Jumat, 08 Mei 2026

Refleksi dari Seorang Yudas Iskariot

Pernahkah ada yang mengetahui seseorang yang bernama Yudas Iskariot dijaman saat ini? Atau ada orang tua yang memberikan nama untuk anaknya 'Yudas Iskariot'?
Rasanya ya tidak ada ya, kalau kalian mengetahui ada, mohon dishare di kolom komentar ya. 

Nama itu sudah sangat melekat dengan kata 'pengkhianatan', bukan sekedar pengkhianatan biasa tapi ini benar² mengkhianati guru dan Tuhannya sendiri. 

Ilustrasi, ketika Yesus ditangkap di Taman Getsemani, gambar disiapkan by Gemini

Selama ini kita menyadari dan mengetahui bahwa Yudas menjual Yesus kepada ahli² Taurat Yahudi dengan harga 30 keping perak. Kita menganggapnya selama ini itu hanya motif ekonomi, jika tidak memahami nilai 30 keping perak itu senilai apa? Bagi yang orang awam Kristen atau bahkan mayoritas yang non Kristen pasti menilai motif itu hanya soal uang. 

Tapi ternyata ada refleksi lain yang bisa kita reflektifkan dari peristiwa Yudas mengkhianati Yesus ini. 

Jika menonton serial The Chosen, kisah tentang Yesus yang dibuat lebih panjang, kita bisa mengenal karakter² dari murid-murid Yesus, termasuk Yudas Iskariot. 


Nilai 30 keping perak itu dalam Alkitab, menurut sosial masyarkat Yahudi saat itu, bernilai atau senilai dengan harga seorang budak yang mati ditanduk sapi, iya itu harga tukar guling (baca: ganti rugi) seorang budak itu. 

Nominal yang sangat rendah dan menghina ketika ditimpakan kepada Yesus yang adalah seorang guru, diserupakan dengan seorang budak. 

Seharusnya jika motifnya itu soal uang, finansial, harga yang harusnya ditukar minimal adalah harga seorang guru atau rabi, karena Yesus adalah seorang guru dan rabi, setidaknya itu yang diketahui banyak orang, bahkan ahli² Taurat mengetahui bahwa Yesus kerap disapa guru dan rabi oleh banyak orang 

Nominal yang diperoleh sebagai 'ganti rugi' itu harusnya lebih besar dari yang harga seorang budak yang mati tertusuk tanduk sapi. 


Kita kembali ke film series The Chosen lagi. Kalau kita menonton serial itu, dikisahkan Yudas menjabat sebagai bendahara dari kelompok Yesus. Dimana itu jabatan yang cukup elit, dia mengatur arus kas dan keuangan komunitas. 

Yudas didapuk diposisi itu karena memang dia mampu, itu keahliannya. Namun cara dia (baca: Yudas) mengatur keuangan ini berbeda visi dan misi dengan pelayanan komunitas yang Yesus ciptakan. 

Yudas melihat segala sesuatu ada muatan ekonominya. Karena dalam pelayanan butuh dana, dana ini harus diperoleh dari memutarkan apa yang ada. Sedangkan Yesus tidak ke arah sana, sehingga muncul kekecewaan dalam diri Yudas. Ada konflik perbedaan pandangan ini yang akhirnya membuat munculnya 'kepahitan' dalam diri Yudas. 

Hingga pada akhirnya, Yudas rela menjual Yesis dengan harga 'seadanya'. Karena jika Yudas ingin mengambil keuntungan finansial dari transaksi ini, tentunya harga yang dibayar tidak semurah itu. 


Terkadang kita pun berlaku seperti Yudas, pelayanan selalu diukur atau dibenturkan dengan finansial, bahkan yang lebih parah mencari keuntungan dari hal itu. Ini sebuah kesalahan dan Yesus tidak menginginkan demikian, jika kita tetap memaksakan diri maka kita inilah Yudas² jaman modern, ditambah lagi ketika ada rasa kepahitan yang secara gak sadar menyalahkan Tuhan. 

Bahkan ada pula yang meninggalkan iman, menggadaikan imannya demi keuntungan finansial. Kita bisa amati ini dalam kehidupan sehari-hari, berefleksi dari influencer yang berkecimpung di dunia skincare yang baru² ini terkena kasus 'penipuan' produk skincare yang dia jual. Dulu dia adalah seorang penganut Kristen, tapi kita melihat demi keuntungan finansial tertentu rela menjual imannya untuk dikonversi guna menarik banyak pengikut karena status dia yang pindah agama. Agar bisnisnya makin meroket. Tapi pada akhirnya dia menerima ganjarannya, usaha apa yang dia lakukan ternyata tidak jujur.

Tapi dari sini Tuhan lebih tahu, karena Dia yang memilih kita menjadi pengikut-Nya, jika kita memang tak layak pasti kita akan dilepaskan-Nya. Jika kita memang pantas Dia pilih, sebagaimana sulitnya kita akan terus Dia jaga, terus dibentuk dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi seiring masalah yang dihadapi. 

Percayalah bahwa kita ada hingga saat ini, itu adalah Tuhan yang pilih, bukan kita yang memilih-Nya. Sama halnya Yudas juga awalnya Tuhan pilih, namun pada akhirnya Yudas malah memilih untuk mengingkari dan menyerahkan Tuhannya demi 'membayar' rasa kepahitanya tersebut. 

Kita bisa belajar dari tokoh Alkitab Yudas Iskariot, bukan mencontoh yang buruk tapi memahami hal yang Yudas lakukan itu salah, dan jangan mengulangi kesalahan itu lagi. Entah siapa pun nama yang kamu sandang, hendaklah jangan meniru perilaku Yudas Iskariot. -cpr

#onedayonepost
#refleksi
#yudasiskariot
Previous Post
Next Post

http://bit.ly/cocoper6

0 komentar: