Sore ini saya berkesempatan hadir diperayaan HUT GKRI Mojorejo, Batu yang ke-42, usia yang tak lagi muda, usia jika pada manusia adalah usia² tengah mencapai titik menuju kematangan.
Ini pengalaman kedua saya ikut dalam perayaan ini, tahun lalu saya masih single, tahun ini saya sudah jadi suami dari istri saya, dimana dia merupakan anggota jemaat dari gereja ini sejak kecil, ini adalah gereja masa kecilnya dimana imannya dibangun.
Kalau tahun lalu HUT Gereja dirayakan dihari Minggu, lain kisah ditahun ini dirayakan ditengah Minggu, sehingga punya cerita berbeda bagi panitia yang menyiapkan acara ini. HUT yang tahun lalu saya tak sempat mencatatkannya diblog ini.
Baca juga: Mengenal Sejarah GKRI Lahir
Menariknya perayaan HUT GKRI kali ini dirayakan dibangunan gereja yang baru, dimana dulu gereja berada di lantai satu, dimana terhalang pilar bangunan, kini di tempat yang baru sudah tidak ada lagi pilar, kini sudah seperti gereja pada umumnya.
Nuansa terang dan cerah lebih terasa saat ini dibandingkan dengan dulu ketika gereja masih menempati lantai satu di bawah.
![]() |
| View yang nampak pertama kali saat akan naik tangga menuju gereja di lantai 2 yang sekarang, gereja lama dibagian bawah dimanfaatkan sebagai ruang serba guna #dokpri |
Posisinya masih di tempat yang sama, walaupun beberapa waktu lalu sempat ada isu² gangguan dari pembangunan pusat oleh² Strudle yang dibangun di samping gereja, dimana dinding temboknya dibuat menutupi ornamen salib gereja. Tapi itu tidak menghambat pertumbuhan iman gereja ini.
Meskipun saya melihat geliat dari jemaat gereja ini masih kecil, tapi saya percaya jika semua jemaat mau tumbuh dan besar bersama, gereja ini bisa menjadi besar, setidaknya iman dari para jemaat di dalamnya. Sore ini saya amati, jemaat yang hadir dijam mepet acara ibadah dimulai masih sedikit, tapi perlahan jemaat mulai hadir satu per satu, keluarga demi keluarga. Memang tidak banyak, jemaat GKRI Mojorejo itu bak 'keluarga'. Tapi jangan khawatir akan itu semua, karena sebagai orang percaya kita harus yakin pada janji-Nya seperti yang tertulis di kitab suci dan jadi pegangan bapak gembala GKRI Mojorejo ini yaitu Bpk. Pdt. Suryo Citrowasono, M.Th.
Ayat inilah yang digunakan jadi tema HUT 42 GKRI Mojorejo ini yaitu Yesaya 60: 22 Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, TUHAN, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya. akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya.
Janji Tuhan inilah yang sangat dipegang oleh bapak gembala GKRI Mojorejo Batu. Karena memang satu per satu sejak awal berdirinya GKRI Mojorejo hingga saat ini usia 42 tahun semua memang karena kasih karunia Allah sendiri.
Pada acara HUT ke-42 ini hadir tamu undangan orang² yang dipakai Tuhan dalam membantu berdirinya GKRI Mojorejo Batu di tempat saat ini. Saya lupa siapa saja beliau, ada Pak Wahono dia dulu bertugas sebagai TNI di wilayah kerja daerah Batu, kemudian juga ada mantan anggota DPR yang waktu itu terpilih menjadi wakil rakyat dan beliau juga adalah seorang pendeta di GPdI di wilayah Batu/Malang saya lupa, kemudian ada pula tamu dari perwakilan PGLII, dsb.
Pada ibadah ini disampaikan pula kesaksian tentang kisah berdirinya GKRI Mojorejo Batu, yang sebelumnya tidak saya ketahui pada postingan sebelumnya, link tautan di atas.
Jadi GKRI Mojorejo yang berdiri saat ini, yang saat ini dikenal berada di balik Pusat Oleh-oleh Strudle dulunya atau awal mulanya tidak berdiri di sana, GKRI berpindah-pindah, sempat beberapa kali pindah hingga akhirnya ada saat ini.
Tempat GKRI Mojorejo yang ada saat ini dulunya adalah tempat prostitusi, dulunya di sini dikenal sebagai 'puskesmas', singkatan dari 'pusat kesenangan mas-mas'. Dulunya tempat ini seperti los kamar², remang² untuk bisnis esek². Kemudian oleh pemilik sebelumnya tempat ini dijual dengan harga murah, karena mungkin tidak ada yang mau beli tempat bekas kegiatan prostitusi begitu, akhirnya dibelilah oleh pendiri GKRI Batu karena dana yang serba terbatas hanya mampu membeli tempat di sana.
Ternyata setelah tempat itu dibeli dan direnovasi untuk digunakan sebagai tempat ibadah, tantangan ya tidaklah selesai. Sempat mendapatkan penolakan dan kesulitan dalam pengurusan ijin walaupun sudah mengantongi ijin dari Walikota saat itu. Meskipun ada 'kecerdikan' di sana dimana ijin itu sebenarnya jika ditelaah lebih dalam bukan untuk penggunaan tempat ibadah atau bagaimana gitu, tapi akhirnya dengan ijin tersebutlah bisa disesuaikan dan dikondisikan hingga akhirnya ijin yang lebih lanjut terbit dan permasalahan dengan lingkungan sekitar bisa diselesaikan, hingga akhirnya jemaat GKRI waktu itu bisa beribadah di tempat saat ini.
Hingga akhir 2025 jemaat GKRI Mojorejo masih beribadah di lantai satu, dimana di lantai satu ada pilar² yang kerap menghalangi pandangan ke altar utama. Meski begitu kerinduan jemaat untuk punya tempat ibadah yang proper sudah muncul sejak lama, hingga perlahan, sedikit demi sedikit pembangunan dilakukan, cor dak atas hingga akhirnya di lantai dua tersedia ruang untuk aktivitas ibadah yang lebih proper.
Tahun 2026 ini muncul lagi pergumulan ketika tanah di samping GKRI Mojorejo ini dibeli investor, katanya yang empunya itu artis terkenal bintang utama Cinta Fitri, dia mau membangun toko oleh² besar bergaya farming. Nah sengketanya adalah tanah GKRI itu mau diambil alih juga, untuk dibuat toko itu, tapi untungnya GKRI masih punya hak atas tanah di situ dan si toko oleh² itu gak bisa seenaknya, akhirnya ada tanah 30 m² yang ditukar guling, GKRI akhirnya dapat tanah pengganti dari BPN di sisi yang lainnya lagi.
Tadinya sempat mau dipindah, GKRI yang ada saat ini diberikan ganti tanah di tempat lain. Tapi untungnya GKRI menolak karena tahu betapa sulitnya membangun gereja, jika menuruti apa mau si pemilik modal itu, GKRI akan seperti mulai dari nol, dan kita semua tahu betapa sulitnya mendapatkan ijin rumah ibadah di tempat baru, pasti akan ada penolakan dari warga setempat di tempat baru, itu bukan rahasia lagi tapi jadi wajah masyarakat Indonesia yang takut akan Kristus hadir.
Bahkan toko oleh² ini juga seperti enggan menunjukan bahwa di belakang mereka ada gereja sampai merek habis membangun dinding tinggi untuk menutupi simbol salib gereja.
Baca juga: Mereka yang Takut Akan Salib Kristus
Namun dari pergumulan itu akhirnya GKRI semakin tumbuh, dibantu oleh Allah melalui banyak tangan-Nya, akhirnya ditahun 2026 ini dipertengahan tahun ini tempat ibadah di lantai dua bisa selesai dan bisa digunakan untuk tempat ibadah.
Beruntungnya pula pada akhirnya meski gereja kehilangan tanah di sisi yang lain karena termakan oleh Strudle, tapi melalui BPN gereja dapat kompensasi dan itu sudah sangat disyukuri.
![]() |
| Jemaat gereja yang punya mobil jadinya parkir di sini, secara gak langsung jadi punya parkiran relatif luas #dokpri |
Kini jemaat GKRI hanya tinggal bertumbuh dalam iman, jangan kecil hati meski kecil percaya jika Tuhan bentukan maka akan jadi besar pada akhirnya.
Ibadah berjalan khidmat dan meriah, istri saya malam ini bertugas pelayanan plus jadi MC yang memandu kekasksian di tengah ibadah. Setelah ibadah selesai acara berlanjut ke ramah tamah dan makan malam. Ini pengalaman kali kedua saya, kali pertama saya tidak tuliskan diblog ini, tapi saya ikut karena waktu itu acaranya dihari Minggu dilakukan saat ibadah rutin mingguan. Namun acaranya ya layaknya ibadah biasa. Kebetulan juga hari itu merupakan hari ultah dari Bapak Gembala Sidang, Pdt. Suryo, jadi menambah sukacita.
Saya tidak banyak mendokumentasikan suasana ketika itu, tapi saya ada sedikit oleh-oleh untuk mengenang momen ini, tidak banyak tapi ada.
Oh iya, untuk firman ibadah kali ini disampaikan oleh Pak Titus, apa yang disampaikan bisa mengena dan pas disampaikan pada momen ini: dimana kita diajak untuk selalu bersyukur.
Ketika kita bersyukur itu adalah saat kita flashback mengingat kebaikan² Allah pada kita ; saat kita bersyukur itu juga jadi media untuk kita instropeksi diri dan menyelidiki hati kita dan dengan bersyukur itu kita artinya melangkah ke depan bersama Kristus.
Segitu saja catatan yang bisa saya bagikan pada momen kali ini. Dirgahayu GKRI Mojorejo, semoga terus bertumbuh dalam iman dan jemaat GKRI Mojorejo Batu bisa menjadi besar, tetap jadi terang dan garam ditengah himpitan sosial yang ada saat ini, tetap nampak walau tersembunyi, karena cahaya Kristus itu tidak bisa disembunyikan. Tuhan memberkati kita semua. Amin. -cpr
#onedayonepost
#gkri
#hutgkri
#jurnal





0 komentar: