sampah itu tidak berguna, menimbulkan penyakit, lalat, semua hal yang buruk. Jadi jangan simpan sampah dalam diri kita. Tapi bersihkanlah semua itu dan buanglah ke tempatnya keluar dari diri kita. 

Bangunlah 'mezbah keluarga' dalam keluarga masing². Karena Gereja akan kuat jika dibangun dari keluarga² yang kuat pondasinya. Buat waktu teduh dalam keluarga, berdoa dan membaca firman serta memuji Allah. 


#4 Ciptakan damai dan kejarlah kekudusan (dari pikiran dan perbuatan) 
Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. (Ibrani 12: 14) 

Semua itu dimulai dari pikiran, ketika kita bisa menjaga pikiran kita tetap bersih, kekudusan akan tercipta dan itu akan lahir dalam perbuatan kita, jika sebaliknya maka kekudusan itu tidak akan ada. 


Semoga pesan firman Allah ini bisa meresap dan dipahami serta dilakukan dalam keseharian, jika mau menciptakan damai dalam keluarga inilah yang penting kita pahami dan lakukan. 


Sekian dulu share yang bisa saya bagikan, saya simpan diblog ini, untuk sebagai pengingat. Apabila ingin mengetahui firman ini bisa disaksikan di streaming Ibadah Raya II, 18 Januari 2026 yang ada di Channel YouTube GBIS Hosaana Pandaan, bisa klik link 🔗 ini. 

Sampai jumpa dipostingan lainnya lagi, masih di blog ini, saya akan konsisten menuliskan sesuatu di sini, supaya blog ini terus hidup. -cpr

#onedayonepost
#gbis
#firman
#refleksi
#damaidalamkeluarga

Minggu, 23 November 2025

[Firman] Kita Adalah Milik Kristus

Pekan ini firman Tuhan yang disampaikan melalui hamba-Nya bertemakan "kita ini adalah milik Tuhan". Bagi orang percaya jelas tema ini sudah suatu kepastian.

Ilustrasi, gambar dibantu disediakan oleh ChatGPT


Lalu apa yang membuat itu menjadi pasti? 

Jika kita ini milik Tuhan lalu kenapa terkadang kita sering kali khawatir pada hidup kita? 

Ini akan dijawab, bahwa Tuhan telah berfirman dalam Dia (Yesus Kristus) serta juga melalui murid-murid-Nya. 


Kita ini adalah milik Kristus sudah disampaikan oleh murid-murid-Nya sejak pewartaan mula-mula, seperti yang tertulis dalam Roma 1: 5
Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya, dan taat kepada nama-Nya. 

Di sini ditunjukan bahwa firman-Nya diterima oleh para murid yang kemudian menjadi pedoman untuk menuntun semua bangsa, agar kita semua percaya dan taat kepada nama Yesus. 

Selanjutnya pada Roma 1: 6
Kamu juga termasuk diantara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. 

Disitu tertulis jelas bahwa kita telah dipanggil menjadi milik Kristus. Bukan kita yang memilih-Nya melainkan Dia yang memilih dan memanggil kita. Kita harus percaya itu, dan jangan sekedar percaya saja. Karena kita pun memiliki Kristus dalam diri kita. 

Ada pertanyaan kembali, lalu sebenarnya sejak kapan Tuhan menjadikan kita ini milik-Nya? 

Kita menjadi milik-Nya sejak:  kita percaya, kita bertobat, dan kemudian dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sejak itulah kita menjadi manusia baru,  seperti orang yang dilahirkan kembali. 

Hal ini seperti yang Yesus katakan ketika Dia bertemu dengan Nikodemus, peristiwa ini tercatat dalam Yohanes 3: 3
Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."

Yohanes 3: 5 - 7
Jawab Yesus: ""Aku berkata kepadamu , sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah Roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali."


Pesan Yesus kepada Nikodemus ini dicatat oleh Yohanes dan diketahui juga oleh murid-murid-Nya yang lain, dan mewartakan itu kepada kita saat ini. 

Dalam 1 Petrus 1: 3 disampaikanlah demikian:
"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan"

Karena kita milik Kristus maka kita akan selalu dalam perlindungan-Nya. Kita semua tahu bahwa Yesus Kristus adalah gembala yang baik, tidak ada domba-domba-Nya yang terabaikan oleh -Nya. 

Ada tiga hal yang disampaikan, terangkum dalam 3D, apa saja itu? 

Dipelihara
Terkadang kita hidup selalu dalam kekhawatiran namun melalui murid-murid-Nya, disampaikan agar kita tidak perlu lagi khawatir ketika kita telah bersama Dia. 

Dalam 1 Petrus 5: 7 tertulis demikian
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 

Dalam kitab Mazmur 55: 22 pun menuliskan demikian, dimana kitab ini ditulis sudah lebih dulu sebelum kitab-kitab para rasul Yesus. 
Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.

Dirawat
Tidak hanya dipelihara, tapi kita juga akan dirawat oleh Dia. Hal ini sudah menjadi keyakinan dan kepercayaan umat Allah sebelum jaman Yesus, Nabi Yesaya menuliskannya. 

Seperti tertulis dalam Yesaya 57: 15 tertulis demikian:
Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam dia tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk. 

Seperti tertulis dalam Yesaya 61: 1 tertulis demikian:
Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara. 

Kuasa Allah itu ada untuk merawat kita, jadi kita sebenarnya diingatkan kembali untuk tak perlu khawatir, karena Allah senantiasa merawat kita. 

Dijaga
Kita mengenal Allah kita adalah seorang penjaga, "Tuhan penjaga dan benteng perkasa." Sebuah lirik dari lagu gereja yang sering saya dengar ketika dulu ketika mengikuti Ekaristi, ketika masih menjadi seorang Kristen Katolik. 

Dalam Mazmur 121: 2 - 8, tertulis demikian
Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah. Ia takkan membiarkanmu kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. TUHAN lah Penjagamu, TUHAN lah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masuknya dari sekarang sampai selama-lamanya. 


Dari sini kita bisa memahami bahwa Tuhan akan terus melakukan apa yang disebutkan di atas, Dia akan memelihara, menjaga

Selanjutnya tertulis pula dalam surat murid-Nya kepada jemaat yang digembalakannya, firman tentang bagaimana Tuhan menjaga juga disampaikan  kembali, seperti tercatat dalam 2 Korintus 1: 21 - 22 tertulis demikian:
Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.


Jadi apabila hidup kita sudah menjadi milik Kristus, maka seluruh hidup kita itu ya milik Kristus, tidak bisa setengah². Sehingga jangan sampai kita melakukan sesuatu yang menyakiti-Nya. 

Seperti yang tertulis dalam Galatia 2: 19 - 20, tertulis demikian
Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.


Sudah jelas bukan, bahwa memang benar jika hidup kita ini adalah milik Kristus Yesus, jadi jauh² kanlah kekhawatiran mu daripada mu. 

Catatan ini saya resume sendiri sesuai penangkapan saya, apa yang saya catat ini dari firman  disampaikan oleh Pdm. Trifena Stefanus, pada Ibadah Raya ke-2 pada Minggu, 23-11-2025 di GBIS Hosana, Pandaan. Jika ingin tahu selengkapnya bisa visit ke ini. 

Segitu saja deh refleksi dan renungan firman Allah pada pekan ini, beberapa pekan yang lalu saya sudah menuliskan pokok² firman yang disampaikan pada Ibadah Raya namun saya belum saya resume seperti postingan ini. Nanti ke depan akan saya coba postingkan seperti ini. 

Sampai jumpa dipostingan lainnya lagi, syaloom, Tuhan memberkati kita semua. -cpr

#onedayonepost
#refleksi
#iman
#firman
#ibadahraya
#pdmtrifenastefanus
#gbishosanapandaan